Internasional

Raksasa Properti Tiongkok Mau Kolaps, Ini 2 'Dosa' Besarnya!

Market - Riri Akadafi, CNBC Indonesia
16 September 2021 16:25
FILE PHOTO: Hui Ka Yan, chairman of Evergrande Real Estate Group Ltd, the country's second-largest property developer by sales, attends a news conference on annual results in Hong Kong, China March 29, 2016.      REUTERS/Bobby Yip/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Permasalahan yang menerpa perusahaan properti asal tirai bambu China, Evergrande terus meningkat dalam beberapa minggu terakhir. Perusahaan pengelola aset pun mengungkapkan apa saja kesalahan Evergrande sehingga memicu beban yang besar tersebut.

Terbaru pada Selasa (14/9/2021) puluhan investor melakukan protes dan mendatangi kantor pusat China Evergrande Group di Shenzen. China.

Dilansir dari Strait Times, para investor tersebut mengaku cemas usai perusahaan pengembang yang sedang terlilit utang itu sedang berada di bawah tekanan luar biasa dan kemungkinan tidak dapat memenuhi pembayaran.


Seorang manajer portofolio (fund manager) yang juga Kepala Pendapatan Tetap Matthews Asia, Teresa Kong mengatakan China Evergrande diduga telah melakukan "dua dosa besar" kepada investornya yang berakibat krisis utang.

"Dosa" pertama China Evergrande adalah terlalu banyak meminjam uang, bahkan perusahaan ini disebut menjadi perusahaan properti yang paling banyak memiliki utang di dunia.

"Sementara 'dosa' yang kedua adalah perusahaan diduga memiliki tata kelolaan perusahaan yang buruk," tulisnya, dikutip CNBC International, Kamis ini (16/9).

Pihak Evergrande mengatakan penjualan properti terus memburuk secara signifikan pada bulan ini, hal ini terus memperparah masalah arus kas perusahaan.

Perusahaan-pun telah berjuang untuk mengumpulkan uang dengan mencoba menjual berbagai aset, tetapi itu hal itu belum mampu menyelamatkan kondisi perusahaan.

Apa Efeknya?

Berdasarkan penjualan, China Evergrande adalah perusahaan properti terbesar kedua di China.

Menurut situs perusahaan, Evergrande memiliki lebih dari 1.300 proyek real estat di lebih dari 280 kota di China.

Kong mengatakan adanya protes beberapa hari terakhir oleh pembeli rumah dan investor di berbagai kota di China membuat kesempatan Evergrande untuk terus menjual properti menjadi berkurang.

Dia juga menambahkan kemungkinan investor asing akan menjadi prioritas terakhir, hal ini dikarenakan kebijakan pemerintah China yang menjaga stabilitas sosial, dimana itu berarti mengutamakan pembeli rumah terlebih dahulu.

Oleh karena itu Kong mengingatkan investor asing harus memahami risiko ini dan harus melihat beberapa jenis amandemen dan perpanjangan pembayaran. Hal ini berarti investor mungkin akan menerima pembayaran usai dipotong atau kupon mereka akan dibayar di kemudian hari.

Menurut data Refinitiv Eikon, Evergrande memiliki enam obligasi yang jatuh tempo tahun depan dan 10 obligasi jatuh tempo pada 2023, dari total 24 obligasi yang telah diterbitkan.

Obligasinya juga termasuk dalam berbagai indeks imbal hasil tinggi Asia. Pada tahun ini saja saham Evergrande di Bursa Hong Kong telah anjlok hampir 80% tahun.

Saat ini, Hui Ka Yan atau Xu Jiayin merupakan pemilik mayoritas saham Evergrande Group, dengan kepemilikan sahamnya mencapai 9,3 miliar saham atau 70,72% dari total saham, berdasarkan data dari Refinitiv.

Pria berusia 62 tahun tersebut juga memimpin sebagai Chairman of the Board of Directors sekaligus Direktur Eksekutif Evergrande Group.

Per Rabu (15/9), total kekayaan Hui Ka Yan mencapai US$ 11,5 miliar atau setara Rp 164 triliun (kurs Rp 14.300/US$).

Hui berada di posisi ke 53 dari daftar orang terkaya di dunia versi Forbes. Sementara di China, saat ini kekayaan Hui berada di posisi ke 10.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading