Nahas! Terseret Megaskandal Asabri, Saham BCIP Nyaris Gocap

Market - Putra, CNBC Indonesia
15 September 2021 14:55
Ilustrasi Gedung Asabri (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia- Tim Penyidik pada Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkapkan sejumlah modus yang dilakukan para tersangka baru terkait Perkara Dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dalam Pengelolaan Keuangan dan Dana Investasi oleh PT Asabri (Persero).

Ketiga tersangka baru yang ditetapkan pada Selasa malam (14/9) yakni Edward Seky Soeryadjaya(EES/THS) selaku wiraswasta yang juga mantan Direktur Ortos Holding Ltd), Bety(B) selaku mantan Komisaris Utama PT Sinergi Millenium Sekuritas (eks PT Milenium Danatama Sekuritas), danRennier A R Latief(RARL), President CommisionerPT Sekawan Inti Pratama.

Dalam pernyataan resmi Kejagung yang disampaikan Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak, memang terungkap sejumlah modus yang dilakukan para tersangka baru ini dalam memoles investasi Asabri.


Leonard, berdasarkan keterangan hasil pemeriksaan, juga mengungkapkan sejumlah saham-saham di BEI yang menjadi sorotan karena ditangani oleh para tersangka baru ini.

Tercatat beberapa nama emiten terpaksa terseret dalam kasus ini dan nasibnya emiten tersebut saat ini 'tragis'.

Pertama, saham pertama yang disebut yakni PT Sekawan Inti Pratama dimana Sekawan sempat tercatat di BEI dengan kode saham SIAP, tapi kemudian BEI resmi menghapus pencatatan efek saham SIAP alias delisting pada Senin (17/6/2019).

Selanjutnya emiten lainnya yang ikut terseret adalah PT Sugih Energy Tbk (SUGI).

Nasib SUGI memang tidak separah SIAP yang sudah di-delisting akan tetapi SUGI sudah disuspensi oleh regulator selama hampir 2 tahun atau sejak tahun 2019. Bahkan sebelum disuspensi, SUGI sudah ambruk ke level terendahnya yakni Rp 50/unit alias gocap.

Terakhir, muncul nama emiten PT Bumi Citra Permai Tbk (BCIP) yang nasibnya meskipun 'ngenes' jauh lebih baik karena masih diperdagangkan dan tidak jatuh ke level gocap.

Tercatat pada perdagangan hari ini BCIP diperdagangkan di harga Rp 62/unit terkoreksi 4,62% dari hari sebelumnya dengan transaksi yang cukup sepi yakni hanya Rp 1 miliar dan berkapitalisasi pasar mini Rp 88 miliar.

Meskipun masih dapat diperdagangkan, harga saham BCIP sudah ambruk jauh di mana selama 3 tahun terakhir sudah turun 25,30% sedangkan seha tahun berjalan sudah ambruk 17,33%.

Adapun dalam keterangan resmi, Leonard dari Kejagung menjelaskan bahwa tersangka B (Bety) selaku pengendali saham BCIP menawarkan saham BCIP kepada Asabri melalui IWS (salah satu tersangka Asabri, Kepala Divisi Investasi Asabri periode 2012-2017, dan sudah meninggal dunia 31 Juli 2021).

"Saat itu IWS bersepakat dengan B bahwa Asabri akan membeli saham BCIP dengan catatan apabila mengalami penurunan harga maka B harus membeli kembali saham tersebut atau menggantinya dengan saham yang lebih bagus," kata Leonard, dalam siaran persnya.

Pembelian perdana saham BCIP dilakukan pada tahun 2014 dan berlanjut sampai dengan tahun 2017 tanpa adanya penawaran dari emiten BCIP dan tanpa dilakukan analisa atas saham BCIP oleh Divisi Investasi Asabri, dalam melakukan transaksi saham BCIP dilakukan melalui pasar negosiasi.

Bahwa pembelian saham BCIP dilakukan pada saat harga tinggi baik langsung dibeli untuk menjadi underlying portofolio saham Asabri maupun dibeli langsung oleh reksa dana-reksa dana/manajer investasi yang mengelola investasi Asabri atau dijual terlebih dahulu kepada pihak ketiga (Atrium Asia Capital Partners Pte Ltd) kemudian pihak ketiga menjual kembali secara negosiasi kepada reksa dana/manajer investasi yang mengelola investasi Asabri.

Lebih lanjut, kata Leonard, pada tahun 2017 ketika Saham BCIP mengalami penurunan harga kemudian Asabri memindahkan saham BCIP dari portofolio saham Asabri menjadi underlying Reksa Dana Millenium Balanced Fund dan Reksa Dana MAM Dana Berimbang Syariah dengan menggunakan harga perolehan atau lebih tinggi dari harga perolehan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading