Kena Profit Taking, Saham Nikel Ambles Berjamaah

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
13 September 2021 09:45
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten nikel kompak melemah pada awal perdagangan pagi ini, Senin (13/9/2021). Para investor tampaknya mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah saham nikel cenderung menguat selama 2 hari terakhir di pekan lalu.

Berikut pergerakan saham nikel, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.26 WIB.

  1. Pelat Timah Nusantara (NIKL), -2,75%, ke Rp 1.060/saham, transaksi Rp 354 juta


  2. PAM Mineral (NICL), saham -2,30%, ke Rp 85/saham, transaksi Rp 2 M

  3. Aneka Tambang (ANTM), -1,16%, ke Rp 2.560/saham, transaksi Rp 103 M

  4. Timah (TINS), -0,98%, ke Rp 1.520/saham, transaksi Rp 6 M

  5. Vale Indonesia (INCO), -0,97%, ke Rp 5.100/saham, transaksi Rp 7 M

  6. Harum Energy (HRUM), -0,95%, ke Rp 5.225/saham, transaksi Rp 6 M

Menurut data di atas, saham NIKL menjadi yang paling melorot, yakni 2,75% ke Rp 1.060/saham. Dengan ini, dalam sepekan saham NIKL masih naik 3,43%, sementara dalam sebulan turun 0,47%.

Kedua, saham NICL yang turun 2,30% ke Rp 85/saham. Dalam sepekan saham ini ambles 16,67%, sementara dalam sebulan anjlok 33,59%.

Di bawah NICL, saham emiten pelat merah ANTM terkoreksi 1,16% ke Rp 2.560/saham. Kendati turun, dalam sepekan saham ANTM masih melejit 7,98%, sementara dalam sebulan melonjak 7,98%.

Keempat, saham TINS yang merosot 0,98% ke Rp 1.520/saham. Dalam seminggu saham TINS masih naik tipis 0,66%, sedangkan dalam sebulan melemah 0,33%.

TINS berhasil mencetak laba bersih senilai Rp 270,05 miliar pada semester pertama tahun ini.

Perolehan ini berkebalikan dari periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencatatkan kerugian sebesar Rp 390,07 miliar.

Mengacu publikasi laporan keuangan perusahaan, TINS mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 27% dari Rp 8,03 triliun menjadi Rp 5,87 triliun. Namun, perolehan EBITDA meningkat menjadi Rp 1,04 triliun dari sebelumnya Rp 348 miliar.

Sebelumnya, selama seminggu, harga nikel dunia terapresiasi 4,01% ke posisi US$ 20.410/ton, usai mencetak reli kenaikan 3 hari beruntun. Dengan ini, harga nikel dunia pada per perdagangan Jumat pekan lalu sudah melampaui US$ 20.000/ton. Terakhir harga nikel mencapai level tersebut adalah pada 2014.

Cadangan nikel saat ini terus menipis. Per 9 September 2021, cadangan nikel di gudang LME (London Metal Exchange) tercatat 181.368 ton. Turun 23% dibandingkan cadangan 9 September 2020. Secara rata-rata cadangan nikel pada September 2021 turun 24.86% point-to-point dibandingkan cadangan awal tahun ini.

Saat persediaan menipis, permintaan nikel untuk baterai mobil listrik malah melonjak. Penjualan mobil listrik dunia pada semester-I 2021 meroket 160% year-on-year (yoy).

Penjualan mobil listrik yang meroket menular ke permintaan baterai mobil listrik. Berdasarkan EV Metal Index, nilai logam baterai mobil listrik pada Juni 2021 naik 237% yoy. Dibandingkan bulan sebelumnya, nilai logam baterai mobil listrik naik 36%.

Artinya produksi logam baterai mobil listrik pada semester-I 2021 meningkat pesat dibandingkan 2020. Sebagai informasi, EV Metal Index adalah indeks yang mengukur nilai logam yang digunakan untuk membuat baterai mobil listrik di seluruh dunia.

Nah, nikel adalah salah satu unsur logam yang terdapat pada pembuatan baterai mobil listrik. Jadi, produksi baterai mobil listrik akan meningkatkan konsumsi alias permintaan nikel dunia dan tentunya berdampak positif bagi laju harga nikel.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading