Review

Ngebet Saham ANTM-INCO cs? Cek Ini Dulu Biar Gak Nyesel

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
13 September 2021 06:41
Foto: Dok ANTAM

Berdasarkan riset yang dipublikasikan 30 Agustus lalu, analis Mirae Asset Juan Juan Harahap memberikan proyeksi dan rekomendasi atas saham emiten nikel, terutama Antam.

Menurut dia, salah satu katalis terbesar sektor ini adalah pertumbuhan yang kuat di industri EV atau kendaraan listrik.

Pada tahun 2020, penjualan EV mencatat kenaikan menjadi 2,3 juta unit, dibandingkan tahun 2010 sebesar 9,8 ribu unit. Data yang dia kutop yakni dari International Energy Agency IEA yang menyebutkan bahwa penjualan mobil listrik global akan terus meningkat di masa mendatang.


Pada tahun 2030 diperkirakan akan meningkat menjadi 22 juta unit, atau 850,9% dibandingkan angka tahun 2020. Hal ini didukung oleh komitmen beberapa negara untuk mengurangi emisi karbon, dan ekspektasi tren penurunan harga mobil listrik di masa mendatang.

Mengenai tren EV, katanya, pemerintah Indonesia akan memulai industri baterai EV terintegrasi di Indonesia. Indonesia telah membentuk konsorsium empat perusahaan milik negara yang disebut Indonesia Battery Corporation (IBC).

IBC dibentuk untuk mengelola industri EV di Indonesia termasuk produksi hulu hingga hilir bahan kimia dan mineral yang digunakan dalam produksi baterai serta produksi baterai itu sendiri.

Keempat BUMN itu yakni Holding BUMN Tambang MIND ID (PT Inalum, induk usaha Antam) PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero) dan Antam.

"Kami memberikan bobot overweight pada sektor pertambangan logam di Indonesia. Kami percaya permintaan nikel masih menjanjikan di masa depan mengingat permintaan yang kuat di sektor baja nirkarat mentah [stainless steel], lambatnya pemulihan produksi nikel pada tahun 2021, dan potensi permintaan yang besar dari sektor EV," jelasnya.

Menurut dia, Mirae Asset lebih memilih ANTM sebagai pilihan utama karena mempertimbangkan beberapa hal, di antaranya margin yang lebih tinggi pada segmen emas terkait dengan penjualan domestik yang lebih tinggi dan potensi tambahan pendapatan dari proyek smelter Halmahera.

Alasan berikutnya yakni Antam punya lebih banyak eksposur pada proyek IBC. Sementara itu, INCO masih mengharapkan produksi yang lebih rendah pada tahun 2021 sebesar 64.000 ton (-14,2% Year on year/YoY), karena perusahaan melakukan perawatan rutin pada 1Q21.

Namun risiko atas bobor ini akan ditekan dua hal, yakni harga nikel global yang lebih rendah dan perubahan regulasi.

Stainless steel

Juan juga memaparkan potensi permintaan nikel untuk keperluan baja tahan karat (stainless steel). Baja tahan karat merupakan kontributor utama penggunaan nikel pada tahun 2020, dengan kontribusi sekitar 63% dari total penggunaan nikel dunia.

"Kami berpikir bahwa produksi baja nirkarat mentah global dapat meningkat menjadi 55 juta ton (+7,8% YoY) pada tahun 2021, mengingat aktivitas yang kuat karena pabrik baja China telah menanggapi permintaan domestik yang kuat, didorong oleh stimulus pemerintah dan melonjaknya harga baja nirkarat," katanya.

Dari sisi penawaran, jelasnya, China mencatat penurunan persediaan nikel menjadi 22.000 ton (-41,6% QoQ; -73,7% YoY) di 2Q21, menjadi persediaan terendah sejak 2018.

Terkait hal tersebut, aktivitas impor nikel China tercatat meningkat di 2Q21 menjadi 55.000 ton (+72,0% QoQ; +45,4% YoY).

"Dengan demikian, kami memperkirakan peningkatan lebih lanjut dalam kegiatan impor nikel sejalan dengan potensi peningkatan kegiatan industri dan juga rendahnya persediaan bijih nikel China," jelasnya.

Dia memaparkan bahwa menurut data awal yang dirilis oleh US Geological Survey (USGS), produksi nikel global merosot menjadi 2,5 juta ton pada tahun 2020 (-4,2% YoY).

Indonesia masih mempertahankan menjadi produsen nikel terbesar dengan produksi 760.000 ton.

"Kami mencatat bahwa Indonesia menerapkan larangan ekspor bijih nikel yang belum diproses pada tahun 2020 untuk mendorong pengembangan rantai nilai tambah di industri nikel."

"Perhatikan bahwa permintaan nikel global meningkat menjadi 720.000 ton (+17,0% Quarter to Quarter/QoQ; +31,9% YoY), melampaui produksi nikel global pada 2Q20 sebesar 674.000 ton (+9,4% QoQ; +18,4% YoY). Dengan demikian, pasar nikel saat ini mengalami defisit sebesar 46.000 ton, dibandingkan dengan surplus sebesar 1.000 ton pada 1Q20," katanya.

Sebab itu, Juan memperkirakan defisit nikel akan meningkat menjadi 75.000 ton karena kerugian produksi masih bertahan di tahun 2021, sementara sudah ada tren pemulihan permintaan yang didukung oleh aktivitas ekonomi global yang lebih tinggi.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
HALAMAN :
1 2
Artikel Selanjutnya

'Disiram' Kabar Baik Ini, Saham ANTM-INCO dkk Babak Belur!

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading