Saham Turun, Emas Anjlok, Bitcoin Jeblok! Pertanda Apa Ini?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
12 September 2021 10:45
Laju bursa saham domestik langsung tertekan dalam pada perdagangan hari ini, Kamis (10/9/2020) usai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan akan memberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai Senin pekan depan.

Sontak, investor di pasar saham bereaksi negatif. Indeks Harga Saham Gabungan anjlok lebih dari 4% ke level 4.920,61 poin. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih Rp 430,47 miliar sampai dengan pukul 10.18 WIB.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kejadian langka terjadi di pekan ini, aset berisiko aset aman hingga aset spekulatif kompak ambrol. Hal ini tentunya menimbulkan pertanyaan, apa yang terjadi dengan pasar finansial global?

Dimulai dari pasar saham, Wall Street mencatat penurunan tajam. Ketiga indeks utama di bursa saham Amerika Serikat (AS) mencatat kinerja negatif. Indeks S&P 500 merosot 1,69%, Dow Jones bahkan lebih besar lagi 2,15%, dan Nasdaq minus 1,6%.

Jebloknya kiblat bursa saham dunia tersebut sudah cukup menggambarkan mayoritas bursa saham di dunia mengalami pelemahan. Indeks DAX 30 Jerman dan FTSE 100 masing-masing turun 1,09% dan 1,53%. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,52%.


idr

Ketika aset-aset berisiko rontok, aset aman (safe haven) biasanya akan menguat. Tetapi, di pekan ini emas yang merupakan aset safe haven malah ambrol lebih dari 2% ke US$ 1.787,34/troy ons.

Mata uang kripto yang sedang naik daun pun mayoritas jeblok. Bitcoin yang digadang-gadang sebagai emas digital atau yang kontra menyebutkanya sebagai produk spekulatif semata juga jeblok lebih dari 10% dalam sepekan. Padahal pada Senin lalu bitcoin sukses kembali ke atas US$ 50.000/koin.

Lantas, kemana duit para investor pindah?

Jika dilihat, indeks dolar AS di pekan ini menguat 0,59% ke 92,582, kemudian yield obligasi AS (Treasury) tenor 10 tahun naik 1,71 basis poin ke 1,342%.

idr

Melihat penguatan keduanya, kemungkinan besar pelaku pasar bersiap menghadapi tapering bank sentral AS (The Fed).

Tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) pernah terjadi di tahun 2013. Kebijakan tersebut memicu lonjakan yield Treasury dan penguatan tajam dolar AS. Aliran modal keluar dari negara emerging market dan kembali ke Amerika Serikat, pasar finansial global pun bergejolak yang disebut dengan taper tantrum.

Tapering bukan sekedar isu. Ketua The Fed Jerome Powell sudah menyatakan langsung jika tapering akan tepat dilakukan di tahun ini. Ia sepakat dengan koleganya di The Fed, tetapi masih belum ada kepastian kapan tapering akan dilakukan.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Pasar Cemas Perekonomian Global Nyungsep

Pasar Cemas Perekonomian Global
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading