Analisis

Fenomena Sell Off Mata Uang di Depan Mata, Rupiah Keok?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
09 September 2021 06:50
Ilustrasi Uang

Jakarta, CNBC Indonesia - Kurs rupiah akhirnya melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu kemarin (8/9/2021) setelah membukukan penguatan 4 hari beruntun.

Pelemahan rupiah ini bersamaan dengan rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang turun dan menandakan masyarakat Indonesia yang semakin tidak percaya diri dalam menatap ekonomi. Turunnya IKK membuat rupiah yang sebelumnya tertekan akibat 'taper tantrum mini' melemah cukup dalam.

Begitu bel perdagangan berbunyi, rupiah langsung melemah 0,14% ke Rp 14.230/US$.


Depresiasi Mata Uang Garuda kemudian makin tebal hingga 0,42% di Rp 14.370/US$. Mengacu data Refinitiv, di akhir perdagangan sore kemarin, rupiah berada di Rp 14.250/US$ melemah 0,28% di pasar spot.

Masyarakat Indonesia semakin tidak pede menghadapi situasi ekonomi saat ini dan beberapa bulan ke depan. Hal in tercermin dari Survei Konsumen yang digelar Bank Indonesia. Pada periode Agustus 2021, IKK berada di 77,3, turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 80,2.

IKK menggunakan angka 100 sebagai ambang batas. Jika di bawah 100, maka artinya konsumen pesimistis memandang prospek perekonomian saat ini hingga 6 bulan mendatang.

Polling Reuters soal mata uang emerging, 8 September 2021Foto: Polling Reuters soal mata uang emerging, 8 September 2021
Polling Reuters soal mata uang emerging, 8 September 2021

Waspada Rupiah

Terkait dengan rupiah dan mata uang emerging market (EM, negara berkembang) yang memiliki imbal hasil tinggi diperkirakan akan mengalami volatilitas yang tinggi, serta aksi jual (sell off) dalam 3 bulan ke depan.

Sebabnya, bank sentral Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan Federal Reserve (The Fed) yang akan melakukan tapering.

Reuters mengadakan survei pada periode 30 sampai 2 Agustus, mayoritas mengatakan pelemahan dolar AS hanya bersifat sementara, sebab ketika The Fed resmi melakukan tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) maka hal itu akan mendorong kenaikan yield obligasi AS (Treasury).

Sebanyak 84% dari 57 analis yang disurvei mengatakan volatilitas akan meningkat 3 bulan ke depan. Sementara itu sebanyak 55% dari 58% analis mengatakan sell off mata uang emerging market mungkin akan terjadi, dan 3% mengatakan sangat mungkin.

Tapering pernah terjadi pada tahun 2013, saat itu pasar finansial global bergejolak yang disebut taper tantrum. Yield (imbal hasil) obligasi AS (Treasury) kala itu naik tajam, aliran modal keluar dari negara emerging market menuju Amerika Serikat, dolar AS menjadi sangat perkasa, aset-aset lain rontok.

Selasa lalu (7/9), terjadi "taper tantrum mini". Yield Treasury tenor 10 tahun melesat lebih dari 5 basis poin ke 1,3766% yang merupakan level tertinggi sejak pertengahan Juli lalu. Alhasil, indeks dolar AS melesat 0,52%, artinya the greenback menguat cukup tajam.

Bursa saham AS (Wall Street) pun terpuruk. Harga emas dunia ambrol hingga 1,6%, bitcoin bahkan ikut jeblok hingga 10%.

"Taper tantrum mini" tersebut akhirnya membuat rupiah melemah pada perdagangan Rabu kemarin.

"Kami tidak setuju dengan yang percaya posisi emerging market saat ini lebih tahan banting ketimbang taper tantrum 2013," kata Rob Subbaraman, kepala ekonom di Nomura, sebagaimana dilansir Reuters.

NEXT: Apa Kata Chatib Basri dan Apa Langkah BI?

Apa Kata Chatib Basri dan Langkah BI?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading