Analisis

'Perang' Bisnis Data Center: Salim, Sinarmas, Lippo, Telkom!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
08 September 2021 08:51
Data Center data centre (Reuters)

Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan bisnis data center (pusat data) yang dibekingi konglomerasi raksasa tampaknya bakal semakin ketat, setelah Grup Sinarmas, melalui emiten propertinya, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) ikut masuk ke 'gelanggang'.

Catatan saja, data center adalah fasilitas yang digunakan perusahaan untuk melengkapi aplikasi dan data penting mereka. Secara sederhana, data center dirancang berdasarkan jaringan penyimpanan dan sumber daya komputasi yang memungkinkan transfer aplikasi dan data bersama.

Sebelum BSDE, sejumlah emiten Tanah Air sudah 'menceburkan' diri ke bisnis yang prospektif ini. Sebut saja, duo emiten yang notabene memang berbisnis jasa data center milik pengusaha Toto Sugiri--dan sebagian sahamnya juga dikuasai Bos Indofood Anthoni Salim--PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dan PT Indointernet Tbk (EDGE).


Kemudian, menyusul DCII dan EDGE, emiten telekomunikasi pelat merah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan Grup Lippo, yang masuk lewat PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), anak usaha PT Multipolar Tbk (MLPL).

Lantas, bagaimana peta kekuatan kelima emiten tersebut di bisnis data center?

Di bawah ini, Tim Riset CNBC Indonesia akan membahas secara ringkas kekuatan bisnis kelima emiten di atas.

Sebenarnya, baru tiga emiten yang benar-benar sudah memiliki lini bisnis data center, yakni DCII, EDGE, dan TLKM. Sementara, dua emiten sisanya masih dalam tahap penjajakan.

Menurut riset Mordor Intelligence pada 2020, setidaknya ada lima perusahaan yang menjadi pemain utama di bisnis pusat data di Indonesia, yaitu Telkomsigma, DCII, NTT Communications Corporation, GTN Data Center, dan Omadata Padma Indonesia.

Asal tahu saja, Telkomsigma (PT Sigma Cipta Caraka) dimiliki oleh TLKM lewat PT Multimedia Nusantara (TelkomMetra) yang diakuisisi sejak 2010.

Mari kita bahas satu per satu dimulai dari DCII.

DCII

DCI Indonesia berdiri pada 18 Juli 2011 sebagai pusat data Tier IV pertama di Asia Tenggara dan memulai kegiatannya secara komersial pada tahun 2013.

Perusahaan ini bergerak di bidang industri penyedia jasa aktivitas hosting dan aktivitas terkait lainnya seperti jasa pengolahan data, web-hosting, streaming, aplikasi hosting dan penyimpanan cloud computing.

Selain itu, DCI Indonesia juga terutama menyediakan jasa colocation, yaitu penyediaan tempat untuk menyimpan atau menitipkan server pelanggan dengan standar keamanan fisik dan infrastruktur, seperti kestabilan arus listrik dan kontrol udara.

DCI sendiri adalah pusat data yang sengaja dibangun dengan total lahan 8.5ha. Manajemen berencana untuk terus memiliki lebih banyak gedung dengan total daya 300 MW (megawatt).

Menurut pemaparan materi paparan public (public expose) pada 7 Juni lalu, DCI menjadi pemimpin pasar (market leader), yakni 51% dari pangsa pasar data center colocation di Tanah Air.

Kabar teranyar, saat ini, DCII juga tengah membangun kawasan data center di Karawang, Jawa Barat.

Pembangunan gedung ini telah dimulai sejak kuartal IV 2020. Dengan dilakukannya topping off ini menandai bahwa kegiatan konstruksi memasuki tahap akhir dan diperkirakan selesai pada kuartal IV 2021.

Gedung ini memiliki 10 lantai dengan enam lantai di antaranya ruang data dengan total kapasitas 3.000 rack serta kapasitas total daya listrik 15 MW.

Mengenai kinerja terbaru, laba bersih DCII naik 35,09% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 110,62 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 81,89 miliar.

Seiring dengan meningkatnya laba bersih, pendapatan usaha DCI Indonesia juga tumbuh 3,68% secara yoy dari Rp 361,93 miliar pada triwulan II 2020 menjadi Rp 375,23 miliar pada periode yang sama tahun ini.

Lebih rinci, pendapatan DCI banyak disumbang dari pos jasa colocation, yakni sebesar Rp 350,82 miliar pada kuartal kedua 2021. Sementara, pendapatan lain-lain tercatat sebesar Rp 24,41 miliar.

Sebagai informasi, jasa colocation adalah penyediaan tempat untuk menyimpan atau menitipkan server pelanggan dengan standar keamanan fisik dan infrastruktur, seperti kestabilan arus listrik dan kontrol udara.

NEXT: Masih Ada Telkom hingga Lippo

Simak Kekuatan EDGE, TLKM, MLPT & BSDE!
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading