Saham TINS-ANTM-INCO Melesat Saat IHSG Merah

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
31 August 2021 09:39
A worker uses the tapping process to separate nickel ore from other elements at a nickel processing plant in Sorowako, South Sulawesi Province, Indonesia March 1, 2012. REUTERS/Yusuf Ahmad

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham emiten tambang nikel menguat, di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan hari ini, Selasa (31/8/2021).

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), setelah sempat naik ke 6.158,070 sesaat bel pembukaan berbunyi, 11 menit kemudian IHSG turun 0,28% ke 6.127,973 dengan nilai transaksi mencapai Rp 950,28 miliar dan volume perdagangan 2,27 miliar saham.

Berikut pergerakan saham-saham nikel:


  1. Timah (TINS), saham +3,41%, ke Rp 1.515, transaksi Rp 20 M

  2. Aneka Tambang (ANTM), +1,30%, ke Rp 2.340, transaksi Rp 33 M

  3. Pelat Timah Nusantara (NIKL), +1,00%, ke Rp 1.015, transaksi Rp 178 juta

  4. Vale Indonesia (INCO), 0,99%, ke Rp 5.125, transaksi Rp 10 M

Saham emiten pelat merah TINS menjadi yang paling menguat dengan kenaikan 3,41% ke Rp 1.515/saham. Dengan ini, saham TINS berhasil melanjutkan kenaikan 2,09% pada Senin kemarin, setelah tersungkur di zona merah selama 3 hari beruntun.

Dalam sepekan saham ini naik 3,78%, sementara dalam sebulan anjlok 9,31%.

Kabar terbaru, TINS sedang melakukan penjajakan dengan salah satu perusahaan Eropa untuk menggarap "harta karun" super langka yang menjadi incaran banyak negara.

"Harta karun" super langka tersebut adalah logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element. Banyak negara yang mengincar LTJ karena dibutuhkan untuk bahan baku berbagai perlengkapan berteknologi canggih.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Perusahaan PT Timah Abdullah Umar Baswedan.

"Eropa," ucapnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (26/08/2021), saat ditanya dari mana calon mitra PT Timah Tbk untuk menggarap logam tanah jarang.

Akan tetapi, pihaknya belum bersedia menyampaikan nama perusahaan asal Eropa yang berpotensi menjadi mitra PT Timah untuk menggarap "harta karun" super langka ini.

"Maaf saya belum bisa share (nama perusahaannya)," lanjutnya.

Sementara, saham emiten pelat merah lainnya, ANTM juga terapresiasi 1,30%, melanjutkan kenaikan 2,21% pada Senin. Dalam sepekan saham ini naik 2,64%, sementara dalam sebulan merosot 7,54%.

Setali tiga uang, saham NIKL dan INCO juga berhasil mencuat, masing-masing sebesar 1,00% dan 0,99%.

Asal tahu saja, pada umat (27/8) harga komoditas nikel kontrak 3 bulan di London Metal Exchange (LME) berhasil naik 30 poin menjadi US$ 18.889/ton dibandingkan hari sebelumnya. Sementara, dalam sepekan terakhir harga nikel naik 1,90%.

Sentimen positif yang masih menjadi katalis pendorong saham-saham nikel adalah terkait proyek komponen baterai kendaraan listrik yang masih terus menjadi fokus pemerintah.

Cita-cita ini menjadi kian nyata dengan adanya sejumlah proyek pengolahan dan pemurnian (smelter) komponen baterai, tepatnya smelter nikel berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), tengah dibangun di Indonesia.

Tak main-main, total investasi untuk enam proyek bahan baku komponen baterai di Tanah Air ini diperkirakan mencapai US$ 6,25 miliar atau sekitar Rp 91 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$).

Sejurus dengan itu, pemerintah juga telah memutuskan untuk menghentikan ekspor bahan mentah nikel sejak tahun lalu untuk fokus pada hilirisasi nikel dalam negeri.

Kabar teranyar, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut bahwa dihentikannya ekspor bahan mentah untuk nikel sejak 1 Januari 2020 telah menunjukkan hasil positif bagi perekonomian negeri ini.

Dia menyebut, ekspor besi baja dalam paruh pertama tahun ini telah menembus US$ 10,5 miliar atau sekitar Rp 152 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$).

Hal tersebut dikemukakan Jokowi saat memberikan pengarahan dalam Sarasehan 100 Ekonom dengan tema Penguatan Reformasi Struktural Fiskal dan Belanja Berkualitas di Tengah Pandemi yang digelar INDEF dan CNBC Indonesia secara virtual, Kamis (26/8/2021).

"Hilirisasi, sudah kita mulai stop ekspor bahan mentah nikel, kemudian semuanya harus dihilirisasi. Hasilnya, mulai kelihatan. Ekspor besi baja kita, dalam setengah tahun ini sudah berada sekitar US$ 10,5 miliar," ungkap Jokowi.

Dia mengatakan, dengan suksesnya hilirisasi nikel saat ini, maka dirinya akan mendorong hilirisasi komoditas lainnya, seperti bauksit, emas, tembaga, hingga minyak sawit (CPO).

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading