Asing Obral Saham Bukalapak Triliunan & Investor Ritel Teriak

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
15 August 2021 08:40
Bukalapak (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham domestik dihebohkan dengan kejatuhan harga PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) yang menyebabkan investor ritel merugi banyak dan bereaksi keras.

Data BEI mencatat di hari kelima situs lokapasar Bukalapak.com melantai di bursa, harga saham BUKA masih terkoreksi 1,04% ke level Rp 955/unit setelah 2 hari sebelumnya sudah ambles ke level auto reject bawah (ARB) dengan koreksi 6,76%.

Padahal, pada hari pertama perdagangannya, pada Jumat (6/8/2021) saham BUKA terbang mencapai harga auto reject atas (ARA) dengan kenaikan 24,71% ke harga Rp 1.060/unit dari harga pembukaannya di Rp 850/unit dengan antrian beli yang sempat menembus angka 25 juta lot.


Kemudian, pada perdagangan hari kedua juga sempat mengalami ARA namun aksi jual yang cukup besar terjadi sepanjang perdagangan. Sehingga saham ini harus berpuas untuk finis pada posisi apresiasi 4,72% di Rp 1.110/saham.

Dengan koreksi pada perdagangan hari Jumat, maka apabila investor membeli saham di level ARA pada hari kedua yakni di harga Rp 1.325/unit artinya sang investor sudah merugi 28%. Apabila anda berinvestasi di BUKA di harga pucuk senilai Rp 100 juta, maka anda harus menerima kenyataan pahit merugi floating loss Rp 28 juta.

Harga saham yang turun ini membuat investor ritel yang 'tersangkut' dan terlanjur membeli di harga atas tak puas, bahkan mengamuk karena merasa telah rugi membeli sahamnya.

Kekecewaan ini diungkapkan para investor melalui pemberianratingdan komentar aplikasi Bukalapak di Playstore.

Akun Android Burhani Sulthon memberikanrating1 bintang dan komentar, "Salam nyangkut ARB, kalo udah ARA ane kasih 5, Gan... Trims."

Komentar lainnya dari akun Indra, "ARB, beli auto rugi."

Rating bintang satu lainnya juga diberikan oleh akun Naufal Dwinanda yang ikut berkomentar, "Segini dulu sebanding lurus dengan harga BUKA."

Lalu ada yang berkomentar cukup panjang menyebut bahwa dirinya susah untuk mendapatkan penjatahan saham ini underwriternya kata akun Richard Sanjaya.

"Saya turut prihatin kepada ritel yg nyangkut di harga ARA (karena hari pertama kebanyakan ritel pasti ga kebagian beli, terutama YP PD CC). Saya sendiri sudah lepas ini saham di hari pertama (takut mau hold karena melihat gelagat pre-IPO nya!!). Tapi saya jujur kaget, di hari pertama sejak IPO, $BUKA sudah diguyur habis2an oleh ASING (dan imbasnya hari ke 2 memakan KORBAN ritel yang antri pada harga ARA). Prediksi saya bahwa ini adalah 'EXIT PLAN' dari para investor 'Lama' LupaBapak #UNINSTALL," kata dia.

Komentar ini ditanggapi oleh akun Bukalapak, "Hi Kak, terima kasih atas perhatiannya terhadap Bukalapak. Sebagai informasi, transaksi saham Bukalapak di bursa saham, setelah melakukan listing murni merupakan mekanisme pasar, ya. Terima kasih :)."

Namun komentar ini tak sepenuhnya negatif. Salah satu akun Julianto Salim mengatakan bahwa pemberian rating dan harga saham sama sekali tidak berhubungan sehingga komentar-komentar ini tidak relevan dengan performa aplikasi.

"Pada bocil ya baru terjun di saham. Rugi itu masalah mekanisme pasar. Kenapa rating di Playstore? Playstore itu untuk ngerating apps-nya bagus ga, ada kendala ga pas penggunaannya. Lu yang pencet beli di haka [hajar kanan] malah lu rating di sini. Logikanya tolong dipake minimal 1% aja kangan 0%. Keliatan bodohnya," kata dia.

Komentar senada lainnya disampaikan oleh akun Nur Akhlish. "Nyangkut di saham pada teriak di sini. Emang Bukalapak nyuruh lu beli sahamnya?? Dasar bodoh. Kalo mau untung ngga mau rugi jangan beli saham, masukin celegan aja. Lot ngga seberapa banyak tingkah. Tetap bintang 5 buat Bukalapak," katanya.

Bahkan setelah saham BUKA ambruk hingga ARB, muncul investor ritel yang putus asa karena tak mampu menjual sahamnya ke pasar reguler sehingga menawarkan kepemilikan sahamnya tersebut di situs Bukalapak.com.

Menariknya, harga saham yang dijual oleh pelapak dengan identitas Putri Rahmawati asal Bekasi, Jawa Barat tersebut dijual di bawah harga rata-rata pasar yakni Rp 1.000 per saham.

"Gapapa, cutloss yang penting bisa kejual, ada 7 juta lot coba, sedih," tuturnya di deskripsi penjualan di laman Bukalapak.com, dikutip Selasa (10/8/2021).

Seperti diketahui, situs lokapasar tidak bisa dijadikan sebagai transaksi saham. Hanya perusahaan sekuritas yang bisa melakukan transaksi jual beli saham.

Oleh sebab itu, di laman Bukalapak.com disebutkan bahwa penjualan saham tersebut melanggar. "Pelapak melakukan pelanggaran," tulis deskripsi di laman tersebut.

Ambruknya saham Bukalapak tergolong wajar mengingat aksi jual asing yang sangat masif sejak emiten teknologi ini melantai membuat investor lokal tak berkutik.

Sejak awal 'manggung' alias penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO), asing telah melakukan net sell dengan total Rp 1,71 triliun di seluruh pasar.

Tercatat broker PT Citigroup Sekuritas (CG) menjadi pelaku utama penjualan bersih saham di mana sejak Bukalapak melantai Jumat pekan lalu, CG sudah menjual bersih saham buka sebanyak 9,75 juta lot (setara 975 juta saham, 1 lot isi 100 saham) di harga rata-rata penjualan Rp 1.133/unit.

Mengingat Citigroup bukan merupakan underwriter saham BUKA yang mendapatkan jatah mayoritas saham yang diterbitkan saat IPO.

Kemungkinan besar CG merupakan investor lama yang masuk sebelum IPO di mana terdapat 10% saham para investor lama yang tidak dikunci menurut prospektus yang diterbitkan oleh Bukalapak.

Memang ada kemungkinan bahwa sang investor yang menggunakan broker CG melakukan pembelian saham dari lead underwriter dan kemudian memindahkanya ke broker CG melalui jalur belakang alias backdoor.

Akan tetapi hal ini tidak lumrah terjadi mengingat, broker lead underwriter yang memberikan jatah saham kepada sang investor tentu saja berekspektasi bahwa sang investor akan melakukan transaksi di broker tersebut.

Dengan demikian, sang broker akan menerima keuntungan brokerage fee sebagai tambahan 'cuan' selain allotment fee karena telah memberikan jatah saham BUKA ke investor tersebut.

Maka dari itu kemungkinan besar investor yang menggunakan broker CG bukanlah investor yang masuk saat penawaran perdana namun merupakan investor lama saham Bukalapak yang sudah masuk sebelum perseroan melantai.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mulai Dijual Asing, Saham Bukalapak Perlahan Keluar dari ARA!


(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading