Fenomena Bukalapak: ARA 2 Hari, Sisanya ARB Terus

Market - Putra, CNBC Indonesia
13 August 2021 07:10
Bukalapak (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham emiten startup e-commerce yang ditopang Grup Emtek, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) ditutup anjlok hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 7% pada perdagangan Kamis kemarin (12/8/2021), melanjutkan ARB yang terjadi pada Selasa lalu (10/8).

Data perdagangan mencatat, koreksi saham BUKA sudah terjadi sesaat setelah bel pembukaan perdagangan berbunyi.

Sampai akhir perdagangan sesi 2, saham BUKA juga masih ARB dengan ambles 6,76% ke Rp 965/saham. Saham BUKA melanjutkan level ARB yang juga dicatatkan pada Selasa (10/8) ketika minus 6,76% di Rp 1.035/saham.


Data BEI mencatat, nilai transaksi saham ini tercatat sebesar Rp 2,66 triliun dengan volume perdagangan 2,75 miliar saham, serta menjadi saham yang paling banyak diperdagangkan di bursa 4 hari beruntun.

Praktis sejak melantai di Jumat lalu (6/8) di harga penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) Rp 850/saham, saham BUKA 2 kali tembus level auto reject atas (ARA) 25% yakni Jumat +24,71% di Rp 1.060/saham dan Senin sempat melesat +25% di Rp 1.325/saham.

Namun pada akhir perdagangan Senin pekan ini, saham BUKA akhirnya ditutup hanya naik 4,72% di Rp 1.110/saham.

Meskipun demikian aksi jualan masih tak terbendung sehingga BUKA terpaksa ditutup di level ARB lagi-lagi dengan antrean yang menumpuk di level terendah tersebut sebanyak 3,37 juta lot atau senilai Rp 325 miliar.

Investor asing lagi-lagi menjadi biang kerok ambruknya Bukalapak hingga ARB setelah melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 870 miliar di pasar reguler.

Dengan ini, sejak awal 'manggung' di bursa sejak Jumat lalu (6/8), asing mencatatkan net sell dengan total Rp 2,02 triliun di seluruh pasar.

Hanya saja, ada kabar baiknya. Dana abadi negara atau Sovereign Wealth Fund asal Singapura GIC Private Limited ternyata sudah melakukan pembelian saham BUKA lagi sebanyak 1.600.797.400 atau setara dengan 1,553% modal disetor dan ditempatkan Bukalapak.

Berdasarkan keterbukaan informasi di BEI, transaksi ini dilakukan pada 5 Agustus 2021 lalu, alias sehari sebelum Bukalapak listing atau mencatatkan saham perdana atau initial public offering (IPO) pada Jumat (6/8).

Sebagai informasi, dengan melantai di bursa, BUKA meraup dana IPO mencapai Rp 22 triliun, terbesar sepanjang sejarah BEI.

Berdasarkan data resmi BEI, jumlah saham BUKA yang dicatatkan 103.062.019.354 saham, terdiri dari saham pendiri 77.296.514.554 saham dan penawaran umum 25.765.504.800 saham.

Untuk jumlah saham penawaran umum itu setara dengan 25,0% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah IPO dengan harga perdana Rp 850/saham.

Harga penawaran ditetapkan di angka penawaran tertinggi Rp 850/unit, dengan begitu total dana yang diraup mencapai Rp 21,9 triliun,

Berdasarkan prospektus IPO, seluruh dana yang diperoleh dari IPO setelah dikurangi seluruh biaya-biaya emisi saham, akan dialokasikan untuk modal kerja perseroan sebanyak sekitar 66%, sementara sisanya akan digunakan untuk modal kerja entitas anak.

Entitas anak yang dimaksud yakni sekitar 15% dialokasikan kepada PT Buka Mitra Indonesia (BMI), 15% dialokasikan kepada PT Buka Usaha Indonesia (BUI), sekitar 1% dialokasikan kepada PT Buka Investasi Bersama (BIB), sekitar 1% dialokasikan kepada PT Buka Pengadaan Indonesia (BPI), sekitar 1% kepada Bukalapak Pte. Ltd. (BLSG) dan sekitar 1% dialokasikan kepada PT Five Jack (Five Jack Indonesia).

Sebelumnya, Analis Panin Sekuritas, William Hartanto, mengatakan aksi jual yang dilakukan investor asing adalah hal yang lumrah terjadi sebagai aksi ambil untung (profit taking).

"Hal yang wajar, kalau sudah profit pasti dijual. Sisanya tinggal siapa yang lebih kuat, penjualan asing atau pembelian lokal," kata William, kepada CNBC Indonesia, Senin (9/8/2021).

William menilai, saham Bukalapak diperkirakan masih akan melanjutkan tren kenaikan dengan estimasi penguatan ke level Rp 1.500 per saham.

Selain itu, kata William, Bukalapak yang masuk ke dalam indeks saham teknologi di BEI memiliki prospek yang positif ke depannya. Terlebih lagi, jika semakin ramai unicorn asal Indonesia yang mencatatkan saham di pasar modal domestik.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

IPO Rp 850, Cek Saham Para Investor Bukalapak yang Terdilusi!


(tas/tas)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading