Net Buy-Sell

Asing Hobi Lepas Saham Bukalapak-HMSP, Borong BBCA-UNTR!

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
12 August 2021 17:23
Doc.Lapkeu HMSP

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup cukup cerah pada perdagangan Kamis (12/8/2021) diĀ tengah sentimen global rilis data inflasi di AS yang moderat dan masih berembusnya isu tapering atau pengurangan pembelian aset oleh bank sentral AS.

Indeks bursa saham acuan Tanah Air tersebut ditutup melesat 0,84% ke level 6.139,65. IHSG pun kembali menembus level psikologis 6.100, setelah pada Selasa lalu sempat keluar ke zona 6.000.

Data perdagangan mencatat nilai transaksi hari ini kembali menjadi Rp 16 triliun.


Namun, investor asing kembali melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 144 miliar di pasar reguler. Sebanyak 291 saham menguat, 218 saham melemah dan 138 lainnya flat.

Dari daftar net sell, asing tercatat masih terus melepas saham teknologi e-commerce, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA). Pada hari ini, asing melepas saham BUKA cukup besar, yakni mencapai Rp 870 miliar, lebih besar dari jumlah yang dilepas oleh asing pada Senin (9/8/2021) lalu sebesar Rp 629 miliar.

Selain itu, asing juga masih melepas saham bank berkapitalisasi pasar terbesar di atas Rp 100 triliun (big cap), yakni PT Bank Rakyat Indonesi Tbk (BBRI) sebesar Rp 44 miliar. Asing juga melepas saham bank big cap lainnya, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Berikut saham-saham yang dilepas oleh investor asing pada hari ini.

Sementara dari daftar net buy, saham bank big cap 'jumbo', PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham yang paling banyak diburu oleh asing pada hari ini, yakni mencapai Rp 310 miliar.

Selain memburu saham BBCA, asing juga tercatat memburu banyak di saham PT United Tractors Tbk (UNTR) sebesar Rp 106 miliar. Asing juga memburu saham big cap lainnya, yakni saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Adapun saham-saham yang diburu oleh investor asing pada hari ini adalah:

Pelaku pasar saham nasional cenderung mengakumulasikan sentimen positif yang tertunda setelah libur nasional kemarin memperingati Hari Tahun Baru 1 Muharram 1443 Hijriah. Saat itu sentimen positif datang dari Amerika Serikat (AS), di mana Senat AS meloloskan paket stimulus senilai US$ 1 triliun.

Sentimen positif tambahan datang malam tadi setelah inflasi AS per Juli naik 5,4% (tahunan), atau sedikit di atas proyeksi ekonom dalam survei Dow Jones yang memperkirakan angka 5,3%. Inflasi bulanan di level 0,5% atau sesuai ekspektasi pasar.

Inflasi yang moderat ini memicu optimisme pasar bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) belum akan terburu-buru menuju pengetatan moneter, sehingga mendukung masuknya dana asing ke pasar negara berkembang, seperti Indonesia.

Selain itu, pelaku pasar juga perlu mencermati pergerakan harga minyak mentah dunia yang kembali melemah pada perdagangan kemarin, setelah Gedung Putih menyerukan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) dan sekutunya untuk menaikkan produksinya guna menopang pemulihan ekonomi dunia.

Pemerintahan Presiden AS Joe Biden mengatakan keputusan OPEC+ yang secara bertahap meningkatkan produksi tidak cukup efektif untuk bangkit dari momen kritis pemulihan global.

OPEC+ adalah 13 negara anggota OPEC ditambah Rusia dan produsen minyak lainnya selain OPEC.

"Kami bicara dengan anggota OPEC+ yang berpengaruh tentang pentingnya pasar yang kompetitif dalam menetapkan harga," kata Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan dalam pernyataan dikutip dari CNBC International, Rabu (11/8/2021).

"Pasar energi yang kompetitif akan memastikan pasokan energi yang anda dan stabil, OPEC harus berbuat lebih banyak dalam mendukung pemulihan ekonomi [global]," tambahnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading