Terungkap! 'Biang Kerok' yang Obral Saham Bukalapak 4 Hari

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
13 August 2021 08:40
CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin dan Komisaris Utama Bambang Brodjonegoro, dok Bukalapak, IPO 6 Agustus 2021

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham emiten startup e-commerce yang disokong Grup EmtekPT Bukalapak.com Tbk (BUKA) kembali anjlok hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 7% pada penutupan perdagangan Kamis kemarin (12/8/21).

Sesaat setelah bel pembukaan berbunyi pada awal perdagangan, saham BUKA sudah terkena ARB.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), tercatat pada penutupan perdagangan hari ke-4 melantai di bursa sejak Jumat lalu (6/8/21), saham BUKA ambles 6,76% ke Rp 965/saham.


Koreksi ARB 7% ini melanjutkan penurunan di level ARB pada Selasa (10/8/21) ketika saham BUKA ambruk 6,76% di Rp 1.035/saham.

Investor asing kembali melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 870 miliar di pasar reguler. Dengan ini, sejak awal 'manggung' alias penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO), asing telah melakukan net sell dengan total Rp 2,02 triliun di seluruh pasar.

Tercatat broker PT Citigroup Sekuritas (CG) menjadi pelaku utama penjualan bersih saham BUKA pada perdagangan kemarin setelah melego 4,89 juta saham BUKA dengan harga rata-rata penjualan berada di level Rp 965/unit.

Broker CG memang menjadi broker yang paling getol melakukan penjualan di saham BUKA di mana sejak Bukalapak melantai Jumat pekan lalu, CG sudah menjual saham buka sebanyak 9,75 juta lot (setara 975 juta saham, 1 lot isi 100 saham) di harga rata-rata penjualan Rp 1.133/unit.

Mengingat Citigroup bukan merupakan underwriter saham BUKA yang mendapatkan jatah mayoritas saham yang diterbitkan saat IPO.

Kemungkinan besar CG merupakan investor lama yang masuk sebelum IPO di mana terdapat 10% saham para investor lama yang tidak dikunci menurut prospektus yang diterbitkan oleh Bukalapak.

Memang ada kemungkinan bahwa sang investor yang menggunakan broker CG melakukan pembelian saham dari lead underwriter dan kemudian memindahkanya ke broker CG melalui jalur belakang alias backdoor.

Akan tetapi hal ini tidak lumrah terjadi mengingat, broker lead underwriter yang memberikan jatah saham kepada sang investor tentu saja berekspektasi bahwa sang investor akan melakukan transaksi di broker tersebut.

Dengan demikian, sang broker akan menerima keuntungan brokerage fee sebagai tambahan 'cuan' selain allotment fee karena telah memberikan jatah saham BUKA ke investor tersebut.

Maka dari itu kemungkinan besar investor yang menggunakan broker CG bukanlah investor yang masuk saat penawaran perdana namun merupakan investor lama saham Bukalapak yang sudah masuk sebelum perseroan melantai.

Nah, pertanyaan yang ada di benak para investor saat ini tentunya berapa sisa 'barang' (saham BUKA) yang dapat dijual oleh investor lama ini setelah mengobral saham BUKA selama 4 hari berturut-turut?

Menurut prospektus yang diterbitkan oleh perseroan, terdapat 22 entitas pemilik saham Bukalapak sebelum IPO yang sahamnya tidak dikunci.

Meskipun demikian 22 investor tersebut secara sukarela berkomitmen untuk mengunci 90% kepemilikan saham mereka agar tidak dapat dialihkan hingga 8 bulan ke depan.

Ke-22 investor ini tercatat memiliki total 28,57 miliar lembar saham Bukalapak yang artinya mereka hanya boleh menjual 2,85 miliar lembar saham Bukalapak atau 28,57 juta lot saham Bukalapak yang dapat ditransaksikan.

Tercatat sejak BUKA melantai Jumat silam terdapat 6 broker non underwriter yang getol melakukan aksi jual bersih masif.

Broker-broker tersebut adalah PT Citigroup Sekuritas (CG) yang 'mengguyur' 9,75 juta lot, PT DBS Vickers Sekuritas (DP) yang melepas 2,22 juta lot, PT Credit Suisse Sekuritas (CS) yang menjual 2,07 juta lot, PT JP Morgan Sekuritas (BK) yang melego 1,28 juta lot, PT Verdhana Sekuritas yang mengobral 1,14 juta lot, dan PT CGS CIMB Sekuritas (YU) yang menjual 2,3 juta lot.

Secara total ke-enam sekuritas tersebut sudah menjual bersih sebanyak 17,54 juta saham BUKA sehingga apabila berpatokan terhadap jumlah saham milik investor lama yang dapat diperdagangkan yakni sebanyak 28,57 juta lot maka masih tersisa sekitar 11,03 juta lot saham BUKA milik pemegang saham lama.

Tentu saja angka ini berasumsi bahwa memang pemegang saham lama lah yang melepas saham BUKA melalui 6 broker non underwriter tersebut, bukan pemegang saham baru yang masuk melalui penawaran umum.

Ini pun diasumsikan pula seluruh pemegang saham lama ini siap menjual 10% kepemilikan saham yang dapat diperdagangkan dalam 8 bulan ke depan tersebut setelah cuan besar karena mendapatkan saham BUKA di bawah harga IPO.

Sebagai informasi, selain 22 investor yang mengunci secara sukarela 8 bulan, masih ada 32 pemegang saham lainnya, termasuk pemegang saham lainnya yang terdiri dari 204 pemegang saham perorangan yang merupakan karyawan atau ex-karyawan perusahaan. Mereka ini merupakan pemegang saham yang wajib untuk me-lock up kepemilikan sahamnya di perusahaan sesuai dengan POJK No. 25 Tahun 2017 (6 bulan kunci).

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mulai Dijual Asing, Saham Bukalapak Perlahan Keluar dari ARA!


(trp/trp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading