Gerak Cepat! Bank Milik Akulaku Gandeng Huawei-Tencent Cloud

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
12 August 2021 14:40
FILE PHOTO: People walk past a sign board of Huawei at CES (Consumer Electronics Show) Asia 2016 in Shanghai, China May 12, 2016. REUTERS/Aly Song/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten perbankan yang disokong Akulaku-Alibaba, PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) memperkuat keamanan siber layanan perbankan dengan menggandeng dua raksasa teknologi informasi global asal Tiongkok, yakni Huawei dan Tencent Cloud.

Dari segi penguatan infrastruktur, Bank Neo dan Huawei bekerjasama dalam hal perlindungan untuk server dan network perangkat, atau lebih dikenal dengan firewall.

Sementara itu, eks Bank Yudha Bhakti ini memanfaatkan sistem pengelolaan data dari Tencent Cloud yang akan membantu Bank Neo untuk menjaga data dan privasi nasabah dengan efektif dan juga aman dari data breaching di sisi sistem, melalui solusi Tencent yang disebut Tencent Distributed Database (TDSQL).


"Keamanan siber dan proteksi data nasabah selalu menjadi perhatian utama Bank Neo. Kami sadar bahwa kami perlu terus mengembangkan teknologi perbankan digital kami demi mengurangi celah keamanan yang bisa merugikan Neo Customers," kata Direktur Utama Bank Neo Commerce, Tjandra Gunawan, dalam keterangan resminya, Kamis (12/8/2021).

"Kami akan terus melakukan edukasi secara berkala dan mengimbau Neo Customers untuk selalu menerapkan cyber-hygiene, yakni dengan membangun kebiasaan untuk menjaga keamanan data pribadi masing-masing dan melindungi diri dari tindakan kejahatan siber seperti serangan malware ataupun hackers," tegasnya.

Dia mengatakan, perseroan serius menata sistem keamanan siber perusahaan dengan memperkuat infrastruktur keamanan siber berstandar tinggi dan internasional, seiring maraknya kasus cyber-crime di tengah masyarakat.

Statistik dari Patroli Siber Kepolisian Indonesia menunjukkan terdapat peningkatan kasus per tahun dari 2015 sampai 2021.

Dari sekitar 20.000 laporan kasus yang tercatat, sebanyak 8.541 kasus masuk dalam kategori penipuan online. Hasil laporan Global Cybersecurity Index (GCI) menunjukkan, Indonesia adalah negara ke-6 di Asia Pasifik dengan keamanan siber yang tinggi, meskipun demikian, penipuan online di Indonesia masih menjadi persoalan.

"Sebagai bank digital di Indonesia, Bank Neo memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat tentang pentingnya cyber-hygiene," jelasnya.

"Kami aktif untuk memberikan penyuluhan dan berbagi informasi bermanfaat di berbagai kanal komunikasi seperti sosial media, membuat artikel di media massa, dan juga melalui webinar. Tidak dapat dipungkiri, kini marak penipuan yang dilakukan oknum dengan sasaran pada masyarakat yang awam terhadap teknologi," katanya.

Oleh sebab itu, dia mengatakan, Bank Neo mengimbau seluruh nasabah untuk menerapkan kebiasaan cyber-hygiene untuk setiap aplikasi penting yang berhubungan dengan informasi sensitif, seperti data pribadi dan data finansial.

"Menjaga keamanan data adalah kewajiban kita semua sebagai pemiliknya agar selalu terhindar dari aksi-aksi kejahatan siber," jelasnya.

Perseroan pun memberikan beberapa langkah untuk memulai cyber-hygiene di antaranya selalu memperbarui OS dan aplikasi-aplikasi yang digunakan, mengaktifkan autentikasi dua faktor (two-step authentication) untuk keamanan tambahan suatu aplikasi, dan memanfaatkan fungsi biometric pada aplikasi keuangan.

Selain itu, selalu ingat untuk melakukan langkah-langkah preventif lainnya seperti tidak membagikan data rahasia, mulai dari username, password, sampai menginformasikan kode OTP kepada pihak yang tidak dikenal.

Saat ini, PT Akulaku Silvrr Indonesia menjadi pemegang saham terbesar. Akulaku pertama kali masuk di BBYB pada awal tahun 2019 dengan mengakuisisi 8,9% saham PT Bank Yudha Bhakti Tbk (BBYB) dari PT Gozco Capital pada harga Rp 338 per lembar saham dengan nilai total Rp 158 miliar.

Setelah itu Akulaku kembali menambah kepemilikan sahamnya melalui rights issue menjadi sebesar 24,98%.

Adapun perusahaan asuransi BUMN PT Asabri (Persero) justru terus menjual saham BBYB sehingga porsinya dari sebelumnya mencapai di atas 20% kini tersisa menjadi hanya 5,62% per 9 Agustus 2021.

Sebagai informasi, pada kuartal I-2019 saham Asabri di BBYB masih sebanyak 21,91% atau 1.240.539.090 saham, sementara pada kuartal I-2020 saham Asabri masih 20,13% atau setara 1.240.539.090 saham.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading