Siap-siap! Bakal Ada Investor Kakap AS Lirik Bank Digital RI

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
09 August 2021 07:10
A United States flag is reflected in the window of the Nasdaq studio, which displays indices and stocks down, in Times Square, New York, Monday, March 16, 2020. (AP Photo/Seth Wenig)

Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan layanan bank digital di Tanah Air diprediksi akan semakin semarak dengan kabar hadirnya investor baru dari global yang tengah menjajaki pasar dan mencari mitra strategis untuk masuk ke bank digital di Indonesia.

Saat ini sejumlah bank dengan layanan digital sudah disokong oleh perusahaan investasi, private equity, modal ventura (venture capital), perusahaan startup financial technology (fintech), ride-hailing, hingga perusahaan jasa keuangan tradisional.

Salah satu investor global yang disebut-sebut tengah ancang-ancang masuk ialah raksasa e-commerce AS, Amazon, milik orang terkaya di dunia versi Forbes, Jeff Bezos. Bezos punya kekayaan bersih senilai US$ 193,3 miliar atau setara dengan Rp 2.802 triliun (kurs Rp 14.500/US$).


Managing Partner IndoGen Capital, Chandra Firmanto, mengatakan banyak investor global melirik pasar digital di Indonesia termasuk sektor layanan bank digital.

Menurut dia nama-nama besar seperti Amazon pun diketahui tidak hanya menjajaki satu pihak, tapi juga berupaya mencari calon potensial lain yang bisa berpeluang bermitra.

"Ada Amazon, jadi semuanya di-approach [didekati], bayangkan kalau Anda jadi investor Amazon, gak mungkin Anda pergi cuma satu tempat [menjajaki mitra], mereka itu ga berfikir terlalu lama, decision making-nya cepat," katanya kepada CNBC Indonesia, Jumat pekan lalu (6/8).

Dia menilai, ada perbedaan signifikan antara perusahaan-perusahaan raksasa tradisional dengan perusahaan raksasa e-commerce dan digital yang awalnya berbasis startup.

"Beda, kan di-value speed. itu yang membuat startup beda dengan perusahaan tradisional, karena dia [perusahaan tradisional] kan mikir organik, dia menakar dulu kalau spending segini, bagaimana dan sebagainya, kalau investor startup dia investasi tapi sudah mikirin end game-nya kayak gimana," kata mantan analis bisnis Accenture Plc di California AS ini. Accenture adalah perusahaan penyedia jasa profesional multinasional asal Irlandia, yang masuk dalam daftar Fortune Global 500.

Menurut Chandra yang berpengalaman di Silicon Valley AS dalam menilai startup, banyak investor besar sudah melirik pasar digital Indonesia. Dia menegaskan, jika investor-investor itu kategori besar, tentu Indonesia jadi prioritas.

"Banyak lagi [siap masuk], saya belum tahu, tapi gak cuma Amazon, yang jelas kalau dia [calon investor ini] pemain besar dunia, dia pasti ke Indonesia. Belum lagi ada Flipkart [aplikasi e-commerce] dari India, orang ga fikir Flipkart itu seperti apa, orang-orang melupakan itu, padahal kapasitasnya besar. Yang saya tau banyak yang deketin kita dari global," kata Chandra yang juga mentor for Japan External Trade Organization and Korean Trade Association ini.

CNBC Indonesia mencatat, saat ini ada beberapa bank layanan digital yang ditopang oleh investor global, misalnya PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang ditopang bankir Jerry Ng dan kawan-kawan bersama Patrick Walujo dari Grup Northstar dan PT Bank BTPN Tbk (BTPN) dari Grup SMBC Group (Sumitomo Mitsubishi).

Lalu ada Gojek dan dana abadi dari Singapura GIC yang menyokong Bank Jago. Kemudian ada PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) yang ditopang Akulaku (fintech yang ditunjang oleh anak usaha Alibaba), PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) dari Grup CT Corp, PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP), dan PT Bank Bisnis International Tbk (BBSI) yang ditopang Kredivo.

Kemudian ada PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) yang dikendalikan oleh Grup NTI Global, lalu ada PT Bank Seabank Indonesia (non-Tbk) milik Sea Ltd asal Singapura.

Adapun Emtek Group (PT Elang Mahkota Teknologi Tbk/EMTK) berinvestasi di Grab dan e-commerce yang baru saja tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat lalu (6/8) yakni PT Bukalapak.com Tbk (BUKA). 

Sementara itu bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membuat bank digital yakni PT Bank Digital BCA, metamorfosis dari Bank Royal yang diakuisisi BCA.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga akan mengajukan izin layanan digital untuk anak usahanya PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO).

Overpriced

Lebih lanjut, Chandra menegaskan, memang pasar bank digital dilirik asing. Namun menurut dia, saat ini terjadi ketidaksesuaian antara supply and demand dari startup di domestik.

Artinya, banyak investor kakap siap menginvestasikan dananya tapi tak banyak startup yang bagus dan potensial untuk diakuisisi sehingga berdampak pada harga atau valuasi yang kemahalan alias overpriced, bukannya good deal.

"Sekarang susah, lebih banyak uangnya [dari para investor] dari pada [jumlah] startup yang akan diinvestasikan. Supply and demand ga klop, dengan jumlah startup yang bagus itu ga banyak," katanya.

"Sementara jumlah perusahaan tradisional yang mau akuisisi, investor global yang mau menempatkan dana itu kan gede-gede mulai bermunculan, kalau supply and deman ini terjadi maka pasarnya akan kacau. Jadinya harga atau valuasi gak wajar, sekarang market overpriced."

Adapun terkait dengan Amazon, sebelumnya manajemen PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) sudah menyatakan bahwa sedang dalam proses mengembangkan layanan digital bekerjasama dengan anak usaha Amazon.com, Amazon Web Services (AWS).

Direktur Utama BEKS, Agus Syabarrudin mengatakan, kerja sama ini sebagai upaya yang dilakukan bank BPD ini untuk menyediakan layanan digital. Kerja sama ini juga sudah masuk dalam rencana bisnis bank (RBB) Banten yang ditargetkan bisa terealisasi di tahun ini.

"RBB kita sudah memasukkan rencana digitalisasi, jadi harapan saya semua persiapannya sejalan dengan ketentuan yang ada, kami bisa segera launching, saat ini kami terus bergulir mempersiapkan infrastrukturnya," kata Agus kepada CNBC Indonesia, Jumat (16/7/2021).

Hanya saja, Agus belum merinci, berapa nilai investasi belanja modal yang dialokasikan untuk kerja sama ini, namun sudah dimasukkan dalam anggaran belanja modal informasi dan teknologi (IT) perseroan.

Chandra menilai Amazon tak hanya menjajaki dengan Bank Banten tapi juga dengan investor atau perusahaan bank digital lainnya.

Selain itu, menurut dia alasan para investor global masuk di antaranya prospek pasar yang besar, ditambah dengan margin keuntungan di sektor ini yang cukup besar dibanding dengan lain.

"Semua play digital banking. Kenapa market ke banking? Margin, kaya bank-bank AS, itu ada yang bangkrut juga, interest [bunga] kecil, itu yang membuat US kurang sukses di sektor ini."

NEXT: Bagaimana Rencana Amazon?

Apa Rencana Amazon?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading