Euforia IPO Teknologi: RI ada Bukalapak, Korsel Kakao Talk

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
06 August 2021 15:55
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bersamaan dengan melantainya (listing) startup e-commerce PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) di Bursa Efek Indonesia (BEI), bank digital milik Grup Kakao asal Korea Selatan (Korsel) Kakao Bank juga melakukan debut di bursa Korsel hari ini, Jumat (6/8/2021).

Melansir CNBC International, saham Kakao Bank langsung melonjak 78,97% dari harga penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) KRW 39.000 pada hari pertama perdagangan sahamnya di bursa Negeri Ginseng. Nilai kapitalisasi pasar (market cap) saham Kakao Bank tercatat lebih dari KRW 32 triliun.

Sebagai informasi, Kakao Bank mengumpulkan sekitar US$ 2,2 miliar dalam IPO dan berencana untuk menggunakan dana hasil IPO tersebut untuk memperluas bisnis terkait platform, yang masih menyumbang 6% dari pendapatan bank.


Dengan IPO ini, Kakao Bank menjadi bank digital Korsel pertama yang go public dengan mencatatkan IPO terbesar sejak 2017 setelah perusahaan pengembang game Netmarble resmi melantai dengan raihan dana IPO KRW 2,7 triliun.

Melesatnya saham Kakao Bank ini terjadi di tengah tekanan di pasar saham Korea Selatan, yang membuat indeks KOSPI turun 0,18% hari ini. Saham-saham yang berafiliasi dengan Kakao Bank juga menurun, seperti saham sang induk Kakao Corp. dan Kakao Games masing-masing turun lebih dari 2%.

Menurut kantor berita lokal Yonhap News, IPO ini menjadikan Kakao Bank sebagai institusi keuangan paling bernilai di Korsel berdasarkan kapitalisasi pasar.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan CNBC International, CEO Kakao Bank Yun Ho-young menepis kekhawatiran soal apakah IPO dinilai terlalu tinggi.

"Saya pikir harga IPO sebagian besar ditentukan oleh pasar, Kakao Bank adalah bank di era mobile," katanya kepada CNBC International.

"Kami berbeda dari bank yang ada dan kami menciptakan peluang pasar baru," imbuh Yun.

Yun kembali menambahkan, "Satu juta pelanggan membuka rekening bank seluler dengan Kakao Bank hanya dalam waktu lima hari setelah peluncuran. Berdasarkan angka-angka ini, bukankah menurut Anda Kakao Bank tentu berbeda dengan bank-bank incumbent?"

Sebagai informasi, Kakao Corporation, yang terkenal lewat aplikasi layanan pesan Kakao Talk, memiliki 31,62% saham di Kakao Bank sebagai pemegang saham mayoritas. Kakao Bank sendiri diluncurkan pada Januari 2016 dan resmi beroperasi pada Juli 2017.

Yun mengatakan, Kakao Bank menargetkan untuk berekspansi ke luar Korea Selatan setelah listing di bursa.

"Saat itu, kami memprioritaskan untuk fokus pada event domestik dan memiliki keterbatasan modal untuk mengejar ekspansi global," katanya. "Namun, pasca IPO, kami akan aktif mencari peluang global."

Mengenai rencana perusahaan ke depan, Yun mengatakan Kakao Bank akan melakukan ekspansi awal ke bisnis pinjaman hipotek untuk sektor layanan perbankannya.

Kakao Bank sendiri telah  berhasil mencetak profit pada 2019 setelah kurang dari dua tahun beroperasi dan memiliki 13,35 juta pengguna aktif bulanan, menjadikannya aplikasi keuangan terbesar di negara pengekspor kultur K-Pop ini.

Debut Saham BUKA

Sementara, saham BUKA melonjak hingga menyentuh batas auto rejection atas (ARA) 25% hari ini.

Menurut data BEI, harga saham BUKA langsung melonjak 24,71% ke Rp 1.060/saham sesaat setelah bel pembukaan pasar dibuka. Nilai transaksi saham BUKA mencapai Rp 546,68 miliar, menjadikan saham ini di posisi ketiga saham dengan nilai transaksi tertinggi siang ini.

Kendati melesat, investor asing mencatatkan jual bersih Rp 249,22 miliar di pasar reguler, yang merupakan tertinggi di bursa. Animo investor ritel atas melantainya saham BUKA memang sangat tinggi. Pada pukul 09.10 WIB tadi saja, antrean untuk membeli saham BUKA di harga Rp 1.060/saham mencapai 13.587.174 lot.

Berdasarkan data resmi BEI, jumlah saham BUKA yang dicatatkan 103.062.019.354 saham, terdiri dari saham pendiri 77.296.514.554 saham dan penawaran umum 25.765.504.800 saham.

Untuk jumlah saham penawaran umum itu setara dengan 25,0% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah IPO dengan harga perdana Rp 850/saham.

Harga penawaran ditetapkan di angka penawaran tertinggi Rp 850/unit, dengan begitu total dana yang diraup mencapai Rp 21,9 triliun, terbesar sepanjang sejarah BEI.

Saat ini nilai kapitalisasi pasar (market cap) BUKA mencapai Rp 109,25 triliun.

Dengan market cap tersebut maka perusahaan yang didirikan oleh Ahmad Zaky ini akan menjadi perusahaan terbesar ke-16 di BEI tepat di bawah bank Pelat Merah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang memiliki kapitalisasi pasar Rp 95,11 triliun dan di atas PT Bank Permata Tbk (BNLI) yang memiliki market cap Rp 72,72 triliun.

Berdasarkan prospektus IPO, seluruh dana yang diperoleh dari IPO setelah dikurangi seluruh biaya-biaya emisi saham, akan dialokasikan untuk modal kerja perseroan sebanyak sekitar 66%, sementara sisanya akan digunakan untuk modal kerja entitas anak.

TIM RISET CNBC IDNONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tiba-tiba Saham Bukalapak Bangkit 4%, Giliran IHSG Ambruk!


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading