Auric Jadi Pengendali Matahari, LPPF Dicecar Bursa Efek

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
05 August 2021 18:10
Pengunjung berbelanja di Matahari Store dikawasan Jakarta, Senin (30/11/2020). PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) menutup 6 gerainya hingga akhir tahun ini. Jumlah gerai perusahaan ritel ini akan berkurang dari 153 toko menjadi 147 toko.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten pengelola gerai Matahari Department Store, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) menjelaskan kepada pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait dengan masuknya Auric Digital Retail Pte. Ltd. (BidCo), perusahaan asal Singapura, yang menjadi pengendali LPPF.

Pengendalian ini terjadi setelah Auric merampungkan penawaran tender sukarela (Voluntary Tender Offer/VTO).

Tender sukarela kepada para pemegang saham perseroan (termasuk publik) tersebut dilakukan untuk membeli saham perseroan, dengan periode penawaran terhitung sejak 4 Juni sampai dengan 3 Juli lalu.


Hasilnya, pada 15 Juli, sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 9/POJK.04/2018 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka, Auric mengumumkan bahwa mereka sudah menjadi pemegang saham pengendali baru Matahari sejak 14 Juli 2021.

BEI pun mempertanyakan soal ini dalam suratnya kepada manajemen LPPF.

Dalam jawaban kepada BEI terkait perubahan pengendalian, Miranti Hadisusilo, Corporate Secretary and Legal Director LPPF menegaskan bahwa sebelum perubahan ini terjadi, perseroan tidak memiliki kerja sama dengan Auric.

Manajemen LPPF juga mengatakan bahwa perseroan tidak mengantisipasi adanya perubahan status pencatatan saham perseroan di Bursa, mengingat kepemilikan Auric hanya 32%.

Pihak bursa juga menanyakan perihal sinergi secara konkret yang diharapkan dalam proses bisnis perseroan dan Auric.

Miranti mengatakan belum mengetahui rencana pemegang saham mengenai sinergi tersebut. Namun pihaknya berharap dengan masuknya Auric akan menambah wawasan secara sektor dan strategis. Manajemen LPPF pun menegaskan bahwa tidak ada perubahan dalam proses bisnis perseroan sebelum dan sesudah transaksi.

Adapun sehubungan rencana bisnis dalam 3 tahun ke depan akibat transaksi dengan Auric, perseroan melihat tidak adanya kebutuhan untuk mengubah rencana bisnis selama periode tersebut karena perubahan pengendali, begitu juga dengan kegiatan operasional dan keuangan.

Terkait strategi bisnis di era digital, manajemen LPPF juga mengatakan akan memanfaatkan teknologi digital melalui pengalaman berbelanja secara omnichannel.

"Melihat pentingnya pengalaman belanja fisik dan kehadiran secara online, pandemi telah mempercepat dan menyoroti permintaan atas pengalaman berbelanja omnichannel dalam melayani konsumen," ujar Miranti, dikutip keterbukaan informasi BEI, Kamis (5/8).

"Kami tidak memiliki fakta/informasi material/kejadian penting yang dapat berpengaruh signifikan terhadap Perseroan serta dipandang dapat mempengaruhi fluktuasi perdagangan saham Perseroan yang belum diungkapkan kepada publik dan wajib untuk segera diungkapkan kepada publik," kata Miranti.

Saat ini Auric asal Singapura itu memiliki 840.776.696 saham LPPF atau setara dengan 32% dari total modal ditempatkan dan disetor perseroan.

Dengan PT Multipolar Tbk (MLPL) menguasai 19,42%, College Retirement Equities Fund 5,96% dan sisanya kepemilikan publik sebesar 42,60%

Sebelumnya Auric Digital Retail menjadi pemegang saham perusahaan lewat Greater Universal pada Juni 2020 lalu. Sebelum tender offer, saham LPPF terdiri dari Multipolar 19,42%, UBS AG Singapore S/A Greater Universal Ltd 5,32%, dan UBS AG Singapore Non-Treaty 5,07%.

Pemegang saham lain yakni SSB C21 S/A College Retirement Equities Fund 5,42%, UOB Kayhian Pte Ltd 6,02%, UOB Kay Hian Pte Ltd AJC Referral Client 0%, dan Philip Securities Pte Ltd 6,19%. Investor publik tercatat memiliki 52,55% saham LPPF.

Pada penutupan perdagangan Kamis (5/8) di pasar modal, saham LPPF ditutup naik ke level Rp 1.875/saham dengan kapitalisasi Rp 4,92 triliun. Dalam seminggu saham ini naik 3,31%, selama sebulan terkoreksi 25,00% dan sejak awal tahun tumbuh 47,06%.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading