Internasional

Xi Jinping Rilis Yuan Digital, Joe Biden Ikutan Bikin juga?

Market - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
25 July 2021 13:14
FILE - In this Dec. 4, 2013, file photo, Chinese President Xi Jinping, right, shakes hands with then U.S. Vice President Joe Biden as they pose for photos at the Great Hall of the People in Beijing. As Americans celebrate or fume over the new president-elect, many in Asia are waking up to the reality of a Joe Biden administration with decidedly mixed feelings. Relief and hopes of economic and environmental revival jostle with needling anxiety and fears of inattention. The two nations are inexorably entwined, economically and politically, even as the U.S. military presence in the Pacific chafes against China’s expanded effort to have its way in what it sees as its natural sphere of influence. (AP Photo/Lintao Zhang, Pool, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping diketahui telah memiliki yuan digital yang akan segera diluncurkan kepada sebagian warganya.

Sebelumnya disebutkan bahwa yuan digital akan dicobakan di sektor pengiriman makanan (food delivery) melalui perusahaan startup Meituan Dianping.

Menurut sumber Bloomberg News, Meituan dalam tahap pembicaraan dengan bank sentral China, People Bank of China (PBoC) untuk menggunakan uang digital yang diberi mana Digital Currency Electronic Payment atau DCEP, seperti dikutip dari The Star.


Terbaru, CNBC International melaporkan China telah meluncurkan yuan digitalnya ke lebih dari satu juta warga China.

Lantas bagaimana dengan AS? Apakah akan ikutan juga?

Sama seperti negara lain, AS ternyata juga berproses mengembangkan mata uang digital sendiri atau jenis Central Bank Digital Currency (CBDC).

Namun jika China sudah meluncurkan uang digitalnya, AS masih berfokus di tahap penelitian.

Terdapat dua kelompok yang bertugas untuk penelitian, yaitu Digital Currency Initiative MIT (Institut Teknologi Massachusetts) dan bank sentral Federal Reserve Bank of Boston.

Keduanya sedang mengurai seperti apa mata uang digital untuk masyarakat AS dan poin soal privasi menjadi satu perhatian utama. Para analis di Negeri Paman Sam juga mengamati peluncuran yuan digital di China.

"Saya pikir jika ada dolar digital, privasi akan jadi bagian sangat-sangat penting, dari itu. AS sangat berbeda dari China," kata Direktur Digital Currency Initiative MIT Media Lab, Neha Narula, dikutip dari CNBC Internasional, Minggu (25/7/2021).

Namun ada tantangan lain soal mata uang digital, yakni penggunaan internet di AS yang rendah.

Pew Research Center melaporkan 7% warga Amerika tidak menggunakan internet. Untuk warga AS berkulit hitam naik 9% dan seluruh masyarakat AS dii atas usia 65 naik menjadi 25%.

Selain itu penyandang disabilitas di AS menyatakan, ada kemungkinan tiga kali lebih bahwa mereka tidak pernah online dibandingkan orang yang tidak memiliki disabilitas. Hal ini juga yang jadi penelitian dari MIT saat ini.

Narula mengatakan proyek yang dikerjakan menggunakan asumsi CBDC bisa hidup berdampingan dengan uang fisik. Masyarakat juga masih bisa menggunakan uang tunai fisik jika mau.

Salah satu tujuan CDBC di AS adalah tetap memastikan dolar AS jadi pemimpin moneter dalam ekonomi dunia.

"AS harusnya tidak bergantung pada kepemimpinannya sekarang di bidang ini [mata uang fisik]. Ini harus mendorong ke depan dan mengembangkan strategi jelas untuk bagaimana tetap kuat dan memanfaatkan kekuatan dolar AS," kata Darrell Duffie, profesor finance dari pascasarjana bisnis di Universitas Stanford.

Soal pandangan yuan digital ada juga yang menyatakan jadi ancaman berbahaya untuk negara Barat di masa depan.

"Yuan Digital adalah ancaman terbesar bagi Barat yang kami hadapi dalam 30-40 tahun terakhir. Ini akan membuat China menancapkan cakarnya pada semua orang di Barat dan memungkinkan mereka melakukan ekspor otoritarianisme digitalnya," kata Kyle Bass dari Hayman Capital Management.

Sementara di Indonesia, CBDC Indonesia alias rupiah digital juga masih tengah dalam kajian. Konsepnya masih dimatangkan agar implementasinya sesuai yang diharapkan.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono dalam dalam Taklimat Media, Jumat (25/6/2021).

Beberapa negara lain memang tengah gencar dalam menghadirkan mata uang digital seiring dengan pesatnya perkembangan kripto. Namun Indonesia, kata Erwin harus dilakukan bertahap.

"CBDC belum menjadi bagian di dalam working group blue print pengembangan pasar uang dan sistem pembayaran. Karena CBDC juga menyangkut platform teknologi dan sebagainya," jelas Erwin.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading