Internasional

Apa Benar AS Danai Riset Virus Covid-19 di Wuhan?

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
25 July 2021 08:25
Anthony Fauci. (AP/Kevin Dietsch)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdebatan panas soal asal-usul virus corona (Covid-19) terus berlanjut. Kali ini ada tudingan AS ikut mendanai riset soal virus di Wuhan, China.

Tudingan ini dilontarkan oleh Senator AS dari Partai Republik, Rand Paul. Dia menuduh uang AS digunakan mendanai penelitian di sana untuk membuat sejumlah virus, namun bukan virus corona yang lebih menular dan mematikan, atau lazim di dunia riset medis kenal sebagai gain-of-function, sebagaimana dilansir BBC, Minggu (25/7/2021).

Gain-of-function research biasa diistilahkan untuk penelitian medis yang mengubah organisme atau penyakit dengan cara yang meningkatkan patogenesis, transmisibilitas, atau jangkauan inang.


Sebelumnya juga terdapat teori jika ada virus bocor dari laboratorium di Wuhan. Kota di China itu terkenal karena menjadi pertama kali kasus Covid-19 dilaporkan dan menyebar ke seluruh dunia.

Berikut sejumlah fakta soal tudingan Rand Paul dan bantahan dari Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (National Institute of Allergy and Infectious Diseases/NIAID), Dr. Anthony Fauci.

Penelitian gain-of-function

Seperti disebutkan tadi bahwa gain-of-function adalah istilah penelitian medis yang mengubah organisme ke kemampuan baru atau fungsi barunya. Hal ini bisa terjadi di laboratorium. Para peneliti akan memodifikasi kode genetik atau menempatkan organisme di lingkungan berbeda. Tujuannya untuk mengubah organismen itu dalam beberapa cara.

Salah satu contohnya adalah mencoba membuat tanaman tahan kekeringan. Selain itu memodifikasi vektor penyakit pada nyamuk untuk membuat lebih kecil kemungkinan menularkan infeksi.

Dalam kasus virus yang bisa menimbulkan risiko untuk kesehatan manusia, artinya dengan gain-of-function bisa mengembangkan virus yang berpotensi lebih menular dan berbahaya.

Biaya dari AS

AS diketahui memang menyumbangkan sejumlah dana di penelitian itu. Fauci juga duduk menjadi Direktur NIAID, bagian dari Institusi Kesehatan Nasional (NIH) AS.

Badan tersebut memang memberikan suntikan dana pada organisasi, Eco Health yang bekerjasama dengan Institut Virologi Wuhan. EcoHealth diketahui menerima US$ 3,7 juta atau setara dengan Rp 54 miliar (kurs Rp 14.500/US$) dari NIH, dan US$ 600.000 atau Rp 8,7 miliar diberikan untuk Institut Virologi Wuhan.

Apakah uang AS digunakan untuk gain-of-function?

"[NIH] Tidak pernah dan sekarang tidak mendanai penelitian fungsi di Institut Virologi Wuhan," kata Fauci pada Mei lalu.

Rand Paul, pada pekan lalu bertanya apakah Fauci mau menarik pernyataan itu dan menambahkan jika dia berbohong dalam pernyataanya pada kongres maka itu adalah kejahatan.

Rand Paul yakin penelitian itu memenuhi syarat sebagai penelitian gain-of-function. Dia merujuk pada dua makalah akademisi oleh institut di China, satu adalah dari 2015 yang ditulis bersama dengan University of North Carolina dan satu lagi tahun 2017.

Prof Richard Ebright dari Rutgers University mengatakan jika penelitian kedua makalah itu menunjukkan virus baru yang belum ada secara alami diciptakan. Menurutnya ada risiko menciptakan patogen potensial baru yang lebih menular.

"Penelitian dalam kedua makalah tersebut merupakan penelitian gain-of-function," ungkapnya. Ucapan Richard Ebright ini juga dikutip oleh Rand Paul.

Fauci Membantah Tuduhan Rand Paul

Fauci mengatakan penelitian telah dievaluasi beberapa kali oleh orang yang berkualifikasi untuk tidak termasuk dalam gain-of-function. Dia menegaskan jika secara molekuler tidak mungkin virus menghasilkan virus corona, namun Fauci tidak memberikan informasi lebih lanjut.

Serupa dengan Fauci, NIH dan EcoHealth juga membantah tuduhan keduanya mendukung dan mendanai penelitian gain-of-function di China.

Kedua lembaga mengatakan dana itu digunakan untuk memeriksa pada tingkat molekuler virus kelelawar yang baru ditemukan dan protein lonjakan, "tanpa mempengaruhi lingkungan atau perkembangan atau keadaan fisiologis organisme".

Ralph Baric dari University of North Carolina, yang jadi ilmuwan dalam penelitian virus kelelawar tahun 2015 dengan Institut Wuhan juga ikut buka suara. Menurutnya proyek itu ditinjau NIH dan Komite keamanan hayati universitas.

Penelitian tahun 2015 juga tidak ada virus yang jadi subyek dan terkait SARS-CoV-2, ungkapnya.

Menurut Baric, pekerjaan mereka menunjukkan virus memiliki 'sifat intrinsik' yang memberikan kemampuan menginfeksi manusia.

"Kami tidak pernah memasukkan mutasi ke dalam lonjakan (virus) untuk meningkatkan pertumbuhan sel manusia," ujar dia.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading