Internasional

Efikasi Vaksin Pfizer vs Delta Negara Ini cuma 39%, kok Bisa?

News - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
25 July 2021 09:06
logo Pfizer. AP/Olivier Matthys

Jakarta, CNBC Indonesia - Di Israel, ternyata vaksin produksi Pfizer Inc. asal AS dan BioNtech Jerman hanya memiliki tingkat keefektifan atau efikasi 39% saat varian Delta menjadi strain dominan di sana.

Angka efikasi itu menurun dari efikasi yang dilaporkan beberapa pekan sebelumnya.

Meski keefektifan jauh di bawah 50%, namun vaksin Pfizer diklaim masih bisa memberikan perlindungan untuk penyakit parah dan rawat inap.


Data dari institusi kesehatan di Israel yang diterbitkan Kamis lalu menunjukkan vaksin tersebut masih efektif 88% untuk pasien rawat inap dan 91% pada penyakit parah.

"Kita harus sadar seiring waktu, efektivitas vaksin ini mungkin bergerak," kata profesor penyakit menular dari University of Toronton, Isaac Bogoch, seperti dikutip dari CNBC Internasional, Minggu (25/7/2021).

Bogoch mengatakan suntikan masih efektif untuk melawan infeksi parah serta membantu rumah sakit agar tidak kewalahan.

"Kita masih di era Covid dan apapun bisa terjadi," kata dia.

Selain itu, Bogoch mengatakan ada kemungkinan perlunya suntikan vaksin penguat (booster) pada masyarakat. Menurutnya semua pihak harus siap dan gesit soal adanya kemungkinan kebutuhan booster tersebut.

"Pengawasan ketat yang terjadi di negara seperti Israel, Inggris dan bagian dunia lain akan sangat membantu mendorong kebijakan jika dan kapan kita membutuhkan booster," jelasnya.

Angka efikasi yang dilaporkan itu menurun dari data antara 20 Juni dan 17 Juli pada jumlah orang yang tidak ditentukan yakni sekitar 64%.

Tingkat efikasi ini juga berbeda dengan data yang dikeluarkan Inggris yakni suntikan Pfizer dan BioNtech memiliki efikasi sebesar 88% melawan gejala yang disebabkan varian baru.

Varian Delta saat ini telah menyebar di lebih dari 104 negara. Pejabat kesehatan di AS juga mengkhawatirkan varian yang pertama kali ditemukan di India. Sebab ada lebih banyak infeksi, yang disebut terobosan, termasuk infeksi pada orang yang telah divaksinasi lengkap meski menunjukkan gejala ringan.

Anthony Fauci, Kepala Petugas Medis Gedung Putih, menyinggung soal pengguna masker sebagai upaya pencegahan varian delta.

Fauci yang juga Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (National Institute of Allergy and Infectious Diseases/NIAID), ini mengatakan masyarakat yang telah divaksinasi lengkap bisa mempertimbangkan mengenakan masker dalam ruangan.

Pakar kesehatan ini juga khawatir dengan adanya periode masuk ke musim gugur, di mana varian Delta diperkirakan bisa 'memukul' negara dengan tingkat vaksinasi rendah.

Kecuali pada negara bagian yang kembali memberi aturan soal penggunaan masker, batas kapasitas pertemuan, dan tindakan kesehatan lain yang sebelumnya sudah dibatalkan.

"Itu adalah sesuatu yang jelas tidak ingin kami lihat," ungkap Fauci pada Rabu, mengenai infeksi yang berpotensi terjadi.

"Virus ini jelas berbeda dengan virus dan varian yang pernah dialami sebelumnya. Ini memiliki kemampuan luar biasa untuk menularkan orang ke orang."


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading