IHSG Loyo Lagi, Asing Koleksi ANTM-INCO & Lepas UNVR-WIKA

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
23 July 2021 16:55
Tambang emas bawah tanah Pongkor, Jawa Barat, milik Antam (Doc.Antam)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah sempat bergerak melesat pada perdagangan kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini ditutup di zona merah. Indeks bursa saham acuan nasional tersebut ditutup melemah 0,58% ke level 6.101,69 pada perdagangan akhir pekan Jumat (23/7/2021).

Walaupun melemah, namun IHSG masih mampu bertahan di zona psikologis 6.100. Pelemahan IHSG terjadi di tengah kembali naiknya kasus virus corona (Covid-19) di dalam negeri.

Data perdagangan mencatat nilai transaksi hari ini naik menjadi Rp 12,4 triliun. Sebanyak 191 saham menguat, 277 saham melemah dan 172 lainnya mendatar.


Investor asing tercatat masih melakukan pembelian bersih (net buy) di pasar reguler sebesar Rp 202 miliar. Namun di pasar tunai dan negosiasi, asing tercatat melakukan aksi jual saham sebesar Rp 325 miliar.

Dari daftar net buy, asing tercatat mengoleksi beberapa saham, di mana asing secara mayoritas mengoleksi saham emiten pertambangan seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Berikut saham-saham yang dikoleksi oleh investor asing pada hari ini.

Sementara dari daftar net sell, saham bank berkapitalisasi pasar 'jumbo', yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling banyak dilepas oleh asing hingga turut memperberat kinerja IHSG pada hari ini.

Selain saham BBCA, asing juga tercatat melepas saham kontruksi BUMN, yakni PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Adapun saham-saham yang dikoleksi oleh investor asing pada hari ini adalah:

Kasus penyakit Covid-19 kembali mencatat kenaikan signifikan, setelah menunjukkan tren menurun dalam 6 hari sebelumnya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, kasus baru per Kamis (22/7/2021) sore bertambah 49.509 pasien, naik dari hari sebelumnya sebanyak 33.772 orang, yang merupakan yang terendah sejak 6 Juli.

Kenaikan tersebut tentunya membuat pelaku pasar kembali was-was, sebab jika kembali menanjak maka rencana pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 dan 4 pada 26 Juli mendatang bisa jadi batal.

Hal tersebut tentunya menjadi kabar buruk, perekonomian Indonesia berisiko merosot lagi. Apalagi Bank Indonesia (BI) kemarin memangkas proyeksi produk domestik bruto (PDB) tahun ini.

BI memproyeksi PDB RI akan berada di kisaran 3,5%-4,3% lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 4,1-5,1%.

Selanjutnya, dari Negeri Paman Sam Amerika Serikat (AS) juga akan melaporkan data indeks manajer pembelian (Purchasing Manager's Index/PMI) manufaktur per Juli 2021 pada pukul 20.45 WIB. Pada Juni lalu, PMI manufaktur AS berada di 62,1 sama seperti posisi Mei.

Menurut data dari Trading Economics, posisi PMI manufaktur AS pada Juni-Mei lalu menunjukkan peningkatan yang signifikan, yang merupakan terkuat sejak pengumpulan data dimulai pada Mei 2007, menyusul pelonggaran pembatasan Covid-19.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading