Analisis

Fitch Sebut Bisnis Ritel & Otomotif 'Babak Belur', Apa Benar?

Market - Putra, CNBC Indonesia
23 July 2021 15:45
Suasana mobil ekspor di Terminal Kendaraan, Tanjung Priok Jakarta. Jumat (13/4) Berdasarkan data BPS, ekspor mobil penumpang asal Indonesia ke Vietnam pada bulan Januari-November 2017 tercatat sebesar US$ 241,2 juta. Nilai ini meningkat 1.256,5% (YoY) dibandingkan tahun 2016 yang sebesar US$ 17,782 juta. Indonesia menempati peringkat ke-3 negara pengekspor mobil penumpang ke Vietnam setelah Thailand dan China dengan pangsa pasar 13,12%. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia- Perusahaan pemeringkatan global yang berbasis di AS dan London, Fitch Ratings, memprediksi bahwa varian Covid-19 dapat mengancam prospek perusahaan Indonesia. Hal ini terkait dengan pembatasan sosial yang harus diterapkan akibat munculnya varian Covid-19.

Dalam keterangan resmi bertajuk Non-Rating Action Commentary, Fitch Ratings menyampaikan bahwa mereka percaya penyebaran varian Covid-19 yang lebih menular akan mengancam prospek pertumbuhan perusahaan di Indonesia.

Fitch menilai, kondisi ini berpotensi mengurangi keuntungan atau laba bersih yang dicapai oleh sektor korporasi non-keuangan di paruh pertama 2021 atau semester pertama.


Fitch menerangkan bahwa rating pemeringkatan emiten atau perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan sangat berpengaruh pada beberapa segmen bisnis, seperti perusahaan penjual mobil (ritel otomotif) yang bergantung pada pelanggan atau pedagang eceran (ritel konsumer) dan pemilik mal ritel.

Bagaimana kinerja saham serta kinerja keuangan emiten-emiten otomotif yang melantai di bursa?

Simak tabel berikut, mengacu data perdagangan saham di BEI, sesi I, Jumat ini (23/7).

Tercatat untuk kuartal pertama tahun 2021, kinerja saham-saham otomotif bisa dibilang kurang impresif. Lihat saja raja otomotif di Indonesia PT Astra International Tbk (ASII) yang meskipun masih mampu membukukan laba Rp 3,73 triliun, sejatinya angka ini turun parah 22% dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu.

Hal inilah yang menyebabkan investor cenderung meninggalkan saham Astra.

Tercatat sejak tahun berjalan ASII sudah terkoreksi parah 18,01% ke level harga Rp 4.940/unit. Bahkan pada periode yang sama investor asing sudah kabur dari saham ASII sebesar Rp 1,07 triliun.

Selanjutnya emiten otomotif Grup Salim, PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) juga memiliki kinerja yang buruk. Bahkan tercatat di kuartal pertama tahun 2021, IMAS masih merugi parah Rp 61 miliar.

Efeknya terhadap saham IMAS juga sangat mengenaskan. Data perdagangan menunjukkan saham IMAS ambruk 41,91% ke level harga Rp 880/unit.

Hanya emiten otomotif Grup Saratoga PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) yang berhasil membukukan kinerja yang apik.

Di kuartal pertama tahun 2021, MPMX berhasil membukukan laba sebesar Rp 120 miliar. Bahkan sejatinya angka ini naik 80% dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu.

Pasar pun mengapresiasi. Tercatat saham MPMX sudah melesat 43,72% ke level harga Rp 710/unit sejak awal tahun.

Untuk emiten peritel, secara kinerja keuangan memang mayoritas masih terdampak parah dimana 5 di antara 7 peritel masih membukukan rugi bersih atau penurunan kinerja awal tahun ini, akan tetapi muncul kontradiksi di kinerja sahamnya.

Perusahaan ritel pengelola Hypermart PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) dan pengelola gerai Matahari PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) membukukan rugi bersih terbanyak di antara peritel lainya yakni masing-masing Rp 405 miliar dan Rp 95 miliar.

Akan tetapi kinerja kedua saham menjadi yang tertinggi di antara peritel peritel lainya dimana MPPA naik 771% dan LPPF melesat 41,96%. Hal ini tentunya tidak terlepas dari adanya investor baru yang masuk ke masing-masing saham yang ke depanya diprediksikan akan mendatangkan perubahan masif yang akan memperbaiki kinerja keuangan emiten tersebut.

MPPA kedatangan dua investor strategis baru yakni Gojek dan Temasek yang masuk melalui Andersen Pte LTD.

Kedatangan dua raksasa tersebut dikabarkan akan mentransformasikan bisnis Hypermart ke arah digital. Sedangkan untuk LPPF, emiten peritel tersebut kedatangan pengendali baru di bawah Auric Capital yang mengambil alih kontrol pengendali dari Grup Lippo.

Sedangkan untuk peritel dengan kinerja terbaik jatuh kepada PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) yang sukses membukukan laba Rp 278 miliar naik 184% dari posisi tahun lalu yang menyebabkan harga sahamnya melesat 34% sejak awal tahun.

Terkurungnya masyarakat di rumah dan sistem belajar dan bekerja secara daring menyebabkan permintaan akan ponsel pintar dan elektronik lainya semakin naik.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading