Top Rupiah! Dolar Australia Dibuat Melemah 5 Hari Beruntun

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
09 July 2021 10:09
Ilustrasi dolar Australia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah memang sedang dibayangi sentimen negatif dari lonjakan kasus penyakit virus corona (Covid-19). Tetapi berhadapan dengan dolar Australia, Mata Uang Garuda perkasa. Hingga perdagangan Jumat (9/7/2021) dolar Australia sudah dibuat melemah 5 hari beruntun.

Pada pukul 9:39 WIB, AU$ 1 setara Rp 10.774, dolar Australia melemah 0,11% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Jika hingga penutupan perdagangan nanti tertahan di zona merah, maka rupiah akan mencatat pekan sempurna melawan dolar Australia di pekan ini. Dalam 4 hari terakhir, total pelemahnya sebesar 1,36%.

Memburuknya sentimen pelaku pasar sejak Kamis kemarin melukai dolar Australia. Pergerakan dolar Australia biasanya dikaitkan dengan bursa saham global, ketika bursa saham menguat dolar Australia akan ikut menanjak, begitu juga sebaliknya.


Sejak kemarin, bursa saham global mengalami aksi jual, alhasil dolar Australia ikut tertekan.

Dolar Australia punya kaitan erat dengan pergerakan bursa saham global sebab menjadi indikator perekonomian. Kala bursa saham global menguat, artinya pelaku pasar optimistis perekonomian membaik. Saat perekonomian membaik, maka permintaan komoditas dari Australia akan meningkat.

Rupiah juga sebenarnya ikut terpukul oleh memburuknya sentimen pelaku pasar sebab merupakan mata uang emerging market. Tetapi dampak ke dolar Australia lebih besar, sebab ada sentimen negatif utama yang membayangi, yakni pengumuman kebijakan moneter bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA).

RBA dalam pengumuman kebijakan moneter Selasa lalu memutuskan mempertahankan suku bunga di rekor terendah 0,1%. RBA juga mengakui jika pemulihan ekonomi lebih kuat dari prediksi. Tetapi bukannya mengetatkan kebijakan moneter, RBA justru memperpanjang stimulusnya melalui program pembelian obligasi (quantitative easing/QE).

Sikap dovish tersebut membuat dolar Australia terus melemah.

QE bank sentral Australia ini senilai AU$ 5 miliar per pekan, dan berakhir pada bulan September nanti. Tetapi akan diperpanjang dengan mengurangi nilai pembelian menjadi AU$ 4 miliar per pekan.

RBA melalui sang gubernur Philip Lowe pada hari ini sekali lagi menegaskan tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Lowe menegaskan suku bunga tidak akan dinaikkan hingga tingkat pengangguran turun menjadi 4% dari saat ini 5,1%, dan inflasi naik ke kisaran 2% hingga 3%.

Sama dengan sebelum-sebelumnya, target bank sentral tersebut diperkirakan baru akan tercapai pada tahun 2024.

"Inflasi saat ini masih belum mencapai target. Kami ingin melihat inflasi mencapai target sebelum menaikkan suku bunga," kata Lowe, sebagaimana dilansir Reuters.

"Kami akan tetap menggelontorkan stimulus moneter dengan membeli obligasi sampai kita melihat kemajuan yang signifikan," tegas Lowe.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading