Merah 5 Hari Beruntun, Rupiah Nyaris Tembus Rp 14.600/US$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
02 July 2021 15:47
Warga melintas di depan toko penukaran uang di Kawasan Blok M, Jakarta, Jumat (20/7). di tempat penukaran uang ini dollar ditransaksikan di Rp 14.550. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan penutupan perdagangan kemarin. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah sekali lagi terpuruk melawan dolar Amerika Serikat (AS), tidak pernah menguat sekalipun sepanjang perdagangan pekan ini. Dolar AS yang sedang kuat-kuatnya menekan rupiah hingga nyaris menyentuh Rp 14.600/US$. 

Pada perdagangan Jumat (2/7/2021), rupiah melemah 0,21% ke Rp 14.530/US$, setelah sebelumnya sempat menyentuh level Rp 14.565/US$ yang merupakan level terlemah sejak 16 April lalu, melansir data Refinitiv.

Sepanjang pekan ini, rupiah melemah 0,76%. Dua pekan lalu, Mata Uang Garuda juga bernasib sama, tidak pernah menguat dalam 5 hari perdagangan, total pelemahannya 1,28%.


Pelaku pasar saat ini menanti rilis data tenaga kerja AS yang membuat rupiah sulit menguat. Maklum saja, data tersebut merupakan salah satu acuan bank sentral AS (The Fed) dalam menetapkan kebijakan moneter khususnya tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) dan suku bunga.

Apalagi, hasil polling Reuters terhadap para ekonom menunjukkan sepanjang bulan Juni penambahan pekerja di luar sektor pertanian (non-farm payroll) diprediksi sebanyak 700.000 orang, lebih banyak dibandingkan penambahan bulan Mei 559.000 orang. Sementara tingkat pengangguran diprediksi turun menjadi 5,7% dari sebelumnya 5,8%.

Dolar AS berpeluang menguat lebih lanjut jika data tersebut sesuai ekspektasi atau lebih baik lagi.

"Pada umumnya kami melihat dolar AS akan tetap kuat pada hari Jumat sebelum rilis data tenaga kerja," kata Ned Rumpeltin, kepala ahli strategi mata uang di TD Securities dalam sebuah catatan, sebagaimana dikutip CNBC International, Kamis (1/7/2021).

Data tenaga kerja AS akan dirilis malam ini, dan laju penguatan indeks dolar AS masih belum terbendung. Kemarin indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini kembali menguat 0,17% ke 92,597 yang merupakan level terkuat sejak 6 April. Hingga Kamis, indeks dolar AS sudah menguat selama 7 hari beruntun.

Sementara itu, dari dalam negeri Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro Darurat resmi diumumkan Kamis kemarin dan berlaku mulai 3 Juli, yang langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Setelah dapatkan banyak masukan, menteri, ahli kesehatan dan kepala darah saya memutuskan untuk memberlakukan PPKM darurat sejak 3 Juli hingga 20 Juli 2021 khusus untuk Jawa Bali," kata Jokowi melalui youtube Sekretariat Presiden, Kamis (1/7/2021).

PPKM Mikro Darurat dilakukan guna meredam penyebaran Covid-19 yang "meledak" dalam beberapa pekan terakhir. Kemarin, jumlah kasuh positif Covid-19 dilaporkan sebanyak 24.836 orang, jauh di atas rekor sebelumnya 21.807 kasus yang dicatat hari sebelumnya.

Lonjakan Covid-19 tersebut sudah menggerogoti sektor manufaktur.

IHS Markit melaporkan kabar kurang bagus. Aktivitas manufaktur yang diukur dengan Purchasing Managers' Index (PMI) pada Juni 2021 dilaporkan 53,5.

Meski masih menunjukkan ekspansi (angka indeks di atas 50), tetapi menunjukkan pelambatan dari sebelumnya sebesar 55,3 di mana kala itu menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah pencatatan.

"Pertumbuhan sektor manufaktur Indonesia pada Juni mengalami perlambatan akibat gelombang kedua serangan virus corona. Produksi tetap tumbuh dengan kuat meski dampak pandemi perlu dilihat dalam beberapa bulan ke depan.

Sektor manufaktur sendiri berkontribusi sekitar 20% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia, sehingga berlanjutnya ekspansi menjadi sangat penting guna memulihkan perekonomian.

Laju ekspansi tersebut berisiko melambat lebih jauh, sebab PPKM Mikro Darurat yang lebih ketat kabarnya akan diterapkan di awal Juli.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading