Kemarin Jeblok di Bawah 6.000, IHSG Mau ke Mana Hari Ini?

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
29 June 2021 06:10
Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ditutup kurang memuaskan pada perdagangan awal pekan Senin (28/5/2021). Di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), rupiah, dan obligasi pemerintah atau surat berharga negara kompak ditutup di zona merah pada perdagangan kemarin.

IHSG kembali ditutup ambruk pada penutupan perdagangan menyusul berlarutnya kasus virus corona (Covid)-19 di Tanah Air. Indeks saham acuan Tanah Air tersebut ditutup jeblok 1,38% ke level 5.939,47.


Sejak penutupan sesi I Senin kemarin, IHSG tak kunjung kembali ke zona hijau dan terpaksa ditutup di bawah level psikologis 6.000. Data perdagangan mencatat sebanyak 139 saham menguat, 380 saham melemah dan 117 lainnya stagnan sementara nilai transaksi pada perdagangan kemarin naik tipis menjadi Rp 11,5 triliun.

Investor asing tercatat kembali melakukan aksi jual bersih (net sell) di pasar reguler sebesar Rp 221 miliar. Namun di pasar tunai dan negosiasi, asing melakukan pembelian bersih (net buy) sebanyak Rp 289 miliar.

Pergerakan IHSG cenderung mengikuti bursa saham Asia yang secara mayoritas ditutup melemah pada perdagangan kemarin. Namun sayangnya, IHSG memimpin pelemahan bursa saham Asia pada perdagangan kemarin.

Hanya indeks Weighted Taiwan dan indeks Straits Times Singapura yang ditutup menguat pada perdagangan kemarin. Indeks Weighted menguat 0,5%, sedangkan Straits Times berakhir tumbuh 0,17%.

Berikut pergerakan IHSG dan bursa Asia pada perdagangan Senin:

Sedangkan untuk mata uang Garuda, yakni rupiah, pada perdagangan kemarin juga ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). US$ 1 setara dengan Rp 14.440 kala penutupan pasar spot.

Rupiah melemah 0,14% dibandingkan posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Padahal kala pembukaan pasar rupiah masih bisa menguat 0,14%.

Namun seiring perjalanan, apresiasi itu berkurang dan habis. Kemudian rupiah malah masuk jalur merah.

Senasib dengan rupiah, mayoritas mata uang utama Asia juga tidak berdaya menghadapi dolar AS. Hanya yen Jepang dan ringgit Malaysia yang masih bisa membukukan apresiasi.

Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia pada Senin (28/6/2021).

Sementara itu, pergerakan harga SBN pada perdagangan kemarin juga terpantau melemah, ditandai dengan kenaikan imbal hasilnya (yield) di seluruh tenor SBN acuan. Investor mengabaikan perkembangan pandemi Covid-19 RI yang semakin mengkhawatirkan dan tetap melepas kepemilikannya di SBN pada perdagangan kemarin.

Kenaikan yield terbesar terjadi di SBN bertenor 10 tahun yang merupakan obligasi acuan negara. Yakni naik sebesar 6,4 basis poin (bp) ke level 6,591%.

Sementara untuk kenaikan yield terkecil terjadi di SBN berjatuh tempo 1 tahun, 20 tahun, dan 25 tahun yang sama-sama naik sebesar 0,7 bp pada hari ini.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga kenaikan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang melemah, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Perkembangan pandemi Covid-19 semakin mengkhawatirkan, di mana pada Senin kemarin, kasus baru virus corona (Covid-19) di Indonesia kembali bertambah 20.694 orang. Ini merupakan rekor tertinggi ketiga dalam penambahan kasus baru dalam satu hari selama pandemi

Jumlah kasus baru tersebut membuat akumulasi kasus positif menjadi 2,135 juta orang. Hasil positif tersebut ditemukan dari 80.308 orang yang selesai diperiksa pada hari ini dan kemarin.

Kabar baiknya, pada hari ini kasus kesembuhan kembali bertambah 9.480 orang sehingga totalnya menjadi 1,859 juta orang.

Dengan pertambahan yang terjadi pada hari ini maka kasus aktif Covid-19 di Indonesia menembus 218.476 kasus, bertambah 10.791 orang dibandingkan sehari sebelumnya. Ini merupakan rekor untuk kasus aktif Covid-19 di Indonesia.

Saham Teknologi Melesat, Wall Street Menghijau Kembali, Kecuali Dow Jones
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading