Cuma Nafas Sehari, Tren Buruk Rupiah Berlanjut! Ini Pemicunya

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
23 June 2021 16:07
Karyawan menunjukkan pecahan uang dollar di salah satu tempat penukaran uang di kawasan Blok M, Kebayoran Baru, Jumat (16/3/2018). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah kemarin sukses menghentikan pelemahan dalam 6 hari beruntun melawan dolar Amerika Serikat (AS). Namun, pada perdagangan Rabu (23/6/2021) tren buruk tersebut kembali berlanjut.

Rupiah pada perdagangan hari ini melemah 0,21% ke Rp 14.430/US$ di pasar spot, melansir data Refinitiv. Sebelumnya, Mata Uang Garuda bahkan sempat menyentuh Rp 14.455/US$ yang merupakan level terlemah sejak 3 Mei lalu.

Rupiah tidak sendirian, kecuali rupee India semua mata uang utama Asia melemah melawan dolar AS. Hingga pukul 15:11 WIB, baht Thailand menjadi yang terburuk dengan pelemahan 0,41%, disusul won Korea Selatan, dan rupiah melengkapi 3 besar terburuk.


Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia.

Dolar AS sebenarnya sedang tertekan, tetapi tidak terhadap mata uang emerging market ataupun mata uang Asia. Indeks dolar AS sore ini melemah tipis 0,07% melanjutkan penurunan sejak awal pekan.

Koreksi terjadi sebab pelaku pasar menanti testimoni Powell pada Selasa waktu setempat guna mencari kejelasan tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) dalam testimoninya pada Selasa waktu setempat.

Powell yang menegaskan inflasi yang tinggi hanya sementara, akibat perekonomian yang kembali dibuka, dengan permintaan yang tinggi tetapi masih belum mampu dimibangi dengan supply.

Selain itu, Powell juga mengatakan tidak akan terburu-buru untuk menaikkan suku bunga. "Kami tidak akan menaikkan suku bunga hanya karena kekhawatiran kemungkinan percepatan laju inflasi. Kami akan menunggu lebih banyak bukti mengenai inflasi. Percepatan laju inflasi saat ini belum mencerminkan ekonomi secara keseluruhan, tetapi adalah efek langsung dari reopening," jelas Powell.

Sementara itu, rupiah yang melemah mengindikasikan masih belum bagusnya sentimen di dalam negeri akibat lonjakan kasus Covid-19.

"Kami masih belum mengubah proyeksi bahwa dolar AS akan menjalani tren pelemahan. The Fed belum mengirim sinyal hawkish lagi, Ketua Powell kembali mengubur kemungkinan tapering. The Fed sepertinya masih akan tertinggal di antara negara-negara maju dalam hal mengurangi kebijakan akomodatif," sebut riset Well Fargo.

Sementara itu, sentimen terhadap rupiah masih belum stabil akibat lonjakan kasus penyakit virus corona (Covid-19).

Senin lalu, jumlah kasus positif Covid-19 dilaporkan bertambah 14.536 orang per hari, terbanyak sepanjang pandemi sejak Maret tahun lalu. Rekor sebelumnya, 14.518 kasus positif per hari, yang tercatat pada 30 Januari lalu.

Sementara Selasa kemarin, jumlah kasus baru dilaporkan 13.668 orang, menurun dari hari sebelumnya, tetapi masih termasuk tinggi. Sudah enam hari beruntun pasien baru bertambah lebih dari 10.000.

Selama 14 hari terakhir, rata-rata penambahan pasien baru adalah 10.628 orang per hari. Melonjak tajam dibandingkan rerata 14 hari sebelumnya yakni 5.938 orang setiap harinya.

Hal yang patut menjadi perhatian adalah angka kasus aktif yang terus meningkat. Kasus aktif menggambarkan pasien yang masih dalam perawatan, baik di fasilitas kesehatan maupun mandiri. Data ini menggambarkan seberapa berat beban yang ditanggung sistem pelayanan kesehatan di suatu negara.

Pada 22 Juni 2021, angka kasus aktif berada di 152.686 orang, bertambah 4.958 dari hari sebelumnya. Angka kasus aktif berada di posisi tertinggi sejak 1 Maret 2021.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading