Sri Mulyani Bongkar Sektor Ini Picu Kredit Macet, Cek Datanya

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
16 June 2021 06:22
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) Ketua BNN Budi Waseso (kanan) bekerja sama dengan direktorat jenderal bea dan cukai saat memberikan keterangan pers terkait  membongkar tiga kasus penyelundupan Narkotika di aceh dan Medan , Jakarta, Rabu (7/02) Bea Cukai dan BNN berhasil mengamankan lebih dari 110,84 kg sabu dan 18.300 butir ekstasi selama bulan januari 2018.

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati baru-baru ini mengungkapkan sejumlah sektor yang sulit bangkit setelah terimbas dampak pandemi Covid-19. Sektor-sektor ini berpotensi memicu 'ledakan' kredit bermasalah di perbankan.

Sektor tersebut termasuk kelompok slow starter yang mengalami kontraksi penjualan paling dalam, jauh di bawah sektor industri. Kelompok ini mengalami dampak terdalam akibat Covid-19 dan sangat bergantung pada pulihnya aktivitas masyarakat.

Sektor-sektor yang dimaksud oleh Sri Mulyani ialah perdagangan, konstruksi, transportasi dan jasa.


"Kelompok slow starter yakni perdagangan, konstruksi, transportasi, dan jasa-jasa. Ini kelompok mengalami knock down effect yang sangat dalam karena Covid, korelasinya negatif. Ketika Covid naik mereka turun, ketika Covid turun mereka pulih tapi slow. Nah ini jadinya tidak simetris," jelas Sri Mulyani, saat rapat kerja dengan Komisi XI, Senin (14/6/2021).

Sementara sektor ekonomi yang menjadi growth driver, kata Sri Mulyani, berasal dari sektor manufaktur.

Meskipun terpukul, tapi sektor tersebut saat ini sudah mulai tumbuh. Return of asset-nya pun sudah mulai pulih, tercermin pada kuartal IV-2021 sudah mulai menyentuh 3,67%.

Kendati demikian, profitabilitas baik kelompok slow starter dan growth driver masih sangat rendah.

"Kemampuan membayar kelompok resilience berada di atas threshold [ambang batas] 1,5 sementara kelompok slow starter dan growth driver di bawah threshold atau rendah," jelas Sri Mulyani.

Hal itu, lanjut Sri Mulyani, akan membuat interest coverage ratio (ICR) atau kemampuan membayar, baik itu bagi kelompok slow starter dan growth driver perlu diintervensi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"ICR atau kemampuan untuk membayar pinjaman. Ini persoalan di OJK, untuk memberikan pinjaman. Untuk sektor yang semakin terpukul makin tidak mau (bayar), ini kita perlu intervensi," tuturnya.

Karena itu, Sri Mulyani bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) berencana mengintervensi sektor-sektor tersebut agar tidak memicu kenaikan angka kredit bermasalah alias non-performing loan (NPL) yang signifikan.

"Kalau yang terpukul pulih dan langsung dapat kredit baru. Tapi yang terpukul dan tidak pulih, bank akan menghindari untuk meminjamkan di sektor ini. Ini tantangan pemulihan ekonomi dan akan terus membahasnya di KSSK," jelas Sri Mulyani.

Lantas, sebenarnya seberapa besar porsi kredit dan angka NPL sektor-sektor di atas?

Apakah angkanya mengalami tren kenaikan atau malah menurun?

Tim Riset CNBC Indonesia akan membahas secara ringkas posisi porsi kredit sektor perdagangan, konstruksi, dan transportasi untuk melihat tren pertumbuhan kredit dan NPL ketiga sektor tersebut.

NEXT: Analisis sektor-sektor

Porsi Kredit dan NPL Konstruksi sampai Perdagangan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading