BCA Pede Bisnis Kartu Kredit Naik 6% di 2021, Ini Alasannya!

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
03 June 2021 18:10
Workers are seen near the logo of Bank Central Asia, or BCA, in Sudirman Business District in Jakarta, Indonesia, September 7, 2018. REUTERS/Willy Kurniawan

Jakarta, CNBC Indonesia - Bisnis kartu kredit di masa pandemi Covid-19 masih tumbuh melambat. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menargetkan, pada tahun ini pertumbuhan bisnis kartu kredit di kisaran 5% sampai dengan 6%.

Executive Vice President BCA, I Ketut Alam Wangsawijaya mengungkapkan, pertumbuhan bisnis kartu kredit masih relatif melandai lantaran masih adanya beberapa sektor yang masih belum tumbuh seperti di sektor pariwisata karena pembatasan perjalanan ke luar negeri dan sektor pendidikan lantaran kebijakan pemerintah yang belum membolehkan sekolah tatap muka.

"Dari sisi pertumbuhan, masih single digit, kalau kita lihat pertumbuhan sudah meningkat walau masih single digit 2-3% kalau dibanding tahun lalu," kata Ketut, dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (3/6/2021).


Ketut menuturkan, selain adanya sektor bisnis yang belum tumbuh secara optimal, risiko kredit cenderung mengalami peningkatan di masa pandemi, sehingga untuk akuisisi nasabah baru, BCA akan cenderung berhati-hati.

"Kita perketat dari sisi segmentasinya, yang lebih berisiko kita batasi. Di dalam tahun normal bisa tumbuh 10-12%, di situasi pandemi hanya akan 5-6%," bebernya.

Namun demikian, situasi ini masih mempertimbangkan risiko ketidakpastian akibat pandemi Covid-19.

Untuk menggenjot bisnis kartu kredit tersebut, BCA bekerjasama dengan UnionPay meluncurkan kartu kredit BCA UnionPay. Kartu kredit tersebut menyasar segmen masyarakat yang senang melakukan traveling ke luar negeri. Namun, salah satu fitur yang menjadi pembeda ialah contactless.

"Secara fungsi, kartu kredit ini pertama yang ada fitur contactless, semua akan punya fitur yang sama [dengan cc lain]," ujarnya.

Sebagai informasi saja, sampai dengan kuartal pertama tahun ini, outstanding kartu kredit BCA masih mengalami penurunan sebesar 10,2% secara tahunan menjadi Rp 11,1 triliun.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading