Newsletter

IHSG 'Standing dan Terbang' 3% Lebih, Awas Profit Taking!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
03 June 2021 05:54
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri bervariasi pada perdagangan Rabu (2/6/2021), meski data dari dalam negeri menunjukkan bangkitnya perekonomian. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses melesat 1,41% ke 6.031,578, yang merupakan level tertinggi sejak 20 April lalu. IHSG sukses melanjutkan kinerja impresif di awal pekan saat menguat 1,67%. Artinya dalam 2 hari perdagangan bursa kebanggaan Tanah Air "standing dan terbang" lebih dari 3%.

Kenaikan tajam IHSG tersebut berisiko memicu aksi ambil untung (profit taking) pada perdagangan hari ini, Kamis (3/6/2021). Faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan IHSG, rupiah hingga obligasi akan dibahas pada halaman 3. 

Dari lantai bursa, investor asing kembali memborong kemarin, data pasar mencatat aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 594 miliar, dengan nilai transaksi hampir Rp 15 triliun.


Sementara itu nilai tukar rupiah berakhir stagnan melawan dolar Amerika Serikat (AS) di Rp 14.275/US$, meski di awal perdagangan sempat menguat 0,32%.

Kemudian dari pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) bervariasi ada yang turun ada yang naik. Yield SBN yang mengalami penurunan yakni tenor 1, 5, 20, dan 30 tahun.

Sebelum perdagangan kemarin dibuka, IHS Markit merilis data aktivitas sektor manufaktur bulan Mei yang dilihat dari purchasing managers' index (PMI). Data menunjukkan PMI manufaktur Indonesia bulan Mei sebesar 55,3, melesat dibandingkan bulan sebelumnya 54,6.

PMI manufaktur di bulan April tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang masa, artinya di bulan Mei rekor tersebut pecah lagi.

Terus meningkatnya ekspansi sektor manufaktur tentunya menjadi kabar bagus bagi Indonesia, dan memperkuat optimisme akan lepas dari resesi di kuartal II-2021. Sektor manufaktur sendiri berkontribusi sekitar 20% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data inflasi Indonesia periode Mei 2021. Hasilnya tidak jauh dari ekspektasi pasar.

BPS melaporkan terjadi inflasi 0,32% pada Mei 2021 dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Sementara dibandingkan Mei 2020 (year-on-year/yoy), laju inflasi tercatat 1,68%.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan laju inflasi bulan kelima tahun ini di 0,305% mtm. Sementara laju inflasi dibandingkan Mei 2020 diperkirakan sebesar 1,67%.

Inflasi inti dilaporkan tumbuh 1,37% YoY, sama persis dengan konsensus. Kenaikan inflasi tersebut bisa menjadi indikasi daya beli masyarakat yang membaik.

Namun di sisi lain, ketika inflasi mulai naik maka obligasi menjadi kurang menarik, sebab real return menjadi lebih rendah. Hal tersebut membuat harga SBN bervariasi kemarin.

Meski demikian, lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara kemarin ramai peminat. Dalam proses lelang tersebut, permintaan (demand) investor yang masuk kembali sebesar Rp 44,6 triliun, jauh lebih tinggi dari lelang sebelumnya yang digelar pada tanggal 4 Mei lalu sebesar Rp 19,9 triliun.

Dari total penawaran masuk, yang dimenangkan sebesar Rp 11 triliun, lebih tinggi dari target indikatif pemerintah Rp 10 triliun.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Tunggu Data Tenaga Kerja, Wall Street Naik Tipis-Tipis

Tunggu Data Tenaga Kerja, Wall Street Naik Tipis-Tipis
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading