OPEC+ Bakal 'Kopi Darat', Harga Minyak Dunia Melesat!

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
31 May 2021 11:47
FILE PHOTO: A man fixes a sign with OPEC's logo next to its headquarter's entrance before a meeting of OPEC oil ministers in Vienna, Austria, November 29, 2017. REUTERS/Heinz-Peter Bader/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah turut terdongkrak oleh prospek permintaan yang membaik. Saat ini investor kembali memantau perkembangan produksi dari para kartel yang tergabung dalam OPEC+ yang bakal menggelar pertemuan pekan ini.

Di sesi awal perdagangan Asia pekan ini, Senin (31/5/2021) harga kontrak minyak Brent naik 0,1% ke US$ 68,79/barel. Sementara itu untuk kontrak West Texas Intermediate (WTI) harganya naik 0,2% ke US$ 66,45/barel.

Namun harga minyak mentah berubah arah. Pada pukul 10.40 WIB, harga kontrak Brent melemah 0,12% ke US$ 68,64/barel sementara untuk kontrakWTIkembali ke posisi penutupan minggu lalu di US$ 66,1/barel.


"Didorong data ekonomi yang bagus sertarisk appetitepelaku pasar di pasar finansial, minyak Brent kembali mendekati level psikologis US$ 70/barel," kata Eugen Weinberg, analis di Commerzbank, sebagaimana dilansir CNBC International, dikutip Senin (31/5/2021).

Data dari AS menunjukkan pada pekan yang berakhir 22 Mei 2021, jumlah klaim tunjangan pengangguran turun 38.000 menjadi 406.000. Ini adalah jumlah klaim terendah sejak Maret tahun lalu. Perlahan tetapi pasti, pasar tenaga kerja AS bangkit menuju normal sebelum terhantam pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19).

"Ekonomi terus berlari. Ke depan, pertumbuhan ekonomi akan didorong oleh keluarnya tabungan masyarakat yang menumpuk pada masa pandemi," kata Scott Hoyt, Ekonom Senior Moody's Analytics, seperti dikutip dariReuters.

Ketika perekonomian AS semakin membaik, permintaan minyak mentah tentunya akan meningkat. Sebab, Negeri Paman Sam merupakan konsumen minyak mentah terbesar di dunia.

Para analis kini memperkirakan permintaan minyak mentah akan mendekati 100 barel per hari di kuartal III tahun ini. Permintaan tersebut khususnya dipicu musim panas di Eropa serta AS yang biasanya membuat warganya berpergian. Apalagi dengan program vaksinasi yang terus dilakukan, sehingga mobilitas warga kemungkinan akan mengalami peningkatan.

"Permintaan bensin saat ini sudah melewati level 2019 di beberapa area," kata analis dari ANZ dalam sebuah catatan yang dikutip CNBC International.

Sebanyak 34 juta warga Amerika Serikat diperkirakan akan berpergian menggunakan kendaraan antara 27 hingga 31 Mei, yang merupakan libur akhir pekan sekaligus menandai awal musim panas.

Sementara itu, produksi minyak mentah di AS naik 14,3% menjadi 11,2 juta barel per hari pada bulan Maret lalu, berdasarkan data terbaru yang dirilis pemerintah. Meski demikian, peningkatan produksi tersebut diperkirakan akan bisa diserap oleh pasar. Bahkan masih mampu menyerap peningkatan produksi dari OPEC+, serta kemungkinan bertambahnya pasokan dari Iran jika sanksinya dicabut.

"Balance sheet kami menunjukkan jika pasar akan mampu menyerap tambahan supply dari OPEC+, serta peningkatan pasokan dari Iran secara bertahap," kata Warren Patterson, analis di ING, sebagaimana dilansirCNBC International.

Menurut riset ANZ Bank, permintaan minyak di paruh kedua tahun ini bakal melebihi suplainya. Permintaan diperkirakan bakal naik 650 ribu barel per hari (bph) melebihi output di kuartal ketiga dan 950 ribu bph di kuartal keempat. Perhitungan ini sudah memperkirakan kemungkinan kenaikan output Iran sebesar 500 ribu bph.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga Minyak Mentah Ambrol 6% Lebih, Kabar Buruk bagi Dunia?


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading