Kemarin Dibanting di Akhir Sesi, Saham Bank Melesat Lagi

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
28 May 2021 09:50
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham bank BUKU IV (bank dengan modal inti di atas Rp 30 triliun) kompak melonjak di zona hijau pada awal perdagangan hari ini, Jumat (28/5/2021). Saham-saham tersebut berhasil rebound, setelah pada Kamis (27/5) kemarin cenderung ambles di penghujung perdagangan.

Berikut gerak saham-saham bank gede pagi ini, pukul 09.21 WIB.

  1. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), +3,80%, ke Rp 4.100, transaksi Rp 246 M


  2. Bank Negara Indonesia (BBNI), +2,91%, ke Rp 5.300, transaksi Rp 20 M

  3. Bank Mandiri (BMRI), +1,74%, ke Rp 5.850, transaksi Rp 76 M

  4. Bank Central Asia (BBCA), +1,12%, ke Rp 31.700, transaksi Rp 121 M

  5. Bank Danamon Indonesia (BDMN) +0,85%, ke Rp 2.380, transaksi Rp 1 M

  6. Bank Pan Indonesia (PNBN), +0,58%, ke Rp 870, transaksi Rp 134 juta

  7. Bank Cimb Niaga (BNGA), +0,52%, ke Rp 970, transaksi Rp 23 juta

  8. Bank Permata (BNLI), +0,48%, ke Rp 2.080, transaksi Rp 26 juta

Berdasarkan data di atas, saham-saham bank BUKU IV serentak menguat. Saham bank 'wong cilik' BBRI menjadi yang paling melonjak, dengan penguatan 3,80% ke Rp 4.100/saham.

Nilai transaksi saham BBRI tercatat sebesar Rp 246 miliar, terbesar di bursa pada pagi ini. Tidak hanya itu, asing juga ramai-ramai masuk ke saham BBRI dengan catatan beli bersih Rp 150,5 miliar. Angka ini menjadikan saham BBRI sebagai saham yang paling banyak diborong investor asing.

Saham BBRI, bersama tiga saham bank BUMN plus BBCA, sebenarnya berhasil meluncur kencang di zona hijau kemarin, sebelum pada menit-menit akhir 'dibanting' 2,71% ke zona merah.

Selain itu, investor asing yang pada sesi I masih mencatatkkan net buy di saham BBRI Rp 170 miliar, pada penutupan kemarin, malah melakukan aksi jual bersih mencapai Rp 120 miliar.

Dalam sepekan, saham BBRI berhasil naik 5,15%, sementara dalam sebulan minus 1,45%.

Di posisi kedua dan ketiga ada saham bank pelat merah, BBNI dan BMRI yang secara berturut-turut melesat 2,91% ke Rp 5.300 dan 1,74% ke Rp 5.850/saham.

Saham seperti BBRI, saham BBNI dan BMRI juga akhirnya harus puas ditutup memerah setelah pada hampir sepanjang perdagangan Kamis menghijau. Pada penutupan kemarin, saham BBNI anjlok 3,29%, sementara saham BMRI merosot 2,54%.

Di posisi keempat ada saham BBCA yang terkerek 1,12% ke Rp 31.700/saham. Saham BBCA juga berhasil rebound setelah terkoreksi 1,34% pada perdangan kemarin.

Naiknya saham-saham bank kelas kakap pagi ini ikut membantu menguatnya Indeks Harga Saham Gabungan.

IHSG dibuka dengan apresiasi 0,57% ke level 5.875,27 tadi pagi. Pada 09.43 WIB, IHSG masih berada di zona penguatan di posisi 5.867,081 atau kenaikan 0,45% menyusul optimisme akan pulihnya perekonomian di Amerika Serikat.

Rilis data yang masih akan dipantau dan sanggup menggerakan pasar hari ini masih datang dari Paman Sam dimana hari ini AS akan merilis data PCE Deflator yang menjadi acuan favorit The Fed dalam menilai inflasi.

Setelah CPI yang biasa digunakan untuk memprediksi inflasi melonjak pada bulan lalu tentu saja rilis data inflasi akan ditunggu-tunggu para pelaku pasar untuk memprediksi apakan nantinya akan ada tapering oleh bank sentral AS.

IHK PCE sendiri diprediksi akan melonjak dari 1,8% menjadi 2,9% sementara pendapatan personal diprediksikan akan merosot hingga 14,3% seiring dengan berakhirnya cek stimulus, sementara pengeluaran personal diprediksikan naik 0,5%.

Dengan membaiknya perekonomian dan melesatnya inflasi tentu saja bisik-bisik di pasar seputar The Fed yang akan mengurangi stimulus moneter serta akan mengurangi pembelian obligasi dan bahkan memangkas suku bunga secara perlahan alias tapering tentu saja akan kembali menghangat di kalangan para pelaku pasar, apalagi jika nantinya PCE Deflator menunjukkan inflasi yang lebih tinggi dibanding prediksi.

Selanjutnya masih dari negara Stars and Stripes, dikabarkan bahwa budget tahun fiskal 2022 akan dirilis pada hari ini dimana angkanya akan mencapai US$ 6 triliun dan akan menjadi pengeluaran federal terbesar sejak Perang Dunia Kedua apabila berhasil disetujui, meskipun kecil kemungkinanya karena kontrol demokrat yang lemah di Kongres.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading