Babak Belur Gegara Pandemi, Bioskop CGV Rugi Rp 446 M di 2020

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
27 May 2021 12:45
Petugas menyemprotkan cairan disinfektan di bangku bioskop yang akan dibuka hari ini di CGV Grand Indonesia Mall, Rabu (21/10/2020). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan surat keputusan untuk operasi bioskop-bioskop di Jakarta. Beberapa bioskop akan mulai memutar film hari ini.
Pantauan CNBC Indonesia pada jam 12.00 belum ada penonton yang datang, kemudian pihak pengelola mengatur ulang jadwal agar jam 15.00 sudah bisa memulai pemutaran film. 
Terlihat hanya beberapa warga saja yang mulai memesan tiket di tiket box. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten industri perfilman pengelola bioskopĀ serta penyediaan makanan dan minuman, PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ), melaporkan kerugian fantastis sebesar Rp 445,83 miliar sepanjang tahun 2020 lalu, dari tahun 2019 yang masih mencetak laba bersih RpĀ 83,34 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan BLTZ, kerugian ini salah satunya terjadi akibat banyaknya bioskop yang tutup sepanjang tahun lalu. Sebelum pandemi melanda, emiten pemilik Bioskop CGV ini mencetak laba bersih Rp 83,34 miliar sepanjang tahun 2019.

Sepanjang tahun lalu BLTZ hanya mampu membukukan pendapatan sebesar Rp 255,83 miliar, turun 81,91% dari tahun 2019 yang mana pendapatan perusahaan mencapai Rp 1,41 triliun.


Penurunan terjadi di berbagai lini bisnis perusahaan mulai dari bisnis bioskop hingga pendapatan dari iklan.

Pendapatan bioskop turun menjadi hanya Rp 160,79 miliar dari semula mencapai Rp 887,13 miliar sehingga pendapatan dari bisnis makanan dan minuman pun ikut turun menjadi Rp 64,07 miliar dari sebelumnya Rp 358,41 miliar.

Tutupnya bioskop dan tayangan film yang terbatas juga mempengaruhi pendapatan dari iklan yang turun menjadi Rp 30,85 miliar dari tahun 2019 sebesar Rp 168,14 miliar.

Beban pokok pendapatan perusahaan pun membengkak lebih dari pendapatan usaha yang diperoleh. Sepanjang 2020 pemilik jaringan bioskop CGV ini mencatatkan beban pokok pendapatan sebesar Rp 323,19 miliar.

Kesulitan yang dialami perusahaan juga terlihat dari liabilitas yang naik hingga 143% dari yang semula Rp 673,49 miliar membengkak menjadi Rp 1,63 triliun.

Kewajiban jangka pendek naik 33,83% menjadi Rp 881,26 miliar sedangkan liabilitas jangka panjang naik 50 kali lipat dari semula hanya Rp 14,97 miliar kini menggelembung menjadi Rp 755,67 miliar.

Sepanjang tahun 2020 perusahaan telah memperpanjang fasilitas pinjaman dari The Korea Development Bank (KDB) dan The Export Import Bank of Korea (KEXIM) serta memperoleh dua pinjaman baru dari PT Bank Shinhan Indonesia yang jatuh tempo pada Juni 2021 dan Januari 2022

Meskipun pendapatan dan laba perusahaan merosot tajam serta kewajiban yang terus bertambang, aset BLTZ malah meningkat 26,91% pada tahun 2020, naik menjadi Rp 2,43 triliun dari sebelumnya Rp 1,91 triliun. Aset ini terdiri dari aset lancar sejumlah RP 146,57 miliar dan sisanya aset tidak lancar sebanyak Rp 2,28 triliun.

Adapun ekuitas perusahaan tercatat turun 35,98% dari semula Rp 1,24 triliun kini tersisa Rp 796,35 miliar.

Dalam laporan keuangan yang diterbitkan di bursa efek, manajemen perusahaan mengatakan bahwa dampak pandemi covid-19 telah mempengaruhi aktivitas bisnis dan ekonomi Grup sampai batas tertentu.

Manajemen mengatakan bahwa pada dua bulan awal bisnis perusahaan berlangsung baik sebelum ditutupnya bioskop mengikuti anjuran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan baru kembali dibuka perlahan mulai bulan Oktober.

Pihak perusahaan juga melakukan beberapa hal untuk menjaga kelangsungan bisnis mereka, mulai dari meningkatkan efisiensi biaya Grup dengan mengendalikan biaya operasional hingga memperbaharui perjanjian pinjaman bank yang ada dan memperoleh fasilitas pinjaman baru.

Selain itu pihak perusahaan juga terus bernegosiasidengan tuan tanah untuk pengurangan biaya sewa dan secara terus menerus membuka kembali bisnis perusahaan setelah mendapat persetujuan dari pemerintah daerah.

Pada penutupan perdagangan sesi-I Kamis (27/5) saham BLTZ naik 3,91% ke harga Rp 2.390/ saham dengan kapitalisasi pasar Rp 2,09 triliun. Dalam seminggu saham ini turun 18,43% dan sebulan melemah 39,95%.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading