Analisis

Parah Amat! Borong 5 Saham Ini dalam 5 Tahun, Hasilnya Boncos

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
25 May 2021 12:05
Kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lazimnya, kinerja suatu saham diharapkan akan cenderung bertumbuh positif dari tahun ke tahun. Bagi seorang value investor, atau investor jangka menengah dan panjang, kenaikan harga suatu saham di tiap tahunnya tentu menjadi salah satu pertimbangan penting.

Namun, ada kalanya, alih-alih moncer, kinerja suatu saham malah ambles dalam kurun waktu beberapa tahun tertentu, misalnya 5 tahun terakhir.

Nah, di bawah ini Tim Riset CNBC Indonesia akan menjelaskan secara ringkas lima contoh saham yang tidak menghasilkan cuan dalam kurun 5 tahun belakangan, berdasarkan data perdagangan hingga Senin (24/5).


Berdasarkan data di atas, saham emiten pemilik gerai department store Matahari, LPPF, menjadi yang paling ambles dengan penurunan mencapai Rp 88,89%.

Menariknya, dari lima saham di atas, hanya saham emiten BUMN Karya PTPP yang harga saat ini masih lebih tinggi dari harga saat pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO). Saat ini harga saham PTPP di Rp 1.080/saham sementara saat IPO pada 9 Februari 2010 lalu, saham PTPP dihargai Rp 560/saham.

Adapun harga IPO LPPF pada 10 Oktober 1989 di RP 7.900, emiten migas Grup Bakri, ENRG, sebesar Rp 160 pada 7 Juni 2004. Kemudian, harga IPO emiten Grup MNC, BMTR, pada 17 Juli 1995 sebesar Rp 1.250/saham dan harga IPO saham Grup Kresna, KREN, sebesar Rp 215 pada saat IPO 28 Juni 2002.

Catatan saja, hanya saham PTPP yang tidak melakukan pemecahan nilai nominal saham (stock split) ataupun penggabungan nilai nominal saham (reverse stock split/RSS).

Sebagai gambaran, RSS adalah aksi korporasi emiten di bursa dengan menggabungkan saham-sahamnya dan menghasilkan sejumlah kecil saham yang dianggap lebih bernilai dari sebelumnya. Ini kebalikan daristock split, atau pemecahan nilai nominal saham.

Hal tersebut menunjukkan, baik RSS maupun stocksplit tidak serta-merta ikut mendongkrak performa saham.

LPPF melakukan RSS pada 9 November 2009. Sebelum melakukan RSS, saham LPPF bahkan sempat menyentuh harga Rp 168 pada 4 November 2009. Sementara, saham emiten Grup Lippo ini juga sempat menyentuh level tertinggi Rp 21.500/saham pada 27 Juli 2016. Setelah itu, harga saham LPPF terus cenderung 'menuruni bukit' hingga saat ini.

NEXT: Bagaimana dengan ENRG?

Nasib ENRG dan KREN
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading