Batu Bara Pecah Rekor, Harga Saham Produsennya 'Ngamuk'

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
25 May 2021 10:16
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham emiten pertambangan batu bara serentak melonjak ke zona penguatan pada awal perdagangan hari ini, Selasa (25/5/2021). Kenaikan saham-saham tersebut didorong oleh sentimen positif terkait melesatnya harga batu bara yang mencapai rekor kenaikan tertinggi tahun ini.

Berikut kenaikan saham batu bara, pukul 09.46 WIB.

  1. Harum Energy (HRUM), +4,08%, ke Rp 5.100, transaksi Rp 6 M


  2. Bumi Resources (BUMI), +3,39%, ke Rp 61, transaksi Rp 6 M

  3. Bukit Asam (PTBA), +2,36%, ke Rp 2.170, transaksi Rp 11 M

  4. Delta Dunia Makmur (DOID), +2,23%, ke Rp 366, transaksi Rp 8 M

  5. Indika Energy (INDY), +1,92%, ke Rp 1.325, transaksi Rp 4 M

  6. Adaro Energy (ADRO), +1,72%, ke Rp 1.180, transaksi Rp 25 M

  7. Bayan Resources (BYAN), +1,30%, ke Rp 15.600, transaksi Rp 625 juta

  8. Indo Tambangraya Megah (ITMG), +1,15%, ke Rp 13.175, transaksi Rp 7 M

Mengacu pada data di atas, terdapat 8 saham emiten batu bara 'kakap' yang melesat pagi ini.

Saham emiten besutan pengusaha Kiki Barki, HRUM, memimpin penguatan dengan melesat 4,08% ke Rp 5.100/saham. Nilai transaksi HRUM pagi ini tercatat sebesar Rp 6 miliar.

Di tengah penguatan harga saham, asing tercatat masuk ke saham HRUM dengan catatan beli besih Rp 502,65 juta.

Dengan ini, saham HRUM berhasil memutus tren pelemahan selama 4 hari beruntun, atau sejak 19 Mei pekan lalu.

Penguatan ini masih belum bisa mendongrak kinerja mingguan saham HRUM, yang masih ambles 12,77%. Sementara dalam sebulan saham ini masih naik 5,24%.

Di bawah HRUM, ada saham emiten Grup Bakrie, BUMI, yang terkerek 3,39% ke Rp 61/saham dengan nilai transaksi Rp 6 miliar.

Saham BUMI berhasil rebound dari pelemahan Senin (24/5) kemarin, ketika ditutup melorot 1,67%.

Dalam sepekan saham BUMI masih terkoreksi 1,61%, sementara dalam sebulan anjlok 6,15%.

Di peringkat ketiga ada saham pelat merah, PTBA, yang terapresiasi 2,36% ke Rp 2.170/saham dengan catatan transaksi sebesar Rp 11 miliar.

Kendati menguat, asing malah keluar dari saham ini dengan catatan jual bersih Rp 637,87 miliar.

Penguatan ini mengakhiri pelemahan saham PTBA yang berlangsung sejak 4 hari perdagangan lalu, 19 Mei pekan lalu,

Selama sepekan saham ini masih melorot 2,65% dan dalam sebulan ambles 6,78%.

Pada penutupan perdagangan Senin (24/5), harga kontrak futures (berjangka) batu bara termal ICE Newcastle melonjak 2,97% ke US$ 111,10/ton.

Kinerja harga komoditas batu bara minggu lalu ditutup dengan kenaikan tajam. Tak tanggung-tanggung harga batu bara 'ngegas' 6,56% dan tembus rekor tertinggi untuk tahun ini.

Setelah berhasil melampaui US$ 100/ton, harga kontrak futures (berjangka) batu bara termal ICE Newcastle belum mau turun. Di akhir pekan harga si batu hitam ditutup naik 5,37% ke US$ 107,9/ton.

Secara year to date (ytd) harga batu bara termal sudah naik 36,49%. Pasar batu bara global ditopang oleh permintaan di Asia. Namun tampaknya kenaikan harga tak mencerminkan maraknya kenaikan kasus Covid-19 di berbagai negara seperti India, Taiwan, Singapura dan Malaysia.

Seolah rem-nya blong, harga terus melesat. Ada kecenderungan para pelaku pasar terutama big money seperti hedge fund masuk ke bursa berjangka dan mengambil posisi long untuk berbagai komoditas. Salah satunya batu bara.

Tesis investasi yang mereka pegang adalah kenaikan inflasi yang tinggi. Inflasi merupakan salah satu fenomena yang umum dalam perekonomian. Ketika harga-harga naik berarti daya beli (purchasing power) suatu mata uang turun.

Tren depresiasi dolar AS di tengah kebijakan moneter ultra longgar dan fiskal countercyclical cenderung mendepresiasi nilai mata uang Paman Sam. Banyak yang mulai lari mencari perlindungan (hedging) dengan membeli aset-aset yang suplainya tidak bisa dikendalikan sesuka hati oleh otoritas layaknya mata uang fiat.

Sentimen boom komoditas juga ikut menjadi pendorong melesatnya harga bahan mentah yang banyak digunakan sebagai input perekonomian mulai dari minyak mentah, batu bara hingga logam dasar yang aplikasinya banyak untuk konstruksi hingga industri elektronik.

Di sisi lain pelaku pasar juga memanfaatkan momentum ketatnya pasokan batu bara China yang membuat harga domestiknya melambung. Minggu lalu harga batu bara termal acuan China Qinhuangdao 5.500 Kcal/kg naik lagi dan semakin dekati RMB 1.000/ton.

Kenaikan permintaan yang melampaui kapasitas produksi domestik adalah alasan dibalik melejitnya harga batu bara di Negeri Panda.

Meskipun harga batu bara Newcastle sudah tembus US$ 100/ton, tetapi selisih (spread) harga batu bara China yang masih positif dan lebar memberikan ruang untuk batu bara semakin menguat.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading