Diguyur Sentimen Investasi LG, Saham ANTM-INCO dkk Ngacir!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
25 May 2021 10:17
Ilustrasi baterai pada mobil listrik yang dikemas dalam komponen yang aman. electrec.co

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham emiten nikel kompak melonjak ke zona hijau pada awal perdagangan pagi ini, Selasa (25/5/2021). Kenaikan harga saham-sahma tersebut terjadi seiring kabar baik mengenai kemajuan pembangunan pabrik milik Indonesia Battery Corporation (IBC) dan LG di Kota Deltamas, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat dalam waktu dekat ini.

Berikut gerak saham nikel pagi ini, pukul 9.23 WIB

  1. Harum Energy (HRUM), +5,10% , ke Rp 5.150, transaksi Rp 4 M


  2. Aneka Tambang (ANTM), +4,85% , ke Rp 2.380, transaksi Rp 92 M

  3. Vale Indonesia (INCO), +4,00% , ke Rp 4.680, transaksi Rp 24 M

  4. Central Omega Resources (DKFT), +3,33% , ke Rp 155, transaksi Rp 134 juta

  5. Timah (TINS), +3,32% , ke Rp 1.555, transaksi Rp 24 M

  6. Pelat Timah Nusantara (NIKL), +2,15% , ke Rp 950, transaksi Rp 163 juta

  7. Trinitan Metals and Minerals (PURE), +0,99% , ke Rp 102, transaksi Rp 54 juta

Berdasarkan data di atas, 7 saham emiten nikel tercatat serentak menguat pagi ini. Adapun saham emiten milik taipan Kiki Barki, HRUM, menjadi pemuncak 'klasemen', dengan penguatan sebesar 5,10% ke Rp 5.150/saham.

Asing juga tercatat masuk ke saham HRUM dengan beli bersih senilai Rp 465,51 juta.

Dengan ini, saham HRUM berhasil memutus tren pelemahan selama 4 hari beruntun.

Penguatan pagi ini masih belum bisa mengangkat kinerja mingguan saham HRUM, lantaran saham ini masih anjlok 13,19% dalam 7 hari terakhir. Namun, dalam sebulan saham ini masih tumbuh sebesar 4,72%.

Di posisi kedua, ada saham emiten pelat merah, ANTM, yang melonjak 4,85% ke Rp 2.380/saham. Nilai transaksi saham ini sebesar RP 92 miliar, menempatkan saham ANTM di peringkat keempat saham 'paling ramai' pagi ini.

Adapun asing sudah mencatatkan beli bersih Rp 13,83 miliar di saham ANTM.

Sama seperti HRUM, saham ANTM berhasil menghentikan penurunan selama 4 hari beruntun, atau sejak 19 Mei pekan lalu.

Dalam sepekan, saham ANTM ambles 8,85%, sementara selama 30 hari terakhir tumbuh tipis 0,85%.

Di bawah saham ANTM, ada saham INCO yang terkerek 4,00% ke Rp 4.680/saham. Nilai transaksi saham ini sebesar Rp 24 miliar.

Adapun asing memborong saham INCO sebesar Rp 9,6 miliar, menjadikan saham ini menjadi salah satu saham yang paling banyak dikoleksi asing pagi ini.

Penguatan kali ini juga berarti saham INCO berhasil memantul kembali ke zona hijau setelah 4 hari beruntun berkubang di zona merah.

Dalam sepekan saham ini anjlok 12,11%, tetapi mencuat 11,69% dalam sebulan.

Diwartakan CNBC Indonesia, Senin (24/5), rencana pemerintah membangun industri baterai kendaraan listrik terintegrasi semakin ada titik cerah, ditandai dengan rencana pemasangan tiang pancang (groundbreaking) pabrik IBC dan konsorsium perusahaan asal Korea Selatan (Korsel) LG di Kota Deltamas, Bekasi, Jawa Barat dalam waktu dekat ini.

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, pembangunan tahap pertama ini memiliki kapasitas produksi baterai mencapai 10 Giga Watt hours (GWh), yang nantinya akan dipakai untuk kendaraan listrik dari Hyundai.

Tahap ini merupakan tindak lanjut penandatanganan Heads of Agreement (HoA) atau Kesepakatan Pokok proyek investasi baterai terintegrasi antara IBC dengan LG pada bulan lalu (29/4/2021) di kantor Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jakarta.

Bahlil menyebut, investasi strategis di industri sel baterai kendaraan listrik ini merupakan yang pertama dilakukan dalam sepanjang sejarah Republik Indonesia. Pabrik ini terintegrasi dengan fasilitas penambangan, peleburan (smelter), pemurnian (refining) serta industri precursor dan katoda.

Menurutnya, fasilitas produksi baterai listrik terintegrasi ini akan menjadi yang pertama di Asia dan bahkan di dunia. Nilai investasi diperkirakan mencapai US$ 9,8 miliar atau sekitar Rp 140 triliun.

Bahlil menyambut gembira atas kemajuan investasi LG tersebut, mengingat upaya strategis untuk membangun hilirisasi industri pertambangan logam merupakan proses yang panjang dan tidak mudah, karena melibatkan berbagai pemangku kepentingan, baik di dalam maupun luar negeri.

"Setelah melalui proses panjang, kami bersyukur proses groundbreaking ini akhirnya akan segera dimulai. Pekerjaan ke depan akan semakin besar untuk membangun industri baterai yang terintegrasi di Indonesia. Kami berkomitmen untuk terus mengawal proses ini dan memohon dukungan dari semua pihak untuk mewujudkan industri baterai listrik di Indonesia yang terintegrasi dan berorientasi ekspor," tuturnya dalam keterangan resmi Kementerian Investasi/ BKPM, Senin (24/5/2021).

Sebagaimana diketahui, cikal bakal kerja sama antara IBC dan LG dimulai pada 2019 ketika Presiden Joko Widodo dan Presiden Korsel Moon Jae In bertemu di Busan, Korsel pada 25 November 2019. Setelah melalui rangkaian proses penjajakan, negosiasi dan studi, Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) pun ditandatangani pada 18 Desember 2020 di Seoul,

Setelah HoA disepakati pada 29 April 2021, selanjutnya konsorsium melakukan Studi Gabungan (Joint Study), penyusunan perjanjian pemegang saham, dan perjanjian pendirian perusahaan. Ketiga proses tersebut ditargetkan segera tuntas, sehingga groundbreaking pabrik bisa dijalankan segera dalam waktu dekat ini.

Saat ini Kementerian Investasi sedang melakukan finalisasi MoU antara pihak di Cikarang (Hyundai) untuk merampungkan rencana joint venture (JV) pembangunan pabrik baterai sel (cell battery) untuk kendaraan listrik tersebut.

Investasi yang akan digelentorkan untuk pembangunan pabrik ini sebesar US$ 1,2 miliar. Pabrik tersebut rencananya akan menempati lahan seluas 33 hektare dan menyerap 1.000 tenaga kerja Indonesia.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

IBC Tonggak Baru Industri RI, Begini Sejarah Baterai Listrik


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading