Newsletter

Banyak Doa ya, Semoga Ada Aksi Heroik IHSG & Rupiah Lagi!

Market - Tirta, CNBC Indonesia
19 May 2021 05:57
Layar pergerakan perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (24/11/2020). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaku pasar menyaksikan pergerakan harga saham domestik dan nilai tukar rupiah yang heroik pada perdagangan kemarin, Selasa (18/5/2021). Sementara itu, nasib berbeda justru menimpa instrumen investasi pendapatan tetap yakni obligasi pemerintah. 

Setelah seharian terjerembab di zona merah, indeks harga saham gabungan (IHSG) akhirnya mampu balik arah dan ditutup di zona hijau. Penguatannya sangat tipis 0,01% dan bisa dibilang stagnan. 


Indeks saham acuan domestik itu masih tertekan di sepanjang bulan Mei. IHSG tercatat melemah 2% secara month to date (mtd). Setelah pasar kembali dibuka pasca libur panjang lebaran 2021, IHSG harus jatuh ke bawah level 5.900. 

Penurunan harga aset ekuitas dalam negeri mulai terjadi sejak pertengahan bulan Maret. Sejak awal Mei IHSG belum pernah lagi mencicipi level psikologis 6.000 karena terus menerus tertekan.

Rupiah yang sebelumnya sempat stabil di Rp 14.000/US$ awal tahun dan bahkan menguat karena sempat mencicipi level Rp 13.900/US$ harus kembali tertekan sejak pertengahan bulan Februari lalu.

Pada medio April lalu rupiah bahkan sempat melemah di hadapan greenback hingga dipatok di Rp 14.600/US$. Setelah itu rupiah cenderung mengalami tren penguatan mendekati Rp 14.200/US$. 

Hanya saja rupiah juga mengalami tekanan setelah kembali dari libur panjangnya. Di awal pekan ini rupiah anjlok 0,6% dan membuatnya kembali mendekati level Rp 14.300/US$. 

Pada perdagangan kemarin rupiah juga menunjukkan aksi heroiknya. Setelah tertekan di sepanjang perdagangan, rupiah baru menunjukkan taji pada satu jam terakhir jelang perdagangan berakhir. 

Namun penguatan rupiah juga termasuk tipis. Mata uang RI tersebut hanya mampu naik 0,07% dan ditutup di Rp 14.270/US$ di arena pasar spot. 

Beda nasib dengan rupiah dan saham, mayoritas surat utang pemerintah ditutup mengalami koreksi harga. Hal ini tercermin dari kenaikan imbal hasilnya (yield). Seri acuan FR0087 dengan tenor 10 tahun dengan kupon tetap 6,5% per annum juga mengalami pelemahan harga. 

Yield SBN tenor 10 tahun ditutup naik 3,2 basis poin (bps) menjadi 6,473% kemarin. Yield SBN saat ini hampir mendekati coupon rate-nya. Kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS (US Treasury) dengan tenor yang sama menjadi salah satu pemicunya. Yield US Treasury kini semakin mendekati 1,65%.

Fokus pasar kemarin adalah rilis data pertumbuhan ekonomi Jepang untuk kuartal pertama tahun ini. Negeri Matahari Terbit masih belum bisa keluar dari resesi karena output perekonomiannya masih terkontraksi.

Secara kuartalan yang disetahunkan (annualized), Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang tumbuh -5,1%. Jauh memburuk ketimbang kuartal pamungkas 2020 yang tumbuh 12,7%, juga lebih parah dibandingkan konsensus Reuters yang memperkirakan di -4,6%. Ini adalah kontraksi pertama sejak kuartal II-2020.

Namun melihat kondisi tersebut pasar tak terlalu menanggapinya secara berlebihan. Malahan bursa saham utama kawasan Asia ditutup dengan semarak. Indeks Nikkei malah naik 2,09%. Hang Seng melompat 1,42%. Shang Hai Composite terapresiasi 0,32%. Strait Times loncat 2,09%. Hanya IHSG yang tumbuh sangat minimalis. 

 

Wall Street Ditutup dengan Kekecewaan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading