Singapura Tutup Sekolah, Dolarnya Menguat ke Rp 10.725/SG$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
18 May 2021 11:58
Ilustrasi dolar Singapura (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Singapura mengambil langkah cepat guna meredam penyebaran penyakit akibat virus corona (Covid-19) yang sedang meningkat lagi. Langkah cepat tersebut disambut baik pelaku pasar, nilai tukar dolar Singapura menguat lagi melawan rupiah.

Pada pukul 11:22 WIB, SG$ 1 setara Rp 10.725,54, dolar Singapura menguat 0,32% di pasar spot. Kemarin, mata uang Negeri Merlion ini juga menguat 0,39%.

Hari Minggu lalu, Singapura sudah memberikan peringatan jika virus corona mutasi B1617 yang pertama kali ditemukan di India lebih banyak menyerang anak-anak. Oleh karena itu, mulai pekan ini pemerintah Singapura akan menutup sekolah, dan siswa-siswi akan kembali belajar online dari rumah.


"Beberapa mutasi virus corona ini lebih ganas, dan tampaknya mereka menyerang anak-anak," kata Chan Chun Sing, Menteri Pendidikan Singapura, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (18/5/2021).

Sebelum menutup sekolah, Singapura sejak hari Minggu (16/5/2021) kembali mengetatkan pembatasan kegiatan publik dan akan berlangsung dalam satu bulan ke depan.
Kementerian Kesehatan Singapura mengatakan pembatasan dilakukan mulai dari aturan pertemuan tatap muka maksimal dua orang serta larangan makan di restoran.

Seluruh aktivitas perkantoran pun disetop dan warga Singapura akan kembali bekerja dari rumah (work from home).

Kebijakan tersebut dilakukan guna meredam penyebaran Covid-19 yang kembali meningkat. Hingga Minggu siang kemarin, Singapura melaporkan kasus Covid-19 di 38 komunitas. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak April tahun lalu ketika virus corona dilaporkan menyerang 40 komunitas.

Dari 38 komunitas tersebut, sebanyak 7 orang dilaporkan terinfeksi virus corona mutasi B1617.

Sementara itu dari dalam negeri pelaku pasar juga was-was akan kemungkinan melonjaknya kasus Covid-19 pasca libur Hari Raya Idul Fitri. Sebab, meski sudah dilarang, masih banyak warga yang mudik Lebaran, begitu juga tempat-tempat wisata yang penuh. Hal tersebut tentunya berisiko meningkatkan kasus Covid-19. 

Jika Indonesia kembali mengetatkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), maka momentum pemulihan ekonomi Indonesia berisiko meredup.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading