Saham BUMI Cs Ngamuk, Harga Batu Bara Kuat di Atas US$ 100

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
18 May 2021 10:13
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas saham emiten tambang batu bara kompak menguat di zona hijau pada perdagangan pagi ini, Selasa (18/5/2021). Penguatan terjadi setelah pada perdagangan Senin (17/5) saham-saham tersebut cendrung ditutup memerah.

Selain itu, penguatan saham-saham batu bara didorong oleh harga kontrak batu bara termal ICE Newcastle yang sempat menyentuh level US$ 100/ton sepanjang pekan lalu. Terakhir kali batu bara menyentuh harga US$100/ton yakni pada akhir Januari 2019.

Setelah selama 4 hari atau sejak 11-14 Mei harga batu bara berada di level US$100/ton, pada penutupan pasar kemarin, harga batu hitam ini akhirnya kembali turun ke US$ 98,20/ton.


Berikut gerak saham-saham batu bara pagi ini, pukul 09.48 WIB.

  1. Bumi Resources (BUMI), saham +3,33%, ke Rp 62, transaksi Rp 2 M

  2. Harum Energy (HRUM), +2,63%, ke Rp 5.850, transaksi Rp 34 M

  3. Borneo Olah Sarana Sukses (BOSS), +2,27%, ke Rp 90, transaksi Rp 88 juta

  4. Bayan Resources (BYAN), +0,88%, ke Rp 14.350, transaksi Rp 1 juta

  5. Bukit Asam (PTBA), +0,44%, ke Rp 2.270, transaksi Rp 6 M

  6. Indika Energy (INDY), +0,35%, ke Rp 1.440, transaksi Rp 3 M

  7. Adaro Energy (ADRO), 0,00%, ke Rp 1.185, transaksi Rp 6 M

  8. Delta Dunia Makmur (DOID), 0,00%, ke Rp 372, transaksi Rp 4 M

  9. Indo Tambangraya Megah (ITMG), -0,19%, ke Rp 12.975, transaksi Rp 9 M

Berdasarkan data di atas, dari 9 saham batu bara yang diamati, 6 saham tercatat menguat di zona hijau, 2 saham masih belum bergerak dan 1 saham malah terkoreksi.

Adapun saham emiten batu bara Grup Bakrie, BUMI, memimpin penguatan dengan melonjak 3,33% ke Rp 62/saham dengan nilai transaksi Rp 2 miliar.

Kendati menguat, asing tercatat melego saham BUMI sebesar Rp 144,19 juta. Adapun kemarin (17/5), saham ini ambles 4,76% ke Rp 60/saham.

Di posisi kedua, ada saham emiten milik pengusaha Kiki Barki, HRUM, yang melesat 2,63% ke Rp 5.850/saham. Penguatan ini dibarengi dengan aksi beli bersih oleh asing sebesar Rp 450,91 juta.

Saham HRUM berhasil rebound setelah kemarin ambles sampai menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 6,94%. ARB tersebut tidak mengherankan, lantaran para investor tampaknya melakukan aksi ambil untung setelah 2 hari sebelumnya, pada 10-11 Mei, saham HRUM melonjak tinggi, masing-masing sebesar 5,83% dan 12,39%.

Kabar teranyar, emiten yang juga bergerak di sektor pertambangan nikel ini kembali menambah kepemilikan sahamnya di perusahaan tambang nikel asal Australia, Nickel Mines Limited.

Direktur Utama Harum Energy, Ray A. Gunara menyatakan, perseroan membeli sebanyak 57.256.292 lembar saham dalam Nickel Mines Limited dengan harga jual beli sebesar AUD 45.035.828. Nilai tersebut jika konversi ke Rupiah dengan rerata kurs AUD Rp 10.981 di pasar spot, maka nilai transaksi ini mencapai Rp 494,54 miliar.

"Sehingga per tanggal 12 Mei 2021 Perseroan memiliki 6,7370% dari seluruh modal ditempatkan dalam Nickel Mines Limited," ungkap Ray, dalam keterangan resmi di laman keterbukaan informasi, Senin (17/5/2021).

Adapun saham ITMG menjadi satu-satunya yang memerah, setelah tekoreksi 0,19% ke Rp 12.975/saham. Pelemahan ini menghentikan reli penguatan ITMG selama 5 hari perdagangan beruntun, atau sejak 6 Mei lalu.

Informasi saja, si batu legam sepanjang pekan lalu tercatat sudah membukukan penguatan selama tiga minggu beruntun dimana dua pekan sebelumnya batu bara naik masing-masing 7% dan 4,75%.

"Data terbaru menunjukkan batu bara thermal 5.500 kcal naik 15% dalam 2 pekan terakhir menjadi 900 yuan per ton di pelabuhan China," kata Colin Hamilton dari BMO Capital Markets, sebagaimana dilansir Investors Chronicle, Kamis (13/5/2021).

Menurut Hamilton beberapa indikator menunjukkan permintaan batu bara dari China masih akan tinggi, sehingga harganya masih akan terjaga.

Kenaikan harga hingga 15% tersebut terjadi bahkan sebelum puncak permintaan di musim panas. Selain permintaan, hubungan China-Australia yang memburuk juga membuat harga batu bara melesat.

Hamilton mengatakan China justru meningkatkan impor batu bara dari Indonesia dan Rusia. Peningkatan permintaan dari Negeri Tiongkok juga diakui pemerintah Indonesia.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengungkapkan permintaan konsumsi batu bara Tiongkok sepanjang kuartal I-2021 mengalami lonjakan pesat guna memenuhi kebutuhan pembangkit listrik.

"Permintaan batu bara banyak datang guna memenuhi kebutuhan pembangkit Tiongkok," kata Agung, seperti dikutip dari keterangan resmi, Selasa (4/5/2021).

Namun menurut Agung, kenaikan tersebut tidak sebanding dengan produksi di dalam negeri. Harga Batu Bara Acuan (HBA) Indonesia juga terus naik.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menetapkan HBA bulan Mei sebesar US$ 89,74 per ton. Besaran ini meningkat US$ 3,06 per ton dari HBA April, yakni US$ 86,68 per ton.

Apabila tren batu bara di harga US$ 100/ton menjadi pola pergerakan baru tak menutup kemungkinan HBA Juni bakal tembus US$ 90/ton.

TIM RISET CNBC INDONESIA

 


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading