Harga Minyak Jeblok 3% Lebih, Apa Kabar Supercycle Komoditas?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
14 May 2021 13:00
Minyak Bumi

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah jeblok lebih dari 3% pada perdagangan Kamis kemarin dan berlanjut pada hari ini Jumat (14/5/2021). Lonjakan kasus penyakit virus corona (Covid-19) membuat harga minyak mentah tertekan.

Melansir data dari Refinitiv, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kemarin jeblok 3,43% dan pada hari berlanjut 0,31% ke US$ 63,49/barel. Sementara minyak mentah jenis Brent kemarin merosot 3,21% dan hari ini 0,39% ke US$ 66,3/barel.


Di tahun ini sebarnya diprediksi menjadi awal supercycle komoditas, yakni periode kenaikan dalam waktu yang panjang. Minyak mentah termasuk yang diprediksi mengalami supercyle.

Namun, lonjakan kasus Covid-19 di India membuat laju kenaikan harga minyak mentah menjadi tertahan. India merupakan konsumen terbesar minyak mentah terbesar ketiga di dunia, kasus Covid-19 yang meledak membuat pembatasan sosial kembali diketatkan, sehingga roda perekonomian serta mobilitas warganya menjadi melambat. Hal tersebut tentunya berisiko menurunkan harga minyak mentah.

"Rally harga komoditas baru saja terhenti dan pasar minyak mentah masih belum jelas bagaimana merespon tingginya inflasi di AS serta lonjakan kasus Covid-19 di India," kata Edward Moya, analis pasar di OANDA, sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (14/5/2021).

Departemen Tenaga Kerja AS Rabu lalu melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan April melesat atau mengalami inflasi 4,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Rilis tersebut jauh lebih tinggi ketimbang hasil survei Dow Jones sebesar 3,6%.

Sementara dari bulan Maret atau secara month-to-month (mtm) tumbuh 0,8%, juga jauh lebih tinggi dari survei 0,2%.

Sementara inflasi inti yang tidak memasukkan sektor energi dan makanan dalam perhitungan tumbuh 3% yoy dan 0,9% mtm, lebih dari dari ekspektasi 2,3% yoy dan 0,3% mtm.

Kenaikan inflasi secara tahunan tersebut merupakan yang tertinggi sejak tahun 2008, sementara secara bulanan terbesar dalam 40 tahun terakhir.

Inflasi yang tinggi bisa menjadi indikasi perekonomian AS yang semakin membaik. Tetapi di sisi lain, jika inflasi tinggi terjadi dalam waktu yang lama, maka daya beli warga AS bisa terpukul.

Meski demikian, Moya masih yakin di semester II-2021, permintaan minyak mentah masih akan tinggi dan menopang harganya.

"Permintaan minyak mentah masih akan tinggi di semester II-2021, dan itu akan menahan harga turun lebih dalam," kata Moya.


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading