Harga Batu Bara Cetak Rekor Lagi, Tembus US$ 101

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
12 May 2021 17:10
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali melanjutkan penguatannya pada perdagangan Selasa (11/5/2021), yakni melesat 2,8% ke level US$ 101.

Kini harga batu bara termal ICE Newcastle sudah berhasil melebihi level tertingginya sepanjang tahun 2021 di US$ 98,4/ton pada akhir Maret lalu dan membentuk harga rekor terbarunya pada Selasa kemarin.

Harga kontrak berjangka (futures) batu bara naik 2,55% minggu lalu. Namun jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu harga batu bara sudah naik 81%.


Aspek pemulihan ekonomi global, terutama ditopang oleh China memberikan angin segar bagi harga-harga komoditas, tak terkecuali harga batu bara.

Sebagai konsumen batu bara terbesar di dunia, peningkatan konsumsi listrik di Negeri Panda sebesar 7% sudah cukup untuk mengerek naik harga si batu legam ke level tertinggi beberapa tahun.

Masalahnya kondisi pasokan di China juga sedang menipis dengan adanya berbagai pembatasan aktivitas penambangan. Hal ini membuat harga batu bara termal acuan China Qinhuangdao harganya melesat tajam dan berada di atas rentang target yang disasar pemerintah dalam satu tahun terakhir.

Hal inilah yang membuat China terus melonggarkan kuota impor agar margin laba perusahaan utilitas tak terus tergerus. Kenaikan permintaan China turut mendongkrak harga batu bara global.

Isu penurunan produksi di Indonesia pada kuartal pertama, tersendatnya jalur distribusi di Afrika Selatan hingga cuaca ekstrem yang membuat Australia mengalami kendala dalam pengiriman batu bara lintas laut turut menjadi pemicu melesatnya harga komoditas energi ini di tengah adanya risiko turun akibat lonjakan kasus di India.

Bagaimanapun juga tensi geopolitik antara China dengan Australia juga turut mendinamisasi pasar batu bara global tak hanya di kawasan Asia Pasifik saja. Untuk urusan impor batu bara termal China memilih RI sebagai pemasok.

Namun China 'ogah' dipasok batu bara kokas dari Australia. Berbeda dengan batu bara termal yang banyak digunakan sebagai bahan bakar di pembangkit listrik, batu bara kokas banyak digunakan untuk industri manufaktur dan pembuatan baja.

Secara umum batu bara kokas memiliki nilai kalori yang lebih tinggi. Harga batu bara kokas juga cenderung premium ketimbang harga batu bara termal. Sebagai penggantinya China beralih mengimpor batu bara kokas dari AS dan Kanada.

Adanya perang dagang antara China dengan Australia ini membuat RI diuntungkan. Pasalnya RI juga merupakan produsen batu bara di dunia dengan produksi lebih dari 500 juta ton per tahun.

Tahun ini, produksi batu bara nasional diperkirakan bakal lebih tinggi dari 550 juta ton, mengingat adanya kenaikan harga batu bara dan permintaan yang mulai pulih ditopang oleh ekspansi ekonomi China.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading