Batu Bara Cuan! Sepekan Menguat, Catat Rekor dalam Sebulan

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
09 May 2021 13:15
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara termal acuan ICE Newcastle cenderung menguat dalam sepekan ini. Harga batu bara mencetak rekor tertinggi dalam satu bulan terakhir.

Apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, harga batu bara sekarang sudah naik lebih dari 35%. Pada penutupan perdagangan Jumat (7/5/2021), harga kontrakĀ berjangka (futures) batu bara naik 2,55%, menjadi US$ 95,95/ton.


Sementara Kamis (6/5), harga futures batu bara Juni 2021 ini melesat ke US 90,90/ton. Itu merupakan harga tertinggi sejak 25 Maret lalu, ketika ditutup di harga US$ 95,40/ton.

Adapun harga tertinggi secara year to date (ytd) terjadi pada 22 Maret, yakni US$ 98,40/ton.

Sentimen positif pertama yang mendongkrak harga batu bara seminggu lalu ialah kenaikan harga batu bara China. Hal ini masih disebabkan oleh ketatnya pasokan di tengah kenaikan permintaan.

Harga batu bara termal acuan China Qinhuangdao naik lagi 5,9% minggu lalu dan harga batu bara tembus RM 807/ton. Kenaikan harga yang fantastis ini membuat kebijakan kuota impor direlaksasi.

Konsumsi listrik di China juga diperkirakan meningkat. China Electricity Council (CEC) memperkirakan konsumsi listrik tahun ini naik 7-8% dibanding tahun 2020.

Pada Februari lalu CEC meramal konsumsi listrik naik 6-7%. Namun setelahnya konsumsi listrik diramal naik lebih tinggi di angka 7-8%.

Peningkatan permintaan impor China diharapkan mampu mengimbangi potensi penurunan permintaan dari India yang saat ini tengah kewalahan menangani pandemi Covid-19 di negaranya yang semakin tak terbendung.

Selain dari Negeri Panda, produksi batu bara RI sepanjang kuartal pertama tahun ini juga mengalami penurunan sebesar 4,12% (yoy).Total produksi tahun ini menjadi143,69 juta ton dari 149,88 juta ton pada kuartal I 2020.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan, turunnya produksi batu bara di kuartal I 2021 dikarenakan faktor cuaca buruk.

Seperti diketahui, curah hujan sangat tinggi di awal tahun 2021 ini. Pada pertengahan Januari misalnya, telah terjadi banjir di Provinsi Kalimantan Selatan yang banyak terdapat area pertambangan.

Di sisi lain ada juga masalah distribusi yang terjadi sehingga membuat harganya naik. Melansir Argus Media operator kereta api Afrika Selatan Transnet Freight Rail (TFR) telah mengeluarkan peringatan potensi force majeure untuk pengiriman batu bara ke Richards Bay Coal Terminal (RBCT) setelah tergelincir minggu lalu.

Harga batu bara API 4 telah meningkat sejak terjadinya insiden tersebut. Argus NAR 6.000 kcal/kg fob di Richards Bay naik menjadi US$ 98,62/ton kemarin. Harganya naik dari US$ 90,09 /ton pada 27 April lalu.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading