Kenaikan Inflasi AS Memicu Tekanan Harga di Pasar SBN RI

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
14 April 2021 17:45
US Treasury, Bond, Obligasi (Ilustrasi Obligasi)

Jakarta, CNBCIndonesia - Mayoritas harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) kembali ditutup melemah pada perdagangan Rabu (14/4/2021), setelah rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) pada Selasa (13/4/2021) waktu setempat.

Mayoritas SBN acuan kembali dilepas oleh investor, ditandai dengan kenaikan yield di hampir seluruh SBN acuan. Hanya di SBN acuan bertenor 25 tahun yang masih dikoleksi oleh investor dan mengalami penurunan yield-nya.

Yield SBN bertenor 25 tahun dengan kode FR0067 tersebut turun sebesar 1,4 basis poin (bp) ke level 7,623%. Sementara itu, yield SBN seri FR0087 dengan tenor 10 tahun yang merupakan yield acuan obligasi negara kembali naik sebesar 5 basis poin (bp) ke level 6,573%.


Yield berlawanan arah dari harga, sehingga kenaikan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang melemah, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Pada sore hari ini waktu Indonesia, yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) kembali mengalami kenaikan. Berdasarkan data dari website World Government Bond pada pukul 17:05 WIB, yield acuan surat utang AS tenor 10 tahun naik 1,2 basis poin ke level 1,632%.

Naiknya kembali yield Treasury dan SBN terjadi setelah AS merilis data inflasinya pada periode Maret 2021, di mana indeks harga konsumen (IHK) pada Maret 2021 dilaporkan tumbuh 2,6% secara tahunan (year-on-year/YoY), dibandingkan dengan posisi Februari yang sebesar 1,7%. Pertumbuhan itu lebih tinggi dari hasil survei Reuters sebesar 2,5% YoY.

Sementara itu, inflasi inti yang mencerminkan naik-turunnya daya beli masyarakat karena mengecualikan komoditas dengan harga bergejolak (makanan dan energi), tumbuh 1,6% YoY, dari bulan sebelumnya 1,3% YoY. Ini juga lebih tinggi dari prediksi 1,5% YoY.

Pemerintah dan bank sentral AS menyatakan bahwa inflasi AS akan meningkat beberapa bulan ke depan. Kenaikan itu dinilai wajar dan bersifat sesaat karena basis Maret 2020 memang rendah akibat pembatasan masyarakat (lockdown). Di luar itu, masyarakat juga mulai membelanjakan dana tunai yang diperoleh dari program stimulus pemerintah.

Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menyatakan kesediaannya untuk membiarkan inflasi meninggi dalam beberapa waktu tanpa melakukan perubahan kebijakan akomodatif mereka, termasuk dalam hal pembelian aset di pasar dan suku bunga acuan mendekati 0%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading