Forex Sepekan

Dolar AS Lagi Jadi Kesayangan, Maaf Rupiah Jadi Terbuang

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
10 April 2021 11:45
Ilustrasi Rupiah dan dolar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah sedang dirundung malang minggu ini. Di arena pasar spot rupiah melemah 0,28% di hadapan greenback. Padahal di saat yang sama indeks dolar sejatinya sedang melemah. 

Rupiah ditutup terdepresiasi 0,21% ke level Rp 14.560/US$ di hadapan dolar AS kemarin, Jumat (9/4/2021). Akhir minggu lalu nilai tukar rupiah masih berada di Rp 14.520/US$. 

Sepanjang minggu ini duet maut imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dan indeks dolar sebenarnya sedang turun. Yield yang semula mencapai 1,7% kini sudah melandai ke 1,65%. Sementara itu indeks dolar juga melemah nyaris 1% sepekan. 


Momentum penurunan yield surat utang pemerintah AS juga dibarengi dengan penguatan harga surat berharga negara (SBN). Hal ini tercermin dari penurunan yield SBN tenor 10 tahun dari yang tadinya 6,6% menjadi 6,45%. 

Bank Indonesia (BI) mencatat ada inflow ke SBN sebesar Rp 4,15 triliun dari nonresiden (asing) di pasar keuangan domestik pada periode 5 - 8 April 2021. Namun di pasar saham, asing masih membukukan aksi jual bersih senilai Rp 1,81 triliun. Sehingga secara neto inflow yang tercatat hanya Rp 2,34 triliun. 

Penurunan indeks dolar dan inflow nyatanya tak bisa membuat rupiah bangkit dan turun dari level psikologis Rp 14.500/US$. Rupiah malah semakin menjauh dan terdepresiasi. 

Bagaimanapun juga dolar AS masih berada di level tertingginya dalam satu bulan terakhir. Greenback untuk sementara waktu memang masih menjadi primadona para pelaku pasar. 

Hal ini tercermin dari survei yang dilakukan oleh Reuters. Terlihat bahwa pelaku pasar cenderung mengambil posisi long (beli) terhadap greenback. Hasil survei Reuters digambarkan dengan angka -3 sampai 3. Semakin tinggi angkanya, maka investor semakin long terhadap dolar AS.

Survei Mata Uang Asia Dwi Mingguan ReutersSumber : Survei Mata Uang Asia Dwi Mingguan Reuters

Dalam survei 8 April 2021, seluruh mata uang utama Asia berada di teritori positif. Rupiah berada di angka 0,59, paling parah adalah peso Filipina yaitu 0,91. Survei Reuters yang lain juga menunjukkan hal serupa. 

Berdasarkan polling terhadap ahli strategi valuta asing (valas), dari 56 yang disurvei sebanyak 48 orang atau 85% memperkirakan dolar AS masih akan kuat setidaknya 1 bulan lagi.

Dari 48 orang tersebut, sebanyak 11 orang memprediksi penguatan dolar AS akan berlangsung dalam 3 hingga 6 bulan ke depan, sementara 16 orang mengatakan akan berlangsung lebih dari 6 bulan lagi.

Penguatan dolar AS merespons prospek ekonomi Paman Sam yang lebih positif untuk tahun ini. Namun di saat yang sama The Fed kembali menegaskan stance kebijakan moneternya yang masih akan longgar. 

Suku bunga acuan tak akan diutak-atik. Tapering tak akan dilakukan dalam waktu dekat. The Fed masih akan mengguyur likuiditas ke sistem keuangan lewat pembelian obligasi pemerintah untuk terus menopang perekonomian AS yang terhimpit pandemi. 

Kebijakan tersebut akan membuat neraca (balance sheet) The Fed semakin menggembung. Pada dasarnya ada harapan rupiah akan menguat. Apalagi jika yield lanjut melandai dan dana asing mulai kembali berdatangan. 

Namun bagaimanapun juga risiko dari ketidakpastian masih tinggi. Dalam sebulan terakhir kasus infeksi harian Covid-19 secara global meningkat 25%. Amerika Serikat dan India menjadi hotspot. Dengan risiko tersebut, pasar keuangan domestik masih berpeluang bergerak dengan volatilitas tinggi. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading