Internasional

Korsel Masuk Klub Elite Jet Supersonik, RI Piye Pak Prabowo?

News - tahir saleh, CNBC Indonesia
10 April 2021 09:26
Proyek Jet Tempur KFX. (Photo via Korea Aerospace Industries Ltd.(KAI))

Jakarta, CNBC Indonesia - Korea Selatan (Korsel) resmi meluncurkan prototipe jet tempur supersonik buatan dalam negeri yakni jet KF-21, pada Jumat (9/4/2021) dan menjadikannya masuk dalam klub eksklusif penerbangan militer di pasar global.

Dengan program senilai US$ 5,2 miliar atau setara dengan Rp 75 triliun (kurs Rp 14.500/US$), pemerintah Korsel berharap proyek ini akan menopang ekspor dengan nilai tinggi dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Setelah beroperasi, jet KF-21 akan dipersenjatai dengan berbagai rudal udara-ke-udara dan udara-ke-permukaan - dan bahkan mungkin rudal jelajah yang diluncurkan dari udara. Pesawat tempur bermesin ganda akan datang dalam versi satu dan dua kursi, tergantung pada misi yang akan dijalankan.


"Ketika tes terakhir selesai di masa depan, Korsel akan menjadi negara kedelapan di dunia yang telah mengembangkan pesawat tempur supersonik canggih," kata pernyataan pemerintah Korsel, dilansir CNN International, Sabtu (10/4/2021).

Negara-negara tersebut adalah Amerika Serikat, Rusia, Cina, Jepang, Prancis, Swedia dan konsorsium Eropa dari Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol.

Dari jumlah tersebut, hanya AS dan China yang telah mengerahkan jet tempur generasi kelima buatan dalam negeri - pesawat yang menampilkan teknologi siluman, kemampuan pengacau radar, dan avionik canggih yang mengintegrasikan data onboard dan jarak jauh untuk memberi pilot gambaran real-time yang lengkap tentang operasi mereka, menurut Pusat Kompetensi Kekuatan Udara Gabungan NATO.

"Era baru pertahanan independen telah dimulai, dan ini merupakan tonggak bersejarah dalam pengembangan industri penerbangan [Korea Selatan]," kata Presiden Korsel Moon Jae-in pada peluncuran KF-21, yang dijuluki Boramae, artinya "young hawk yang dilatih untuk berburu", di pabrik produksi Korea Aerospace Industries (KAI) di Sacheon, Provinsi Gyeongsang Selatan, dilansir CNN.

KF-21 adalah proyek bersama antara Korsel dan Indonesia di mana Seoul memiliki 80% saham, sementara Jakarta memegang 20%.

Korea Selatan mengatakan Indonesia telat dalam pembayaran dalam proyek tersebut, tetapi negosiasi terus berlanjut dan Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto juga hadir dalam peluncuran di Jumat itu.

Menhan Prabowo Hadiri Peluncuran Pesawat Jet Tempur KFX di Korea Selatan (Tangkapan Layar via Kemhan)Foto: Menhan Prabowo Hadiri Peluncuran Pesawat Jet Tempur KFX di Korea Selatan (Tangkapan Layar via Kemhan)
Menhan Prabowo Hadiri Peluncuran Pesawat Jet Tempur KFX di Korea Selatan (Tangkapan Layar via Kemhan)

Program pengembangan pesawat tempur yang juga disebut KFX/IFX ini sebetulnya dimulai sejak era Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan dilanjutkan oleh Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) sebagai program nasional.

Berdasarkan data Alman Helvas Ali, konsultan defense industry and market pada PT Semar Sentinel, dalam artikel opininya di CNBC Indonesia, disebutkan bahwa saat itu SBY memutuskan Indonesia bermitra dengan Korea Selatan untuk pengembangan pesawat tempur generasi 4.5 yang dikenal sebagai KFX. Kerja sama demikian sangat masuk akal karena program itu memerlukan biaya yang sangat besar, sementara pasarnya sangat tersegmentasi dan penuh persaingan ketat.

Joint engineering and development agreement KFX/IFX diteken pada Oktober 2014 di Surabaya, Jawa Timur. Pemerintah Korsel menanggung 60% pembiayaan, 20% menjadi beban Korea Aerospace Industries (KAI), sedangkan Indonesia membiayai sisanya, yaitu 20%.

Sesuai dengan perjanjian pada November 2015 antara pemerintah Indonesia dan KAI, dari KRW 8,8 triliun (US$ 7,9 milyar) total nilai program KFX/IFX, Indonesia sepakat menanggung KRW 1,7 triliun (US$ 1,5 miliar).

Program KFX/IFX mulai mengalami kemacetan dari sisi Indonesia sejak 2017 dalam hal pembayaran kewajiban.

Sesuai CSA, pembayaran rutin program KFX/IFX dilakukan dua kali setahun, yaitu pada April dan Oktober. Hingga Juli 2019, Indonesia telah membayar KRW 227,2 miliar dari total kewajiban KRW 1,7 triliun dan pada Oktober 2020 masih menunggak KRW 600 miliar.

Lebih lanjut, Presiden Korsel, Moon mengatakan setelah uji coba darat dan penerbangan selesai, produksi massal KF-21 akan dimulai dengan target 40 jet yang akan dikirimkan pada 2028 dan sebanyak 120 unit pada 2032.

"Ketika produksi massal skala penuh dimulai, 100.000 pekerjaan tambahan akan tercipta dan kami akan memiliki nilai tambah 5,9 triliun won Korea [US$ 5,2 miliar]. Efeknya akan jauh lebih besar jika diekspor," kata Moon.

Menurut data Defense Acquisition Program Administration (DAPA), Korea Selatan diharapkan bisa memproduksi enam prototipe KF-21 untuk pengujian dan pengembangan, tiga yang pertama akan selesai pada akhir tahun ini dan tiga berikutnya pada paruh pertama tahun 2022.

Sementara DAPA menyebut KF-21 sebagai jet tempur generasi 4.5 karena tidak memiliki, misalnya, ruang senjata internal yang meningkatkan kemampuan siluman, para analis mengatakan pesawat itu mungkin dapat terbang lebih tinggi dan lebih cepat daripada pesawat tempur generasi kelima terbaru buatan AS, F-35, dan masih membawa beban senjata yang kuat.

"KF-21 adalah pesawat tempur pertama yang dibuat dengan teknologi dalam negeri, dan ini menunjukkan bahwa Korea Selatan sekarang mampu membangun pesawat tempur sendiri. Ini juga akan menjadi batu loncatan untuk mengembangkan pesawat tempur yang lebih baik dan mengoperasikan senjata yang dikembangkan secara lokal," kata pernyataan DAPA kepada CNN.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading