Mudik Dilarang, Begini Derita Pemilik Jalan Tol

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
06 April 2021 18:05
presmian Jalan tol Pamulang/Dok. Sekpres

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan pemerintah meniadakan mudik Lebaran pada periode 6 hingga 17 Mei 2021 turut diantisipasi pengelola jalan tol. Sebabnya, kebijakan tersebut berpotensi menurunkan volume trafik jalan tol.

Head of Investor Relation PT Astra International Tbk (ASII), Tira Ardianti menjelaskan, kinerja jalan tol sangat bergantung dari pendapatan dari volume trafik jalan tol. Saat ini, Grup Astra, melalui Astra Infra, akan mengikuti kebijakan yang diterapkan pemerintah untuk mengendalikan pandemi Covid-19.

"Kita lihat kembali nanti bagaimana perkembangan pembatasan yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi pandemi ini," kata Tira, saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (6/4/2021).


Namun, kata Tira, untuk mengantisipasi penurunan volume trafik tersebut, Grup Astra akan fokus menerapkan efisiensi biaya operasional. Langkah mengencangkan ikat pinggang ini dilakukan agar tetap bertahan di situasi yang masih sulit akibat pandemi.

"Mengelola biaya biaya secara cermat itu jadi salah satu strategi Grup Astra. Kita tidak bisa mengendalikan demand karena situasi pandemi banyak unsur tidak pastinya," katanya.

Jika kebijakan mudik kembali diterapkan seperti tahun lalu, maka, volume trafik di ruas tol besar yang dilintasi pemudik berpotensi turun signfikan seperti di ruas tol Trans Jawa, Tol Cipularang, Tol Trans Sumatra, dan tol yang terintegrasi dengan tiga tol tersebut.

Hal ini misalnya terefleksi dari penurunan pendapatan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) sepanjang tahun 2020 sebesar 47,98% menjadi Rp 13,70 triliun dari periode tahun 2019 sebesar Rp 26,34 triliun.

Rinciannya, pendapatan tersebut terdiri dari pendapatan tol sebesar Rp 8,76 triliun, turun dari tahun sebelumnya Rp 10,13 triliun. Pendapatan konstruksi Rp 4,11 triliun yang juga anjlok dari sebelumnya Rp 15,36 triliun. Sedangkan, pendapatan usaha lainnya memberikan kontribusi sebesar Rp 824,73 miliar.

Hal ini, menyebabkan laba bersih JSMR tahun lalu turun 77,3% menjadi Rp 501,05 miliar dari tahun sebelumnya Rp 2,20 triliun.

Corporate Secretary Jasa Marga, M Agus Setiawan menjelaskan, perseroan masih konsisten menjaga kinerja usaha di tengah pandemi Covid-19 yang turut berdampak terhadap bisnis perseroan dan juga peningkatan beban bunga seiring dengan pengoperasian jalan tol baru.

Agus melanjutkan, hal ini terefleksi dari perolehan laba bersih sebesar Rp 501,05 miliar. Lebih lanjut, perseroan juga tetap mampu mempertahankan Margin EBITDA tetap stabil sebesar 62,42 % atau di level Rp 5,98 triliun, dengan melakukan berbagai efisiensi untuk dapat mengimbangi penurunan volume lalu lintas dan pendapatan tol sebagai imbas dari diterapkannya kebijakan Work From Home (WFH) dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai daerah pada kuartal II dan III tahun 2020.

"Kebijakan tersebut yang menyebabkan terjadinya penurunan pendapatan tol perseroan pada tahun 2020 menjadi sebesar Rp 8,76 triliun," katanya, dalam keterangan pers, Selasa (30/3/2021).


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading