Saham BUMN Karya Kena Double Jab, ARB & Diobral Asing

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
05 April 2021 16:12
Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan Seksi 1-3 Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) sepanjang 33 Km dapat dilalui fungsional pada arus mudik tahun 2020. Untuk penyelesaian konstruksi keseluruhan sepanjang 61,5 Km, ditargetkan rampung akhir tahun 2020. (Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR) Foto: Tol Cisumdawu (Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham emiten BUMN Karya ditutup kompak terpuruk hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) pada perdagangan hari ini, Senin (5/4/2021). Amblesnya saham-saham tersebut juga dibayangi oleh aksi jual bersih (net sell) oleh asing.

Setidaknya ada dua sentimen utama yang memengaruhi ambruknya saham-saham emiten konstruksi pelat merah hari ini.

Pertama, kinerja keuangan sepanjang tahun lalu yang jeblok. Kedua, terkait komentar eks Menteri BUMN Dahlan Iskan soal kinerja sejumlah BUMN Karya yang tak memuaskan, di tengah gencarnya proyek infrastruktur.


Berikut gerak saham-saham BUMN Karya pada hari ini:

  1. Pembangunan Perumahan (PTPP), saham -6,91%, ke Rp 1.280, net buy Rp4,34 M

  2. Wijaya Karya Beton (WTON), -6,88%, ke Rp 298, net sell Rp 561,52 juta

  3. Wijaya Karya (WIKA), -6,84%, ke Rp 1.430, net buy Rp 1,15 miliar

  4. Adhi Karya (ADHI), -6,70%, ke Rp 1.045, net sell Rp 1,06 miliar

  5. Waskita Karya (WSKT), -6,64%, ke Rp 1.055, net sell Rp 609,85 juta

  6. Waskita Beton Prekast (WSBP), -6,60% ke Rp 198, net sell Rp 560,47 juta

  7. Wijaya Karya Bangunan Gedung (WEGE), -4,85%, ke Rp 196, net sell Rp 70,21 juta

  8. Jasa Marga (JSMR), -0,48%, ke Rp 4.100, net sell Rp 429,52 juta

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), ada enam emiten konstruksi pelat merah yang menyentuh ARB, yakni PTPP, WTON, WIKA, ADHI, WSKT dan WSBP.

Adapun 6 dari 8 saham BUMN Karya dilego ramai-ramai oleh asing pada perdagangan di awal pekan ini.

Dari daftar di atas, saham PTPP menjadi yang paling ambles di antara saham lainnya, yakni sebesar 6,91% ke Rp 1.280/saham dengan nilai transaksi Rp 52 miliar.

Dengan pelemahan ini, alhasil PTPP hanya satu kali mencatatkan penguatan dalam sepekan, yakni pada Kamis pekan lalu (1/4) ketika ditutup naik 0,36% ke Rp 1.375/saham.

Praktis, dalam sepekan saham PTPP sudah ambles 14,38%, sementara dalam sebulan sudah anjlok 19,75%.

Sementara, di peringkat dua dan tiga ada anak usaha WIKA, WTON, beserta sang induk yang sama-sama menyentuh ARB.

WTON ambrol 6,88% ke Rp 298/saham, sementara WIKA anjlok 6,84% ke Rp 1.430/saham.

Dengan pelemahan ini saham WIKA belum pernah menguat di zona hijau, alias hanya satu kali stagnan pada Kamis (1/4) dan empat kali di zona merah.

Dalam sepekan saham WIKA sudah anjlok 11,46% dan ambrol 18,05% dalam sebulan.

Adapun saham yang paling banyak dijual asing adalah ADHI. ADHI mencatatkan net sell Rp 1,06 miliar. Praktis, hal tersebut menjadikan saham emiten kontraktor proyek kereta LRT Jabodebek ini menjadi salah satu saham yang paling banyak dilego asing pada hari ini.

WSKT juga kembali ambles pada hari ini, setelah menyentuh ARB 6,64% ke Rp 1.005/saham. Pelemahan saham ini diwarnai aksi jual bersih oleh asing sebesar Rp 609,85 juta.

Dengan demikian, WSKT melanjutkan tren pelemahan sejak 11 hari lalu. Alhasil, saham WSKT sudah ambles 21,85% dalam sepekan, sementara dalam sebulan sudah terjun 26,22%.

Kinerja fundamental emiten konstruksi pelat merah memang tertekan sepanjang tahun lalu, bahkan ada satu perusahaan yang membukukan rugi bersih sangat dalam di antara yang lainnya.

Emiten tersebut ialah PT Waskita Karya Tbk (WSKT) yang pada tahun 2020 terpaksa membukukan rugi bersih Rp 7,38 triliun.

Berbeda dengan WSKT, saudaranya sesama BUMN Karya WIKA masih mampu membukukan untung bersih di tahun 2020 sebesar Rp 185,76 miliar. Tidak merugi memang, akan tetapi angka ini turun 92% dari laba bersih tahun 2019, Rp 2,28 triliun.

Sementara, PTPP, bernasib sama dengan WIKA yang masih mampu membukukan laba bersih meski anjlok parah dari tahun lalu, PTPP berhasil meraup 'cuan' Rp 128 miliar tahun ini, turun 86% dari posisi tahun lalu.

Contoh lainnya, JSMR juga mencatatkan penurunan laba bersih yang cukup signifikan pada periode sepanjang tahun 2020.

Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 501,05 miliar sampai dengan 31 Desember 2020 atau turun 77,3% dari tahun sebelumnya Rp 2,20 triliun.

Selain itu, investor tampaknya merespons tulisan mantan Menteri BUMN era 2011-2014 Dahlan Iskan yang berjudul Haus Kerongkongan. Gegap gempita pembangunan proyek infrastruktur, rupanya menjadi beban berat bagi emiten konstruksi.

"Pekerjaan infrastruktur memang gegap gempita tahun-tahun terakhir. Tapi bisnis tetaplah bisnis: punya perilakunya sendiri. Dan perilaku itu bersumber dari satu napas: uang," ujar Dahlan dikutip Jumat (2/4/2021) dari blog resminya Disway.id.

Menurut Dahlan sekuat-kuatnya BUMN konstruksi di Indonesia tetap harus mengandalkan sumber dana dari pihak ketiga. Baik itu dari perbankan, obligasi, atau right issue di pasar modal.

"Beberapa kali saya berharap lewat Disway bulan-bulan lalu: semoga SWF segera jalan. Dan dana dari Amerika, Uni Emirat Arab, Jepang dan Kanada itu segera masuk ke SWF. Ada yang sudah kehausan sampai kerongkongan," tutur Dahlan.

 


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading