Sentimen Pasar Memburuk Buat Harga SBN Kompak Menguat

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
24 March 2021 18:29
US Treasury, Bond, Obligasi (Ilustrasi Obligasi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) pada Rabu (24/3/2021) kompak ditutup menguat, di tengah pelemahan kembali bursa saham Asia dan dalam negeri akibat memburuknya sentimen terkait lonjakan kasus virus corona di Eropa dan ketegangan China dengan negara sekutu Amerika Serikat (AS).

Semua tenor SBN acuan (benchmark) kembali dikoleksi oleh investor, ditandai dengan penurunan imbal hasil (yield) di semua SBN acuan. Untuk yield SBN seri FR0087 dengan tenor 10 tahun yang merupakan yield acuan obligasi negara kembali turun sebesar 3,7 basis poin (bp) ke level 6,736%.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.


Harga SBN yang menguat dan yield SBN yang turun terjadi seiring dari penurunan yield obligasi pemerintah AS yang kembali terjadi pada sore hari ini waktu Indonesia. Berdasarkan data dari situs World Government Bond, yield surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun kembali turun 0,7 bp ke level 1,615%.

Sementara itu, selisih (spread) antara yield SBN tenor 10 tahun dengan yield Treasury AS berjatuh tempo 10 tahun pada sore hari ini sebesar 520,6 bp. Penurunan yield SBN terjadi di tengah kembali melemahnya bursa global, regional (Asia) dan dalam negeri hari ini, sehingga investor cenderung beralih ke pasar obligasi dan membuat harga SBN menguat.

Sentimen negatif yang membuat bursa saham global dan dalam negeri kembali ambruk adalah terkait kembali melonjaknya kasus aktif virus corona (Covid-19) di sebagian negara di Eropa dan ketegangan antara China dengan sekutu Amerika Serikat (AS) terkait sanksi kepada pejabat China terhadap pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mencatat jumlah pasien positif corona di Benua Biru per 23 Maret 2021 adalah 42.870.334 orang. Bertambah 162.860 orang dari hari sebelumnya.

Selama dua pekan terakhir, rata-rata tambahan pasien baru adalah 198.751 orang per hari. Melonjak dibandingkan rerata 14 hari sebelumnya yakni 162.341 orang per hari.

Oleh karena itu, Eropa kini dinilai sudah terpukul oleh gelombang serangan ketiga (third wave outbreak) virus corona. Gelombang yang membuat sejumlah negara kembali memperketat pembatasan sosial (social distancing).

Mulai akhir pekan lalu, Prancis memberlakukan karantina wilayah (lockdown) di tujuh wilayah, termasuk ibu kota Paris. Lockdown akan berlaku selama sebulan. Selain itu, berlaku jam malam secara nasional yaitu pada pukul 19:00.

Di Jerman, Kanselir Angela Merkel memutuskan untuk memperpanjang lockdown hingga 18 April 2021. Warga Negeri Panser diminta untuk tetap di rumah selama libur Hari Paskah. "Kita sedang menghadapi serangan pandemi gelombang baru. Virus mutasi Inggris menjadi dominan," kata Merkel, seperti dikutip dari Reuters.

Selain itu, ketegangan antara China vs AS dan sekutu AS, (Uni Eropa, Inggris, dan Kanada) yang memberlakukan sanksi kepada pejabat pemerintah China yang dituding terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis minoritas di Xinjiang juga menjadi pemberat bursa saham di Asia hari ini.

"Di tengah kecaman internasional, (China) terus melakukan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Xinjiang," tegas Antony Blinken, Menteri Luar Negeri AS, dalam keterangan tertulis bersama.

"Sudah banyak bukti yang menunjukkan adanya pelanggaran hak asasi manusia secara sistemik oleh otoritas China," tambah pernyataan Kementerian Luar Negeri Kanada.

Uni Eropa telah terlebih dahulu menjatuhkan sanksi kepada empat orang pejabat pemerintahan China dan satu institusi. Sanksi yang dikenakan adalah larangan masuk dan pembekuan aset.

Hal itu membuat China murka dan tidak menerima akan hal tersebut sehingga pihak Beijing langsung membalas dengan memberlakukan sanksi kepada sejumlah anggota parlemen Uni Eropa, Komite Politik dan Keamanan Uni Eropa, serta dua institusi lainnya.

"Sanksi terhadap kami didasari atas dusta dan tidak dapat diterima," tegas Wang Yi, Menteri Luar Negeri China, seperti dikutip dari Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading