Pasar Saham Regional dan RI Tertekan, Harga SBN Mulai Menguat

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
23 March 2021 18:13
US Treasury, Bond, Obligasi (Ilustrasi Obligasi)

Jakarta, CNBCIndonesia - Harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) pada perdagangan Selasa (23/3/2021) ditutup menguat, di tengah penurunan kembali imbal hasil obligasi acuan pemerintah Amerika Serikat (AS) pada sore hari ini waktu Indonesia dan menyusul kenaikan kembali kasus Covid-19 di beberapa tempat.

Mayoritas SBN hari ini ramai dikoleksi oleh investor, ditandai dengan penurunan imbal hasilnya (yield), kecuali SBN tenor 3 tahun dan 25 tahun yang cenderung dilepas oleh investor. SBN tenor 3 tahun berseri FR0039 mencetak kenaikan yield sebesar 2 basis poin (bp) ke 5,346%, sedangkan yield SBN tenor 25 tahun seri FR0067 naik 7,2 bp ke 7,598%.

Sementara untuk yield SBN seri FR0087 dengan tenor 10 tahun yang merupakan yield acuan obligasi negara kembali turun sebesar 3,7 bp ke level 6,773%. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.


Menurunnya kembali yield SBN pada hari ini karena investor SBN menanggapi positif terkait penurunan yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang kembali terjadi pada sore hari ini waktu Indonesia.

Berdasarkan data dari situs World Government Bond, yield surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun kembali turun 3,9 bp ke level 1,656%. Sementara itu, selisih (spread) antara yield SBN tenor 10 tahun dengan yield Treasury AS berjatuh tempo 10 tahun pada sore hari ini sebesar 519,2 bp.

Penurunan yield SBN terjadi di tengah pelemahan bursa saham regional (Asia) dan dalam negeri hari ini. Sentimen negatif yang membuat bursa saham Asia berjatuhan pada hari ini adalah sanksi negara-negara barat kepada China pada hari ini.

Negara-negara barat seperti Amerika Serikat (AS), Uni-Eropa (UE), Inggris, dan Kanada menjatuhkan sanksi kepada pejabat China atas pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Xinjiang dan Beijing. UE telah terlebih dahulu menjatuhkan sanksi sebelum AS, Inggris, dan Kanada.

Hal ini terkait klaim perlakuan Beijing ke kelompok minoritas termasuk Muslim Uighur. Barat menyebut China melakukan penahanan massal etnis minoritas ini di barat laut bahkan melakukan genosida. indakan signifikan itu adalah yang pertama sejak 1989. Ini menjadi simbol eskalasi kebijakan Brussels yang mulai keras ke isu HAM China.

Selain itu, kenaikan kasus virus corona (Covid-19) yang terjadi di beberapa negara juga menjadi pendorong penurunan yield SBN. Di beberapa negara Eropa, kasus terjangkit virus corona (Covid-19) dilaporkan kembali melonjak. Hal ini tentunya membuat karantina wilayah (lockdown) kembali di lakukan di beberapa negara Eropa.

Sebagian daerah di Prancis kembali mengalami pembatasan kegiatan sosial dan pejabat pemerintahan Jerman memberikan isyarat bahwa pembatasan serupa yang kini dijalankan kemungkinan akan diperpanjang lagi.

Inggris bakal genap setahun memberlakukan lockdown terbatas pada hari ini, di mana 126.000 jiwa melayang akibat virus asal Wuhan, China tersebut.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading