Newsletter

Pesta Sudah Kelar Mas Bro, Waspadai Volatilitas Masih Tinggi!

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
19 March 2021 06:21
Kondisi papan perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (9/2/2018). IHSG hari ini bergerak negatif karena respon sentimen anjloknya bursa saham Amerika hingga 4,15%. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan nasional ceria pada perdagangan Kamis (18/3/2021), kecuali pasar obligasi yang masih senewen dengan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Di hari perdagangan terakhir pekan ini, volatilitas masih membayang.

Kemarin, rupiah berhasil menghentikan penurunan 3 hari beruntun melawan dolar Amerika Serikat (AS). Melansir data Refinitiv, rupiah langsung melesat 0,52% ke level terkuat sepanjang hari pada Rp 14.350/US$.


Penguatan rupiah sempat terpangkas hingga tersisa 0,17%, sebelum kembali terakselerasi dan mengakhiri perdagangan di Rp 14.390/US$, atau menguat 0,24%. Hingga pukul 15:07 WIB, ringgit Malaysia menjadi yang terbaik di Asia dengan penguatan 0,27%, diikuti rupiah.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung dibuka di jalur hijau, dan konsisten berada di sana hingga penutupan. Indeks acuan bursa nasional ini naik 70,6 poin atau 1,12% ke 6.347,829.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 11,3 triliun dan investor asing menyerbu saham nasional dengan pembelian bersih (net buy) senilai Rp 680,3 miliar di pasar reguler. Terpantau 239 saham melesat, 236 lain terkoreksi, dan 168 sisanya stagnan.

Penguatan terjadi setelah bank sentral AS memberikan outlook ekonomi yang cerah. Federal Reserve (The Fed) juga berjanji kebijakan uang longgar bakal dipertahankan hingga 2023, meski inflasi naik melewati level 2% yang selama ini jadi acuan untuk menilai bahwa mesin ekonomi mulai kepanasan (overheated).

Pada sesi pertama, reli tercatat di kisaran 0,9%. Selanjutnya pada sesi kedua, reli bertambah lagi setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan, sesuai dengan ekspektasi pasar.

"Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 Maret 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,5%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan suku bunga acuan tersebut bertahan di 3,5%. Seluruh institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus memperkirakan tidak ada perubahan.

Namun sayangnya, yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) kembali naik. Berdasarkan data World Government Bond, yield surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun naik 8,4 bp ke level 1,73%, yang merupakan rekor tertingginya sejak Januari 2020.

Kenaikan yield Treasury dapat memicu capital outflow di pasar obligasi Indonesia, sebab selisih dengan yield Surat Berharga Negara (SBN) menjadi menyempit. Kini selisih (spread) antara Treasury tenor 10 tahun dengan SBN berjatuh tempo 10 tahun sebesar 511,7 bp.

Akibatnya, harga mayoritas obligasi pemerintah kembali ditutup melemah yang terlihat dari kenaikan yield-nya, kecuali untuk yang bertenor 5, 10, dan 20 tahun. Kenaikan yield tertinggi terjadi pada Surat Berharga Negara (SBN) tenor 1 tahun sebesar 1,5 basis poin ke 3,999%.

Namun yield SBN seri FR0087 tenor 10 tahun (yang merupakan acuan obligasi negara) turun sebesar 0,5 bp ke level 6,752%. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga kenaikan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang melemah, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Ampun! Nasdaq Longsor hingga 3%
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading