Tenang.. Ketakutan Soal Taper Tantrum Masih Prematur

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
09 March 2021 13:38
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Taper tantrum kembali hangat menjadi perbincangan pasca kebijakan Amerika Serikat (AS) yang ekspansif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi tak sedikit menganggap hal tersebut dianggap masih prematur untuk dikhawatirkan.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Ekonom BCA David Sumual kepada CNBC Indonesia, Selasa (9/3/2021). David mengakui ada beberapa analisa yang menyebutkan kemungkinan terjadi di semester II-2021, namun tidak memiliki alasan yang cukup kuat.

"Jadi, kalau sekarang, menurut saya masih sangat preliminary, masih sangat prematur akan ada taper tantrum dalam waktu dekat. Saya belum melihatnya dalam setahun ini," kata David.


Alasannya, kata David, ekonomi AS belum akan pulih sepenuhnya dalam waktu dekat. Meskipun ada kebijakan yang sangat ekspansif dari sisi fiskal. Sehingga ketika ada kenaikan inflasi, Bank Sentral AS tidak akan serta merta langsung merespons dengan kebijakan moneter. David melihat batas aman inflasi oleh the Fed adalah 1,5-2%.

"Jadi, kalau misalnya di atas itu, the fed masih cukup fleksibel membiarkannya. Mungkin bisa di atas 2%, untuk memastikan betul bahwa pemulihannya sudah terjadi," jelasnya.

Meski demikian, David tidak menutup kemungkinan akan terjadinya di beberapa tahun lagi. Tapi biarpun terjadi, menurutnya dampak yang ditimbulkan tidak seperti yang dirasakan pada 2013. Ini mengingat kondisi fundamental ekonomi yang jauh lebih baik. Seperti cadangan devisa, keseimbangan transaksi berjalan, inflasi hingga utang pemerintah dan swasta.

"Meskipun terjadi, tapi saya nggak begitu khawatir jika dibandingkan 2013 fundamental emerging market, apalagi Indonesia jauh lebih baik," kata David

Berbeda dengan David, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira memandang pola taper tantrum yang terjadi di 2013 sudah mulai terasa.

Ketika indikator yield surat utang AS mengalami kenaikan, disertai dengan kenaikan inflasi karena perbaikan sisi permintaan di AS memicu investor untuk melakukan perombakan total portfolio.

"Saat ini terpantau yield Treasury telah naik dari 0,6% per Oktober 2020 menjadi 1,56% per 9 Maret 2021. Yield Treasury yang naik jadi alarm bahwa investor memiliki ekspektasi akan terjadi kenaikan level inflasi dalam waktu dekat," jelas Bhima kepada CNBC Indonesia.

Dampaknya tentu aliran modal asing yang masuk ke negara berkembang sejak adanya pandemi karena mencari return aset yang lebih tinggi bisa berhenti mendadak (sudden stop) atau berbalik arah (sudden reversal).

Sejauh ini yang perlu dikhawatirkan, kata Bhima ada dua yakni asing secara total melakukan penjualan bersih saham atau nett sells di pasar modal sebesar Rp 1,23 triliun dalam 1 bulan terakhir. Sementara di pasar surat utang pemerintah, kepemilikan asing sudah mulai turun Rp 29,5 triliun dalam satu bulan terakhir.

"Apakah taper tantrum bisa terjadi lebih cepat pada semester I 2021, sangat mungkin. Kita tidak bisa menyangkal taper tantrum tidak terjadi, yang perlu dilakukan otoritas moneter dan pemerintah adalah melakukan antisipasi," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

RI Harus Pulih Dulu Sebelum AS Daripada Ketiban Sial


(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading