Ini 3 Musuh Utama Emas: Yield Obligasi, Dolar AS & Dead Cross

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
04 March 2021 09:05
FILE PHOTO: An employee sorts gold bars in the Austrian Gold and Silver Separating Plant 'Oegussa' in Vienna, Austria, December 15, 2017.  REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas jatuh dan semakin mendekati level psikologis US$ 1.700/troy ons. Kendati menguat 0,21% ke US$ 1.715/troy ons pagi ini, Kamis (4/3/2021), harga si logam kuning sebenarnya masih tertekan hebat. 

Sejak awal minggu ini saja harga emas sudah melorot 0,5%. Namun apabila ditarik lebih jauh, harga emas anjlok 3,1% dibanding penutupan Kamis pekan lalu atau tepat satu minggu ke belakang. 

Harga emas saat ini juga berada di bawah rata-rata harga 50 dan 200 hariannya. Pada pertengahan Februari lalu rata-rata harga emas untuk periode 50 harian sudah mulai berada di bawah rata-rata harga 200 hariannya. Inilah yang disebut sebagai dead cross


Secara teknikal, dead cross merupakan suatu sinyal yang buruk bagi suatu harga aset karena biasanya memberi indikasi bahwa tren bearish akan terjadi. Terbukti, setelah pola dead cross muncul, harga emas cenderung terus tertekan.

Harga emas cenderung tertekan oleh kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan penguatan greenback. Yield nominal US Treasury bertenor 10 tahun naik dan tembus 1,5% akibat ekspektasi inflasi yang tinggi oleh pelaku ekonomi sehingga para investor meminta kompensasi lebih di pasar obligasi.

Yield obligasi pemerintah AS bahkan hampir menyamai dividend yield S&P 500 yang berada di 1,57%. Bayangkan saja imbal hasil dari obligasi yang cenderung lebih aman hampir menyamai aset berisiko seperti saham. 

Faktor inilah yang membuat Wall Street sempat goyah pada minggu lalu. Namun yield berangsur turun ketika bos The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa ekonomi masih jauh dari kata pulih secara sempurna. 

Inflasi masih jauh di bawah sasaran target 2%. Hanya saja kenaikan harga komoditas seperti minyak membuat banyak pihak mulai mengkhawatirkan reflasi bakal terjadi. Bagaimanapun juga kondisi makroekonomi saat ini masih bisa dibilang supportive untuk logam mulia emas.

Meskipun terjadi kenaikan yield secara nominal tetapi imbal hasil riil obligasi AS masih berada di teritori negatif. Artinya tidak ada perubahan berarti pada opportunity cost memegang emas sebagai aset tak berimbal hasil. 

Hanya saja risk appetite yang membaik dan investor yang agresif memburu aset-aset berisiko dengan cuan lebih tebal seperti saham teknologi hingga mata uang kripto seperti Bitcoin membuat emas cenderung dilupakan. Alhasil harganya drop seperti sekarang.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading